BALI, MEDIAINDONESIA.asia - Rombongan turis asal Jepang diduga mencuri lebih dari 20 pakaian dari pedagang di kawasan toko pakaian, Jalan Kajeng Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Aksi mereka terekam CCTV toko.
"Sekitar 12 orang. Curiga saya ada hanger di sana, (sebelumnya) tidak pernah pasang hanger. (Yang hilang) sekira 20," kata penjaga toko Nyoman Jonathan. (9/12/2025).
Dalam rekaman CCTV yang beredar, terlihat sejumlah turis diduga dari Jepang mendatangi toko pakaian.
Mereka segera menyebar ke berbagai sudut toko. Terlihat beberapa ada sibuk memilih pakaian, kemudian ada yang pergi meninggalkan toko.
Kasus ini terungkap setelah penjaga toko mulai curiga ketika melihat gantungan pakaian kosong namun tidak ada transaksi penjualan.
Setelah dilakukan pengecekan, diketahui lebih dari 20 pakaian hilang. Kasus ini ditangani oleh Polsek Ubud. Polisi juga bekerja sama dengan Imigrasi.
"Kami menerima laporan dari masyarakat adanya pencurian di kos Ubud. Dilakukan wisatawan asing. Sudah dilakukan tindak lanjut," kata Kapolsek Ubud Kompol Putra Antara.
Pada Senin, 8 Desember 2025, Fumio Inui, Kepala Sekolah SMP dan SMA Otani, Kyoto, tempat sejumlah turis Jepang itu bersekolah, merilis pernyataan. Mereka mengonfirmasi bahwa siswanya terlibat dalam kasus pencurian di Bali pada 4 Desember 2025.
"Pertama-tama, kami ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan dan kekhawatiran yang ditimbulkan kepada bisnis yang terdampak, masyarakat setempat, dan seluruh pemangku kepentingan setempat," bunyi pernyataan tertulis dalam bahasa Jepang itu.
Fumio melanjutkan dengan menyatakan bahwa pihaknya menanggapi insiden pencurian itu 'dengan sangat serius'. Ia mengaku pihaknya sedang menyelidiki fakta-fakta dengan saksama dan bekerja sama dengan instansi terkait untuk menangani situasi ini.
"Ini adalah tindakan serius yang tidak hanya dapat memengaruhi para korban, tetapi juga warga negara Jepang di luar negeri. Sebagai sekolah, kami menyadari perlunya meninjau kembali praktik bimbingan siswa kami secara serius. Kami akan melaporkan perkembangan dan kebijakan respons kami setelah kami mengonfirmasi situasi ini," sambungnya.
Di akhir pernyataan, ia mengingatkan soal spekulasi dan penyebaran informasi yang tidak dapat dipercaya di media sosial. "Mengunggah nama dan foto asli, serta fitnah dapat semakin merugikan mereka yang terlibat, jadi kami minta Anda untuk menanggapinya dengan hati-hati," ujarnya.
Laporan : Budi
Editor : Riska
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

