Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Iklan

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Translate

Menkeu Purbaya: APBN Kuartal I-2026 Defisit Rp240,1 Triliun, Tetap Aman

Senin, 06 April 2026 | 7:49:00 PM WIB Last Updated 2026-04-06T11:49:45Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencatat APBN defisit 0,93% dari produk domestik bruto (PDB) atau Rp 240,1 triliun per kuartal I-2026. Dia meminta masyarakat tenang.

Purbaya mengungkapkan, pendapatan negara mencapai Rp 574,9 triliun atau meningkat 10,5% pada triwulan I-2026. Sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp 815,0 triliun atau meningkat 31,4%.

"Dengan demikian, defisit APBN sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB. Jadi ketika ada defisit, masyarakat, bapak-bapak dan ibu-ibu jangan kaget, memang anggaran kita didesain defisit," kata Purbaya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026).

Dia mengatakan, belanja pemerintah dijalankan sepanjang tahun. Sehingga, adanya defisit yang tercatat merupakan sesuatu yang normal.


"Tapi yang jelas kita monitor terus selama setahun akan seperti apa pendapatannya dan belanjanya seperti apa. Jadi kita amat berhati-hati dalam mempertimbangkan hal ini," ucap dia.

Purbaya menyebut, rata-rata belanja pemerintah di kuartal I-2026 yakni 17% dari PDB. Sementara, pada kuartal I-2026 sudah lebih besar menjadi 21,2%.

Bendahara Negara ini sebelumnya memang pernah ingin membuat belanja pemerintah menjadi lebih merata sepanjang tahun. Biasanya, pemerintah baru menghabiskan belanja pada akhir tahun.

"Ini by design percepatan belanja seperti yang saya bilang tadi, anggaranya sudah ada, K/L kerja lebih cepat. Ini akan memberikan kontribusi yang kuat pada pertumbuhan PDB di triwulan 1 2026," tuturnya.

Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai di atas 5,5%. "Perkiraan dia (Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal, Febrio Kacaribu) 5,5%, dia kayaknya takut. Jadi saya minta 5,5 lebih, nggak bisa 5,6, atau lebih. Mudah-mudahan tercapai, saya pikir kemungkinan besar sekali tercapai di 5,5 atau lebih," jelas dia sambil berkelakar.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali geram menanggapi soal akses aplikaai Coretax. Utamanya pada interface bagi masyarakat umum yang dikeluhkan sulit, sementara ada segelintir perusahaan besar yang mampu mengakses lebih mudah.

Dia menanggapi pertanyaan dari Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun mengenai aplikasi khusus bagi perusahaan besar mengakses Coretax. Purbaya pun mengaku telah menelusuri hal tersebut ke timnya.

"Tanya punya tanya, rapat tuh satu jam lebih kenapa bisa susah? Terus perusahaan besar kok gak ada yang komplain? Adalah informasi yang keluar 'ctek' katanya, perusahaan besar pakai aplikasi, saya kan (jadi bertanya) aplikasi apa? Kan tinggal masuk langsung. (Dijawab) enggak," kata Purbaya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026).

"Rupanya ada perusahaan jasa aplikasi perpajakan yang berdiri diantara Coretax dan perusahaan besar itu, jadi kalau dia pakai itu cepat. Saya bilang, kan ini gampang dibikin, kenapa gak kita bikin? Aah keluarlah nama-nama businessman itu," sambungnya.

Oleh : Mirna

Editor : Riska

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------


Untuk Streaming MEDIA INDONESIA ASIA klik gambar
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" " MEDIA INDONESIA ASIA " "