MEDIAINDONESIA.ASIA, BANGKOK - Di tepi Laut Andaman, Chaiyaporn Arunrasamee sedang merapikan jaring ikannya. Perairan tempat dia mencari nafkah itu kini masuk dalam rencana ambisius pemerintah Thailand untuk membangun proyek "Land Bridge" yang akan menghubungkan pelabuhan di dua sisi semenanjung.
"Secara pribadi, saya sama sekali tidak ingin proyek itu terwujud," kata Chaiyaporn mengenai proyek yang kembali dihidupkan Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul setelah perang Iran dan penutupan Selat Hormuz, jadi pembahasan soal ketergantungan banyak negara terhadap jalur pelayaran strategis dunia.
Pemerintah Thailand merancang koridor logistik senilai 1 triliun baht (sekitar Rp 495 triliun). Proyek tersebut ditawarkan sebagai jalur alternatif bagi Selat Malaka yang padat dengan menghubungkan dua pelabuhan laut dalam baru, yakni Chumphon di Teluk Thailand dan Ranong di pesisir Laut Andaman.
Ranong merupakan tempat Chaiyaporn yang kini berusia 50 tahun menghabiskan seluruh hidupnya sebagai nelayan.
"Proyek ini akan dibangun di kawasan tempat kami mencari nafkah," ujarnya bulan lalu di Baan Hat Sai Dam, sebuah kampung nelayan kecil di pulau yang dikelilingi hutan bakau.
"Kalau begitu, kami harus pergi ke mana?"
Reuters menelusuri wilayah dan komunitas yang berada di jalur proyek Kanal Kra serta mewawancarai lebih dari 15 warga, pejabat daerah, pakar, perencana proyek, dan pihak lain yang terlibat maupun terdampak.
Wawancara tersebut, termasuk beberapa dokumen pemerintah yang ditinjau Reuters, mengungkap sejumlah rincian yang sebelumnya belum dipublikasikan mengenai proyek yang menjanjikan penghematan biaya logistik dan percepatan pengiriman barang. Selain itu, proyek tersebut juga menghadapi persoalan logistik yang rumit, penolakan masyarakat, dan biaya pembangunan sangat besar yang hingga kini belum berhasil menarik investor utama.
Para pakar menilai proyek tersebut masih sangat ambisius secara ekonomi dan kecil kemungkinan mampu bersaing dengan Selat Malaka sebagai jalur transit global. Namun, proyek itu dinilai tetap berpotensi menjadi koridor strategis berskala lebih kecil bagi Thailand.
Selat Malaka sepanjang sekitar 900 kilometer yang diapit Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura merupakan jalur laut terpendek yang menghubungkan Asia Timur dengan Timur Tengah dan Eropa.
"Land Bridge pada akhirnya dapat berkembang menjadi aset keamanan nasional yang dibangun secara bertahap untuk menjamin keamanan jalur energi domestik sekaligus meningkatkan kemampuan ekspor Thailand melalui wilayah baratnya," kata Eugene Mark dari ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura.
Laporan : Titi. S
Editor : Andi
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini





