JATENG, MEDIAINDONESIA.asia - Menutup tahun 2025, Polres Blora menyampaikan bahasan evaluasi kinerja yang menggambarkan dua sisi, mengenai stabilitas keamanan yang diklaim terjaga, dan sederet persoalan kriminal serius.
Di balik narasi kamtibmas yang aman dan kondusif, data internal justru menunjukkan kenaikan kriminalitas, potensi konflik sosial, serta dinamika keamanan daerah yang semakin kompleks.
Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto kepada Media menegaskan, stabilitas daerah dapat terjaga berkat sinergi lintas sektor.
Namun fakta di lapangan tetap memperlihatkan bahwa kerentanan sosial, rawannya konflik perguruan silat, hingga gelombang unjuk rasa yang terpicu isu nasional masih menjadi ancaman laten.
“Situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif melalui sinergi stakeholder dan peran aktif masyarakat,” ujarnya, Senin (8/12/2025).
Ia menyebut pengamanan agenda besar seperti operasi pasar, kegiatan perguruan silat, dan stabilisasi pangan sebagai capaian penting, meski hal itu sekaligus memperlihatkan bahwa pendekatan yang digunakan masih bertumpu pada respons reaktif.
Data kriminalitas justru menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. Polres Blora mencatat kenaikan 19 kasus, dari 161 kasus pada 2024 menjadi 180 kasus pada 2025.
Curanmor menjadi tindak pidana yang paling dominan. Berbagai strategi preemtif dan penegakan hukum telah dijalankan, namun lonjakan kasus menunjukkan bahwa efektivitasnya masih perlu dievaluasi.
Tantangan besar juga datang dari maraknya kekerasan secara bersama-sama yang melibatkan kelompok perguruan silat, yang menurut Kapolres berpotensi memicu konflik sosial berkepanjangan.
Wawan turut menyoroti peristiwa kebakaran sumur minyak ilegal di Dukuh Gendono, Desa Gandu, Bogorejo, yang disebutnya sebagai salah satu penanganan menonjol tahun ini.
Ia mengklaim Polres Blora mampu menangani korban, menindak pelaku, serta mencegah meluasnya dampak kebakaran melalui kerja sama lintas sektor.
Namun peristiwa tersebut kembali mengungkap persoalan klasik eksploitasi minyak tradisional yang rawan bencana dan kriminalitas, tanpa solusi menyeluruh di tingkat akar rumput.
Sepanjang tahun ini Polres Blora juga mengklaim telah membenahi ruang pelayanan, meningkatkan kapasitas personel, menambah barcode pengaduan, serta memperkuat pengamanan internal.
Meski demikian, publik masih mempertanyakan apakah pembenahan tersebut benar-benar diikuti dengan pengawasan internal yang efektif untuk mencegah penyimpangan dan memastikan layanan bebas pungli.
Angka Kecelakaan Lalu Lintas Menurun
Di sisi lain, Polres mencatat penurunan kecelakaan lalu lintas dari 520 kejadian pada 2024 menjadi 473 pada 2025. Penurunan ini patut diapresiasi tetapi angka tersebut tetap tinggi dan menunjukkan bahwa pelanggaran lalu lintas masih masif.
Edukasi memang dilakukan, namun penataan rekayasa lalu lintas dan penindakan tegas terhadap pelanggaran berat masih belum menjadi tumpuan.
Patroli skala besar, optimalisasi Bhabinkamtibmas, serta peningkatan peran masyarakat seperti Satkamling dan pembinaan Satpam menjadi strategi yang terus digiatkan. Namun keterbatasan personel serta sarana prasarana menjadi tantangan permanen yang diakui Kapolres Blora.
Hal serupa terjadi dalam penanganan bencana; pasukan Siaga Bhayangkara dan sinergi dengan BPBD, serta relawan memang disiapkan, tetapi sistem mitigasi bencana terpadu masih belum terbangun di daerah yang rawan banjir, longsor, hingga insiden minyak tradisional.
Ragam forum dialog seperti "Ngopi Bareng Forkopimda" dan "Jumat Curhat" terus digelar. Namun efektivitasnya bergantung pada respons nyata terhadap aduan masyarakat, bukan sekadar menjadi agenda seremonial.
Kapolres Blora bahkan secara terbuka mengakui problem mendasar berupa rasio polisi - masyarakat yang jauh dari ideal, keterbatasan sarpras, serta meningkatnya kerentanan masyarakat terhadap provokasi digital, terutama yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah.
Laporan : Wati
Editor : Lisa





