MEDIAINDONESIA.ASIA, DEPOK - Dahulu tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk
menjadi seorang guru. Sejak kecil, saya bercita-cita menjadi seorang tentara
yaitu sebuah profesi yang saya yakini sebagai bentuk pengabdian tertinggi terhadap
negara. Namun setelah lulus sekolah, saya justru dihadapkan pada kebingungan tentang
arah hidup yang saya tempuh. Di tengah ketidakpastian itu, saya tetap berusaha
mengejar impian dengan mendaftarkan diri sebagai calon tentara. Sambil menunggu
proses seleksi, saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga.
Namun perjalanan tersebut tidaklah mudah, saya harus berulang kali keluar dan
masuk pekerjaan karena proses pendaftaran yang panjang dan tidak bisa di
toleransi di tempat kerja.
Harapan demi harapan saya gantungkan pada setiap kesempatan. Hingga akhirnya, pada kesempatan terakhir yang saat itu juga menjadi batas usia saya untuk mendaftar tentara. Namun kenyataannya saya kembali dinyatakan tidak lolos. Saat itu saya merasa sangat terpukul karena harapan yang saya impikan ternyata tidak berjalan sesuai apa yang saya harapkan. Bukan hanya karena kegagalan, tetapi juga karena saya harus kehilangan pekerjaan yang sudah membuat saya merasa nyaman. Tapi dari titik terendah itulah, jalan baru mulai terbuka untuk saya.
Pada suatu waktu, ketika kegiatan saya mengajar ekstrakurikuler sedang libur. Disitu saya mendapatkan tawaran untuk menjadi pendamping dalam sebuah acara di sekolah anak berkebutuhan khusus. Awalnya, saya hanya menganggapnya sebagai cara untuk mengisi waktu luang. Saya tidak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana itu justru akan mengubah arah hidup saya.Hari itu menjadi pengalaman
pertama saya berinteraksi langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Ada
sesuatu yang berbeda yang saya rasakan. Sambutan hangat, ketulusan dan
antusiasme mereka membuat saya tersentuh dengan cara yang tidak bisa saya
jelaskan. Dari situlah muncul keinginan dalam diri saya untuk lebih dekat
dengan dunia mereka.
Keinginan itu perlahan berubah menjadi keputusan. Saya memberanikan diri untuk menawarkan diri bekerja di sekolah tersebut sebagai pendamping mereka. Setelah melalui proses pertimbangan, saya akhirnya diberikan kesempatan. Meskipun pada awalnya saya hanya mengisi di waktu-waktu tertentu. Namun semakin lama saya berada di lingkungan tesebut, saya merasa bahwa inilah tempat saya seharusnya berada. Saya pun memutuskan untuk berkomitmen lebih jauh. Akhirnya saya mengajukan diri untuk menjadi pendamping penuh waktu dan meninggalkan pekerjaan saya sebelumnya. Keputusan itu bukan hal yang mudah, mengingat saya pernah merasa gagal sebelumnya. Tetapi saya yakin bahwa saya sedang melangkah ke arah yang tepat.
Tantangan pertama yang saya hadapi adalah memahami karakter dan perilaku anak-anak yang sangat beragam. Ada yang sangat aktif, ada pula yang memilih diam dalam dunianya sendiri. Namun pada titik ini, saya menyadari bahwa menjadi pendidik bagi anak kebutuhan khusus bukan hanya soal mengajar, tetapi juga tentang memahami, menyesuaikan diri dan bersabar. Kesadaran itu mendorong saya untuk terus belajar. Lalu saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, agar dapat memperdalam pengetahuan dan pemahaman saya. Bagi saya menjadi pendidik berarti harus siap untuk terus berkembang.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa anak berkebutuhan khusus pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan anak-anak pada umumnya. Mereka sama-sama membutuhkan perhatian, kasih sayang dan bimbingan. Perbedaannya terletak pada cara kita mendekati dan mendampingi mereka. Saya belajar bahwa kesabaran adalah kunci utama. Mereka membutuhkan pendekatan yang lebih sederhana, lebih perlahan dan sering kali harus berulang. Dalam proses itu, saya juga belajar pentingnya melatih kemandirian mereka, agar suatu hari nanti mereka mampu menjalani kehidupan di tengah masyarakat dengan lebih percaya diri.
Kini saya menyadari bahwa
kegagalan saya menjadi tentara bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari
kegagalan itulah saya menemukan jalan yang sebelumnya tidak pernah saya
bayangkan. Menjadi seorang pendidik bagi anak berkebutuhan khusus bukan sekedar
pekerjaan bagi saya, melainkan sebuah panggilan hati. Saya ingin hadir bukan
hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pendamping dalam setiap proses mereka.
Saya percaya bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang
dan diterima tanpa perbedaan. Mulai perjalanan ini, saya belajar satu hal yang
sangat berharga: terkadang, jalan yang tidak kita rencanakan justru membawa kita pada tujuan yang paling bermakna
dalam hidup kita.
Penulis : Riyan Prastiyo
Editor : Lisa
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini







