Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Berita hari ini, Informasi Untuk Masa Depan

Iklan

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Translate

Celah Kesempatan Lain dari Harapan yang Hilang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 10:57:00 AM WIB Last Updated 2026-05-09T03:33:49Z

 

MEDIAINDONESIA.ASIA, DEPOK - Dahulu tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk menjadi seorang guru. Sejak kecil, saya bercita-cita menjadi seorang tentara yaitu sebuah profesi yang saya yakini sebagai bentuk pengabdian tertinggi terhadap negara. Namun setelah lulus sekolah, saya justru dihadapkan pada kebingungan tentang arah hidup yang saya tempuh. Di tengah ketidakpastian itu, saya tetap berusaha mengejar impian dengan mendaftarkan diri sebagai calon tentara. Sambil menunggu proses seleksi, saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Namun perjalanan tersebut tidaklah mudah, saya harus berulang kali keluar dan masuk pekerjaan karena proses pendaftaran yang panjang dan tidak bisa di toleransi di tempat kerja.

Harapan demi harapan saya gantungkan pada setiap kesempatan. Hingga akhirnya, pada kesempatan terakhir yang saat itu juga menjadi batas usia saya untuk mendaftar tentara. Namun kenyataannya saya kembali dinyatakan tidak lolos. Saat itu saya merasa sangat terpukul karena harapan yang saya impikan ternyata tidak berjalan sesuai apa yang saya harapkan. Bukan hanya karena kegagalan, tetapi juga karena saya harus kehilangan pekerjaan yang sudah membuat saya merasa nyaman. Tapi dari titik  terendah itulah, jalan baru mulai terbuka untuk saya.

Pada suatu waktu, ketika kegiatan saya mengajar ekstrakurikuler sedang libur. Disitu saya mendapatkan tawaran untuk menjadi pendamping dalam sebuah acara di sekolah anak berkebutuhan khusus. Awalnya, saya hanya menganggapnya sebagai cara untuk mengisi waktu luang. Saya tidak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana itu justru akan mengubah arah hidup saya.

Hari itu menjadi pengalaman pertama saya berinteraksi langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Ada sesuatu yang berbeda yang saya rasakan. Sambutan hangat, ketulusan dan antusiasme mereka membuat saya tersentuh dengan cara yang tidak bisa saya jelaskan. Dari situlah muncul keinginan dalam diri saya untuk lebih dekat dengan dunia mereka.


Keinginan itu  perlahan berubah menjadi keputusan. Saya memberanikan diri untuk menawarkan diri bekerja di sekolah tersebut sebagai pendamping mereka. Setelah melalui proses pertimbangan, saya akhirnya diberikan kesempatan. Meskipun pada awalnya saya hanya mengisi di waktu-waktu tertentu. Namun semakin lama saya berada di lingkungan tesebut, saya merasa bahwa inilah tempat saya seharusnya berada. Saya pun memutuskan untuk berkomitmen lebih jauh. Akhirnya saya mengajukan diri untuk menjadi pendamping penuh waktu dan meninggalkan pekerjaan saya sebelumnya. Keputusan itu bukan hal yang mudah, mengingat saya pernah merasa gagal sebelumnya. Tetapi saya yakin bahwa saya sedang melangkah ke arah yang tepat.

Tantangan pertama yang saya hadapi adalah memahami karakter dan perilaku anak-anak yang sangat beragam. Ada yang sangat aktif, ada pula yang memilih diam dalam dunianya sendiri. Namun pada titik ini, saya menyadari bahwa menjadi pendidik bagi anak kebutuhan khusus bukan hanya soal mengajar, tetapi juga tentang memahami, menyesuaikan diri dan bersabar. Kesadaran itu mendorong saya untuk terus belajar. Lalu saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan, agar dapat memperdalam pengetahuan dan pemahaman saya. Bagi saya menjadi pendidik berarti harus siap untuk terus berkembang.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa anak berkebutuhan khusus pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan anak-anak pada umumnya. Mereka sama-sama membutuhkan perhatian, kasih sayang dan bimbingan. Perbedaannya terletak pada cara kita mendekati dan mendampingi mereka. Saya belajar bahwa kesabaran adalah kunci utama. Mereka membutuhkan pendekatan yang lebih sederhana, lebih perlahan dan sering kali harus berulang. Dalam proses itu, saya juga belajar pentingnya melatih kemandirian mereka, agar suatu hari nanti mereka mampu menjalani kehidupan di tengah masyarakat dengan lebih percaya diri.

Kini saya menyadari bahwa kegagalan saya menjadi tentara bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari kegagalan itulah saya menemukan jalan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan. Menjadi seorang pendidik bagi anak berkebutuhan khusus bukan sekedar pekerjaan bagi saya, melainkan sebuah panggilan hati. Saya ingin hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pendamping dalam setiap proses mereka. Saya percaya bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang dan diterima tanpa perbedaan. Mulai perjalanan ini, saya belajar satu hal yang sangat berharga: terkadang, jalan yang tidak kita rencanakan justru  membawa kita pada tujuan yang paling bermakna dalam hidup kita.

Penulis : Riyan Prastiyo

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

----------------------------------------------------------------------------------------------------

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" " PT. MEDIA PERS INDONESIA " "