MEDIAINDONESIA.ASIA, SUKABUMI - Krisis gas LPG 3 Kg di Sukabumi Selatan makin meresahkan warga. Warga di Kecamatan Jampang tengah mulai menyerah mencari pasokan gas melon yang raib dari pasaran dalam sepekan.
Sebagai jalan terakhir, warga terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari. Pemandangan warga yang memikul kayu bakar kini mulai terlihat kembali di Desa Tanjungsari.
Kelangkaan ini terjadi di momen yang sangat krusial, yakni saat kebutuhan rumah tangga meningkat tajam menjelang libur panjang dan hari besar keagamaan.
Yayat (45), seorang warga yang terdampak, menuturkan ketiadaan stok di pangkalan maupun warung eceran membuatnya tidak memiliki pilihan lain. Meski merepotkan, kayu bakar menjadi satu-satunya solusi agar keluarganya tetap bisa makan.
"Mau tidak mau, karena sudah tidak ada pilihan. Kami terpaksa mencari alternatif lain untuk memasak, bahkan kembali menggunakan kayu bakar agar dapur tetap ngepul," ungkap Yayat, Minggu (29/3/2026).
Hal senada dirasakan oleh Usep Saepul Rohmat (31), warga Kampung Cikiray. Ia mengaku sudah sepekan terakhir berburu gas hingga ke wilayah tetangga, namun hasilnya selalu nihil.
"Sudah ada hampir satu pekan di sini kesulitan mendapatkan gas LPG. Sudah muter ke mana-mana, tapi kosong. Kalau ada juga langsung habis dalam sekejap karena warga sudah panik," keluh Usep.
Picu Kenaikan Harga Hingga Rp 30 Ribu
Kelangkaan ini juga dimanfaatkan oleh oknum pengecer nakal. Di beberapa titik, harga gas melon melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp30.000 per tabung, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Sukabumi, Dani Tarsoni, mengonfirmasi adanya lonjakan permintaan yang tidak biasa di lapangan.
"Penyebabnya banyak, mulai dari panic buying hingga permintaan tinggi karena adanya hari raya dan cuti bersama. Saat ini permintaan di lapangan terpantau naik hampir dua kali lipat," jelas Dani.
Pihak Disdagin mengklaim tengah menjajaki pemenuhan kebutuhan tambahan melalui koordinasi dengan Hiswana Migas dan SPBE. Namun, warga berharap langkah tersebut tidak sekadar menjadi wacana di atas kertas.
Masyarakat mendesak adanya operasi pasar segera guna menekan harga yang kian liar dan mengembalikan stok gas ke pasaran agar aktivitas dapur kembali normal.
Laporan : Suryana
Editor : Lisa
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini




