![]() |
| Gambar Ilustrasi Korban Pelecehan |
Kasus ini menjadi sorotan tajam lantaran terduga pelaku berinisial WS diketahui memiliki dua profesi sebagai guru ngaji di lingkungan setempat sekaligus tenaga pendidik di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Bekasi.
Peristiwa ini baru terungkap pada Maret 2026 lalu, setelah adik korban menceritakan kejadian yang menimpa kakaknya kepada sang ibu saat mereka tengah berdiskusi mengenai edukasi keamanan diri.
"Anak saya yang bontot cerita kalau kakaknya pernah mendapat perbuatan tidak senonoh oleh guru ngajinya," ungkap ibu korban.
Dari pengakuan tersebut, terungkaplah penderitaan panjang yang dialami korban yang kini telah berusia 16 tahun dan duduk di bangku SMK. Korban menuturkan bahwa dugaan pelecehan tersebut bermula dengan modus ajakan bermain petak umpet, di mana pelaku diduga sengaja mengondisikan situasi agar korban menjadi penjaga.
"Kita diajak main petak umpet, setelah itu saya diraba, dicium, dan (alat kelaminnya) digesek-gesek ke pinggang saya," ujar korban dengan nada trauma.
Menurut pengakuan korban, tindakan tidak senonoh tersebut tidak hanya terjadi di area tempat mengaji, tetapi juga kerap berlanjut saat berpapasan di jalan. Bahkan hingga korban masuk ke jenjang SMK, terduga pelaku disinyalir masih sering mendekati korban dan memberikan uang di lingkungan sekolah, yang membuat korban merasa terus diawasi dan tertekan. Korban mengaku selama ini memilih bungkam karena merasa takut.
Setelah mengetahui kejadian tersebut, ibu korban berinisiatif melaporkan tindakan WS ke pihak SMK tempat pelaku mengajar—yang juga merupakan sekolah tempat korban menimba ilmu. Namun, ibu korban menyayangkan respons dari wali kelas yang justru menyarankannya untuk memindahkan sang anak ke sekolah lain demi menjaga kenyamanan guru-guru di sekolah tersebut.
Keluarga korban menolak keras saran tersebut karena menilai keputusan itu tidak adil dan memposisikan korban seolah pihak yang bersalah, sementara terduga pelaku masih bebas beraktivitas di sekolah.
Di sisi lain, pihak sekolah membantah keras tudingan mengenai penanganan yang tidak adil tersebut. Wali kelas korban menegaskan bahwa pihak sekolah selalu terbuka dan kooperatif dalam menerima aduan dari orang tua murid.
"Itu tidak benar. Yang sebenarnya terjadi adalah setiap pesan (chat) dan laporan dari orang tua murid selalu kita tampung dan kita fasilitasi agar bisa dirembukkan bersama," tegas wali kelas saat dikonfirmasi.
Konfrontasi sempat memanas ketika ibu korban mencoba mengklarifikasi langsung masalah ini kepada WS. Ibu korban menyebutkan bahwa WS sempat mengamuk, membanting meja, hingga mencari senjata tajam (golok) untuk mengancam dirinya.
Menanggapi tuduhan tersebut, WS yang ditemui saat itu membantah seluruh dugaan pelecehan seksual maupun pengancaman sepihak yang dialamatkan kepadanya. WS menyatakan bahwa tuduhan pelecehan tersebut adalah fitnah. Sementara terkait senjata tajam, ia berdalih tindakan itu merupakan respons spontan karena emosi.
"Apa yang disampaikan itu tidak benar dan saya tidak melakukan. Kalau dibilang itu, fitnah buat saya. Kalau masalah golok, itu karena saya ditampar duluan dan dimaki, jadi emosi saya naik," jelas WS.
Akibat peristiwa ini, ibu korban mengutarakan kondisi psikologis anaknya kini mengalami perubahan drastis. Korban kini menjadi lebih pendiam, kerap didera rasa takut, enggan berangkat ke sekolah, dan sering mengurung diri di dalam kamar.
Ibu korban berharap penuh agar Pemerintah Kota Bekasi, dinas terkait, serta aparat penegak hukum dapat memberikan perhatian serius dan perlindungan nyata terhadap pemulihan psikologis anaknya, sekaligus mengusut tuntas kasus ini demi keadilan.
Liputan : Ode
Editor : Riska
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini





