MEDIAINDONESIA.ASIA, JAWA TENGAH - Tin Dels Marce Ndawu menjadi contoh perempuan sukses yang merasakan pahitnya perjuangan. Ia, tak ingin selamanya terjebak di kampung halaman, wilayah Sulawesi, sebagai penjahit rumahan yang sulit berkembang.
Tekadnya yang kuat untuk mengubah nasib lantas menuntunnya untuk berkuliah tata busana di Kota Yogyakarta. Dari sana, dirinya belajar banyak hal tentang jenis kain, variasi motif, sampai berinovasi melalui sandang eco print yang kemudian melahirkan brand Geisha Ratu.
Tak sampai di sana. Sebab, Tin juga berkesempatan melanjutkan pendidikan sampai jenjang S2, sembari mengembangkan usahanya di luar tanah kelahirannya. Melalui jerih payahnya yang “berdarah-darah” mimpinya perlahan terwujud, karena brandnya dikenal banyak orang.
Kisahnya kemudian menginspirasi dan menjadi bukti bahwa perempuan bisa turut berdaya, sebagai pelaku Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM).
Saat ditemui media Senin, 27 April 2026 lalu, Tin bercerita tentang jatuh bangunnya merintis usaha fashion Geisha Ratu yang beralamat di kompleks Bandara Adi Sucipto, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mulanya, ia merupakan seorang penjahit rumahan di kampungnya, Kabupaten Morowali Utara, Provinsi Sulawesi Tengah, dengan berbagai keterbatasan untuk berkembang. Momen tersebut yang kemudian membakar semangatnya untuk mencari jalan keluar, agar tak selamanya hanya menjadi penjahit di desa.
“Saya itu punya prinsip, tidak mau menjadi tukang jahit sampai nenek-nenek. Saya pingin maju dan ingin berkembang dari kondisi saat itu,” kata Tin.
Sempat Dipandang Rendah di Kampung Halaman
Salah satu alasan kuat dirinya tidak ingin nyaman di posisinya ini adalah, karena banyak pelanggan yang memandang rendah latar belakang pendidikan SMA-nya, meskipun hasil jahitannya rapi dan baik.
Ini yang kemudian mendorongnya untuk berkuliah di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Kota Yogyakarta dan mengambil jurusan tata busana pada 2010 silam. Tak lama setelah lulus, jenjang magister pendidikan (S2) di kampus yang sama juga ia jalankan.
“Waktu itu saya ngomong ke ibu saya tentang keinginan untuk kuliah. Karena saya saat itu menjadi seorang penjahit, artinya jurusan yang dipilih harus sesuai, yakni tata busana,” ucap Tin, saat mengenang masa-masa awal merantau untuk berkuliah.
Oleh : Wati
Editor : Riska
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini






