Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Iklan

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Translate

PLTS Terpadu Desa Ujir Beroperasi, Warga Mulai Beralih ke Energi Bersih

Jumat, 27 Maret 2026 | 9:52:00 AM WIB Last Updated 2026-03-27T01:52:55Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, MALUKU - Misi Remlein, seorang petani di Desa Ujir, berbicara dengan nada yang tidak menyembunyikan apa pun. "Belum ada, dampaknya belum terasa," katanya, saat ditemui Media pada Jumat (13/3/2026). "karena memang baru-baru juga." Ia buru-buru menambahkan bahwa listriknya sendiri sudah bagus, sudah menyala. 

Meski listrik di Desa Ujir kini sudah menyala setiap malam, sebagian manfaat yang sebelumnya dibayangkan warga memang belum sepenuhnya terasa. Peralatan rumah tangga seperti kulkas atau mesin cuci misalnya, belum bisa digunakan secara bebas karena kapasitas listrik masih dalam tahap uji coba selama 6 bulan dan penggunaannya perlu diatur agar sistem tetap stabil.

Namun bagi warga desa, perubahan yang sudah terjadi tetap terasa signifikan. Setelah bertahun-tahun bergantung pada lampu pelita dari botol dan sumbu kapas, hadirnya listrik yang dapat menerangi rumah setiap malam menjadi langkah besar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Banyak warga memahami bahwa manfaat yang lebih luas dari listrik biasanya tidak datang sekaligus. 


Penerangan menjadi tahap pertama yang langsung dirasakan, sementara penggunaan peralatan rumah tangga atau kegiatan ekonomi yang lebih bergantung pada listrik kemungkinan baru akan berkembang seiring waktu, ketika sistem listrik semakin stabil dan masyarakat semakin terbiasa memanfaatkannya.

PLTS Terpadu Desa Ujir resmi beroperasi pada awal Februari 2026. Ini adalah instalasi ketiga di desa yang sama, setelah dua upaya sebelumnya pada 2017 dan 2019 berakhir dengan kerusakan dan kembalinya warga ke lampu pelita. Yang ketiga ini jauh lebih besar, lebih serius, dan didukung operator yang tinggal di desa. Tapi dalam hal dampak ekonomi dan sosial? Masih terlalu dini untuk dirayakan.

 Dampak yang paling cepat dirasakan dari hadirnya PLTS terpadu di Desa Ujir adalah penerangan. Namun di balik perubahan sederhana itu, tersimpan pergeseran yang lebih besar: perubahan cara desa ini memproduksi dan menggunakan energi.

Sebelum listrik tenaga surya hadir, warga bergantung pada lampu pelita yang dibuat dari botol bekas berisi minyak dengan sumbu kapas. Generasi yang lebih muda mungkin menyebutnya sebagai cara yang sudah usang, tetapi bagi Pegy Baubesy, seorang ibu rumah tangga yang telah puluhan tahun tinggal di sana, itulah satu-satunya pilihan yang tersedia.

Kini, cahaya listrik menggantikan nyala api. Perubahan ini bukan hanya soal terang dan gelap, tetapi juga tentang berkurangnya ketergantungan pada bahan bakar minyak yang selama ini menjadi sumber energi utama. Dalam konteks pembangunan rendah karbon, pergeseran ini menjadi langkah awal yang penting, karena setiap penggunaan listrik dari energi surya berarti mengurangi emisi yang sebelumnya dihasilkan dari pembakaran minyak.

Kehadiran listrik di malam hari juga mengubah ritme kehidupan warga. Anak-anak kini dapat belajar dengan penerangan yang lebih stabil.

“Iya, membantu meringankan. Anak-anak nyaman untuk belajar,” kata Pegy Baubesy pada Liputan6.com, Jumat (13/3/2026).

Warga pun memiliki lebih banyak waktu untuk beraktivitas setelah matahari terbenam. Di masjid desa, penggunaan genset yang sebelumnya membutuhkan dua drum minyak setiap bulan kini mulai ditinggalkan. Pengeluaran berkurang, sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

Bagi para nelayan, listrik belum mengubah cara mereka bekerja secara besar-besaran. Namun ada perubahan kecil yang langsung terasa: senter yang digunakan untuk melaut kini bisa diisi ulang dengan listrik dari rumah.

“Lumayan membantu, nelayan juga ikut terbantu. Kebutuhan mau ke laut, senter bisa diaktifkan karena bisa cas,” ungkap Ahet Selayar, seorang nelayan dari Desa Ujir.

Perubahan ini mungkin terlihat sederhana. Namun di desa yang berjarak sekitar 28 kilometer dari Dobo dan hanya bisa dijangkau dengan speedboat, akses terhadap energi yang lebih bersih, bahkan untuk kebutuhan kecil, merupakan kemajuan yang nyata.

Manfaat serupa juga dirasakan oleh fasilitas layanan publik. Sebelum PLTS hadir, puskesmas dua lantai di Desa Ujir hanya mengandalkan genset yang dinyalakan pada waktu tertentu. Sekolah dasar pun berada dalam kondisi yang sama. Kini keduanya terhubung dengan sistem listrik tenaga surya, masing-masing dengan daya sekitar 2.000 watt, dengan gambaran sekitar 15–20 lampu LED (10 watt) ditambah 1 televisi (±100 watt) dan beberapa charger HP.

Dalam konteks yang lebih luas, semua perubahan ini menunjukkan bahwa kontribusi terhadap target rendah karbon tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan instan. Di Desa Ujir, kontribusi itu dimulai dari hal-hal sederhana: lampu yang tidak lagi bergantung pada minyak, genset yang mulai jarang digunakan, dan aktivitas sehari-hari yang perlahan beralih ke energi bersih. Dari titik inilah, transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan mulai terbentuk.

Laporan : La Musa

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

----------------------------------------------------------------------------------------------------


Untuk Streaming MEDIA INDONESIA ASIA klik gambar
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" MEDIA INDONESIA ASIA "