Notification

×

PSE

Iklan 1

Berita hari ini, Informasi Untuk Masa Depan

PDAM

Iklan

Translate

PSE

Iklan

Ucapan Kaltara

Iklan1

.........

Translate

Tragedi Ibu Hamil Ditandu 6 Jam di Tapsel, Bayi Meninggal Akibat Jalan Terisolasi

Kamis, 14 Mei 2026 | 1:35:00 PM WIB Last Updated 2026-05-14T05:35:04Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, TAPSEL - Sebuah potret memilukan kembali mengoyak rasa kemanusiaan. Di tengah kemajuan zaman, Mastuti Daulay, seorang ibu hamil di Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), harus bertaruh nyawa di atas tandu bambu demi menjemput keajaiban persalinan.

Sayang, keajaiban itu sirna. Sang buah hati mengembuskan napas terakhir sebelum sempat melihat dunia. Momen itu menjadi saksi bisu perjuangan hidup dan mati. Lantaran akses jalan menuju desa mereka terisolasi total dari kendaraan, warga terpaksa bergotong-royong menandu Mastuti menggunakan sebilah bambu dan kain sarung.

Bukan satu atau dua jam, melainkan enam jam lamanya warga harus berjalan kaki menembus medan hutan yang sulit dan terjal. Isak tangis dan doa mengiringi setiap langkah kaki warga yang terburu-buru, berharap sang ibu dan bayi bisa segera mendapat sentuhan medis di RS Sipirok.

Setelah perjuangan fisik yang luar biasa, Mastuti akhirnya tiba di rumah sakit dan langsung menjalani proses persalinan. Namun, takdir berkata lain. Pasangan Rinto Aritonang dan Mastuti Daulay harus menghadapi kenyataan paling pahit dalam hidup mereka: anak pertama yang mereka dambakan dinyatakan meninggal dunia.

Dokter menyatakan bahwa keterlambatan penanganan medis menjadi penyebab utama sang bayi tidak tertolong. Jeda enam jam di tengah hutan menjadi batas antara hidup dan mati yang tak mampu mereka lalui tepat waktu.

"Istri saya ditandu jalan kaki selama enam jam karena memang tidak bisa dilintasi kendaraan. Setelah sampai di RS, dokter bilang bayi saya tidak tertolong karena terlambat penanganan," tutur Rinto Aritonang dengan mata berkaca-kaca, Selasa (12/5/2026).

 

Di balik tragedi ini, terungkap fakta yang menyesakkan. Desa Dalihan Natolu ternyata tidak hanya terisolasi secara infrastruktur jalan, tetapi juga akses komunikasi dan listrik. Warga harus mendaki gunung selama satu jam hanya untuk mencari sinyal telepon.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya sudah mengajukan pembukaan jalan melalui program TMMD pada 2025 lalu. Namun, niat tersebut terbentur tembok regulasi pusat.

"Desa Dalihan Natolu ini berada di dalam kawasan Hutan Lindung. Kami sudah ajukan izin ke kehutanan, tapi tidak diberi izin sehingga program pembukaan jalan tertunda," jelas Gus Irawan.

Kini, di rumah sederhana mereka, Rinto dan Mastuti hanya bisa menatap ruang kosong yang seharusnya diisi oleh tangis bayi mereka. Harapan mereka sederhana namun mendalam, jangan ada lagi nyawa yang hilang karena jalan yang rusak.

Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan. Bahwa di balik status hutan lindung, ada hak hidup manusia yang seharusnya terlindungi lebih utama daripada sekadar urusan birokrasi dan administrasi lahan.

Laporan : Rido

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

----------------------------------------------------------------------------------------------------

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" " PT. MEDIA PERS INDONESIA " "