Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Iklan

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Translate

Tradisi Lemang Kantong Semar Jambi: Kuliner Unik yang Terancam Punah

Minggu, 01 Maret 2026 | 1:59:00 PM WIB Last Updated 2026-03-01T05:59:57Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, JAMBI - Daswarsya berada di hutan hujan mencari tumbuhan karnivora tapi bukan yang berbahaya. Pria berusia 60 tahun ini membawa saya ke hutan di tepi Danau Lingkat di dekat Desa Lempur, Kabupaten Kerinci, Jambi, Sumatra. Di bawah naungan pohon, ia membungkuk untuk memeriksa area sekitar mencari tumbuhan kantong semar, yang dikenal di Indonesia sebagai kantong semar.

Tanaman karnivora ini masih melimpah untuk saat ini. Beberapa tumbuh bergerombol di lantai hutan. Yang lain menggantung di dahan pohon. Satu per satu, Daswarsya memetik sekitar 30 butir tanaman dan memasukkannya ke dalam kantong kain.

“Mari kita ambil sedikit untuk membuat lemang kantong semar,” katanya pada 21 Agustus 2025 lalu.

Lemang kantong semar merujuk pada makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan, susu kelapa, dan garam. Biasanya, lemang dimasak dalam bambu. Namun, di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, orang-orang justru menempatkan bahan-bahan tersebut dalam tanaman kantong semar, yang kemudian dikukus, sehingga memberikan lemang pada aroma dan rasa yang khas.

Daswarsya khawatir tradisi lama ini telah berubah menjadi ancaman modern bagi tanaman kantong semar, bersama dengan hilangnya habitat, penebangan ilegal untuk perdagangan tanaman hias, dan perubahan iklim.

Meskipun kerangka hukum Indonesia memberikan perlindungan bagi beberapa spesies tanaman kantong semar, penegakan hukum menjadi tantangan — dan tanaman yang digunakan untuk membuat kuliner lemang tidak termasuk dalam peraturan yang berlaku saat ini.

Sumatra: Surga Tanaman Nepenthes

Nepenthes (spesies Nepenthes) yang dikenal sebagai tumbuhan karnivora itu merambat di pohon dan tanaman lain. Tumbuhan itu memiliki daun yang dimodifikasi membentuk struktur cangkir atau tabung berisi cairan — penduduk setempat menyebutnya “monkey pots”. Nektar yang diproduksi di tepi kantong menarik serangga dan hewan kecil lainnya, yang kemudian tergelincir ke dalam kantong dan tenggelam. Tanaman tersebut kemudian mencerna mereka.


Indonesia merupakan pusat keanekaragaman global untuk tanaman ini, dengan setidaknya 68 dari 170 spesies yang telah dideskripsikan di dunia. Menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagian besar tumbuhan karnivora itu ditemukan di Sumatra (34 spesies), dengan jumlah yang lebih kecil di Kalimantan (22 spesies), Sulawesi (11 spesies), Papua (11 spesies), Maluku (3 spesies), dan Jawa (3 spesies).

Spesies yang digunakan oleh masyarakat Lempur, Kabupaten Kerinci untuk memasak lemang adalah Nepenthes ampurallia. Kantongnya menyerupai toples bulat dengan tinggi 5-10 sentimeter, berwarna hijau muda atau hijau dengan bintik-bintik merah. Spesies ini tumbuh di tempat teduh, berkembang baik di bawah naungan pohon-pohon hutan hujan. Hutan Lempur, tempat Daswarsya membawa saya adalah tempat ideal untuk menemukan tumbuhan eksotis ini.

Kembali ke rumahnya, tiga kilometer jauhnya, Daswarsya menyiapkan tanaman tersebut, lalu mengisi bahan lemang ke dalamnya sebelum dimasak. Para tetua desa memberitahunya bahwa praktik memasak lemang dalam tanaman kantong semar dimulai pada abad ke-17 dan telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak saat itu. Setelah sekitar satu jam memasak, Daswarsya membawa nampan lemang kantong semar yang sudah matang dan menyajikannya dengan saus srikaya manis.

Permintaan Meningkat untuk Lemang Kantong Semar

“Dulu, hidangan ini hanya bisa dinikmati pada acara-acara tertentu, seperti upacara tradisional atau perayaan Idul Fitri,” kata Daswarsya.

Kini ia khawatir tanaman kantong semar dipanen berlebihan untuk memenuhi permintaan lemang kantong semar dari wisatawan. Kabupaten Kerinci hanya berjarak 37 kilometer dan warganya semakin sering mengunjungi Lempur dan danau untuk berwisata. Beberapa penjual kue rumahan di Kabupaten Kerinci mempromosikan makanan tradisional ini melalui jaringan media sosial. Untuk memenuhi permintaan, masyarakat setempat mengambil tanaman kantong semar langsung dari hutan — tidak ada budidaya tanaman ini, atau upaya konservasi populasi liar.

Daswarsya menyesalkan bahwa tanaman kantong semar kini digunakan tanpa upacara tradisional, dan orang-orang tidak menyadari bahwa tanaman ini langka. Ia mengatakan kurangnya pengawasan dan kampanye kesadaran oleh pemerintah telah mendorong panen Nepenthes ampurallia.

Pada tahun 2018, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia mengeluarkan peraturan yang menambahkan 59 spesies tanaman kantong semar ke dalam daftar spesies dilindungi di negara ini. Di antaranya terdapat enam spesies yang diklasifikasikan sebagai ‘terancam punah secara kritis’ dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), dan beberapa spesies lain yang diklasifikasikan sebagai terancam punah.

Nepenthes ampurallia yang digunakan sebagai pembungkus lemang tidak termasuk dalam daftar spesies dilindungi. Meski belum masuk daftar yang dilindungi, namun dikhawatirkan jika tidak diatur kedepan keberadaan tanaman ini semakin terancam.

“Jika tidak diatur, tanaman ini bisa habis, dan kami khawatir akan punah,” kata Daswarsya, yang juga menjabat sebagai ketua Forum Pelestarian Hutan dan Lingkungan Desa. “Oleh karena itu, panen tanaman kantong semar harus dibatasi. Saya harap warga hanya memanennya untuk upacara tradisional dan acara khusus.”

Dibutuhkan: Regulasi dan Pendidikan

Desa Daswarsya terletak di dalam sebuah eksklave Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) – situs warisan dunia yang diakui UNESCO yang memiliki 15 spesies Nepenthes. Hampir setengah dari spesies ini dilindungi, kata Dian Indah Pratiwi, Petugas Pengendalian Ekosistem Hutan di Kantor TNKS.

"Namun, karena penelitian tentang Nepenthes di wilayah kami masih terbatas dan kami kesulitan mengidentifikasinya, kami khawatir spesies yang digunakan sebagai pembungkus lemang adalah spesies yang dilindungi," kata Staf Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) pada Balai Besar TNKS Dian Indah Pratiwi.

Tri Warseno, peneliti di Pusat Penelitian Biosistematika dan Evolusi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang bermarkas di Jakarta, mengatakan bahwa pengumpulan tanaman kantong semar di habitat alaminya perlu diatur dan dikelola dengan bijak. “Pencarian atau pengumpulan yang tidak terkendali di alam liar dapat mengganggu upaya konservasi,” kata Warseno.

Ia menyoroti bahwa pengumpulan berlebihan untuk memenuhi permintaan yang meningkat dari pariwisata akan mengancam dan membuat tanaman kantong semar sulit ditemukan atau bahkan punah secara lokal. Hal ini pada akhirnya akan mengancam penggunaan tradisional dan komersial tanaman tersebut untuk membuat lemang.

Warseno mengatakan penting untuk mendidik masyarakat lokal tentang Nepenthes dan risiko panen berlebihan. Ia menyarankan TNKS dapat menetapkan kuota panen tanaman di luar kawasan konservasi, dan anggota komunitas harus diajari cara menanam tanaman kantong semar agar tidak perlu memanennya dari habitat aslinya.

Laporan : Sukri

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini


----------------------------------------------------------------------------------------------------

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update