Notification

×

PSE

Iklan 1

Berita hari ini, Informasi Untuk Masa Depan

PDAM

Iklan

Translate

PSE

Iklan tiga gambar

Ucapan Kaltara

Iklan1

.........

Translate

Lagu Bupati Purwakarta Om Zein Disomasi, Dinilai Rendahkan Perempuan

Kamis, 02 Juli 2026 | 9:09:00 AM WIB Last Updated 2026-07-02T01:09:08Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, PURWAKARTA - Berniat menghibur, lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad yang diciptakan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein dan diunggah di akun Youtube resminya, malah mendapat kecaman banyak orang. Lagu itu dianggap bias gender dan merendahkan kaum perempuan.

Hal itu yang juga diungkap Ketua Umum Jabar Bantuan Hukum Riyan Bintana Hasan. Riyan menyebut lagu buatan bupati Purwakarta itu memuat diksi, narasi, dan substansi yang dianggap bersifat misoginis atau merendahkan martabat perempuan.

"Merendahkan derajat eksistensial manusia, serta mendegradasi harkat dan martabat kaum perempuan secara vulgar," kata Riyan, Rabu (1/7/2026).

Riyan juga menyoroti sejumlah lirik dalam lagu tersebut yang dinilai bermasalah, di antaranya pada bait pertama yang berbunyi Cakcak mun jadi awewe, SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali (andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali), serta bait kedua Teu kudu meuli kutang, nu busana leuwih gede batan susu (tidak perlu membeli bra yang busanya lebih besar daripada payudara).

"Bahwa diksi-diksi di atas tidak mencerminkan nilai kritik sosial yang sehat, melainkan bentuk penghinaan verbal terhadap integritas tubuh, kesehatan reproduksi, dan moralitas kaum perempuan khususnya anak di bawah umur," ucap Riyan.

Dalam somasi yang dilayangkan, Riyan menyebut sejumlah pasal yang berpotensi dilanggar Om Zein yakni Pasal 1365 KUHPerdata, UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, dan perlindungan hak konstitusional sebagaimana diatur dalam UUD 1945 dan UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Riyan pun memberikan tenggat waktu selama 3x24 jam kepada Om Zein untuk menghentikan penyebaran lagu itu di semua kanal media sosial dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Jika somasi malah dihiraukan, maka pihaknya menempuh jalur hukum dengan membuat laporan polisi atau gugatan perdata.

"Apabila dalam tenggat waktu yang ditentukan saudara tertegur mengabaikan, menolak atau melalaikan somasi ini, maka kami akan menggunakan semua instrumen hukum baik dengan mengajukan laporan polisi ataupun mengajukan gugatan secara perdata di pengadilan negeri," katanya.

Kritik bernada kecaman juga dilontarkan anggota DPR Komisi VIII Atalia Praratya. Dirinya menyayangkan lagu bermuatan misoginis itu justru dibuat oleh seorang kepala daerah, yang seharusnya mengayomi masyarakat, terlebih kepada kaum perempuan, yang di negara ini masih terkungkung konstruksi maskulinitas.

"Jujur saya tidak habis pikir, sepositif apapun saya memaknai lagu ini. Saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," kata Atalia.

Menurut Atalia, masih banyak diksi dalam bahasa Sunda yang lebih pantas untuk dijadikan sebagai lagu. Dia juga meyakini bahwa budaya Sunda tak pernah mengajarkan tindakan merendahkan martabat kaum perempuan.

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan, namun justru narasi sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah," katanya.



Pembelaan Sang Bupati

Terkait banyaknya kecaman terhadap lagu Lalaki Langit Lalanang Bejad, sang bupati akhirnya angkat bicara. Zein melalui pernyataan resminya membantah lagu itu dibuat untuk menyudutkan kaum perempuan. Dirinya berkilah, lagu sebenarnya karya berbentuk puisi yang sudah ditulisnya beberapa tahun silam sebagai cerminan pribadi

"Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal," katanya.

Dirinya mengatakan, lirik yang tertuang di dalamnya adalah bentuk kejujuran atas ketidaksempurnaan dirinya di masa lalu. Ia memandang lagu tersebut sebagai medium kontemplasi spiritual dan emosional atas perjalanan hidupnya.

"Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri," ungkapnya.

Meski begitu, Zein menyadari interpretasi orang terhadap lagu tersebut berbeda-beda. Dirinya kemudian meminta maaf karena telah membuat kegaduhan dan ketidaknyamanan karena adanya lagu tersebut.

"Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri," katanya lagi. 

Zein berharap masyarakat dapat melihat lagu buatannya dari sudut pandang yang lebih utuh dan bijak. Dalam pandangannya, lagu tersebut sejatinya adalah sebuah pengingat bagi dirinya sendiri untuk terus berbenah menjadi pribadi yang lebih baik. Dirinya ingin meluruskan pemahaman publik bahwa lagu tersebut adalah bentuk otokritik seorang manusia atas masa lalunya, bukan sebuah sentimen negatif yang ditujukan kepada pihak lain.

Laporan : Suryana

Editor : Riska

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

----------------------------------------------------------------------------------------------------

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" " PT. MEDIA PERS INDONESIA " "