MEDIAINDONESIA.asia, LAMPUNG - Tim Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) bersama mitra konservasi dan warga setempat menangani konflik gajah liar yang terjadi di Desa Braja Asri, wilayah penyangga Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur.
Bedasarkan laporan Kementerian Kehutanan dikutip Rabu (7/1/2026), kejadian bermula pada malam 30 Desember 2025, ketika tim penanggulangan konflik gajah TNWK bersama mitra KHS ERU dan masyarakat melakukan patroli di titik rawan berdasarkan pemantauan GPS Collar yang diperbarui setiap empat jam.
Hujan deras yang mengguyur kawasan menghambat mobilitas tim, sehingga beberapa gajah keluar dari kawasan dan masuk ke kebun karet milik warga hingga pagi hari.
Pada Rabu pagi 31 Desember 2025, sekitar pukul 06.30 WIB, tim tambahan blokade diturunkan setelah menerima laporan dari Babinsa Desa Braja Asri mengenai keberadaan gajah di sekitar jembatan Putul.
Tim tiba pukul 07.15 WIB dan langsung berkoordinasi dengan Forkopimcam, TNI-Polri, pemerintah desa, BPBD, Satpol PP, mitra TNWK, serta warga setempat.
Pihak terkait sepakat mengarahkan gajah liar dari kebun warga kembali ke kawasan hutan TN Way Kambas. Namun, selama proses penggiringan, terjadi miskomunikasi antar tim blokade yang membuat gajah berbalik arah dan menunjukkan perilaku agresif.
Sekitar pukul 11.10 WIB, insiden tragis terjadi yang menewaskan Kepala Desa Braja Asri, almarhum Bapak Darusman. Tim segera mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat.
Meskipun demikian, pengamanan dan penggiringan gajah tetap dilanjutkan. Pada pukul 12.00 WIB, gajah berhasil diarahkan kembali ke dalam kawasan TNWK melalui area Merang, Desa Braja Asri.
Atas kejadian tersebut, keluarga besar TNWK mewakili Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya almarhum Bapak Darusman.
Almarhum dikenang sebagai pemimpin desa yang berdedikasi dan peduli dalam menangani konflik antara manusia dan satwa liar di wilayahnya.
Balai TN Way Kambas menegaskan akan memperkuat koordinasi lintas pihak, memperbaiki mekanisme komunikasi di lapangan, dan meningkatkan prosedur keselamatan, khususnya saat kondisi cuaca ekstrem.
Upaya ini diharapkan mencegah kejadian serupa di masa mendatang, sekaligus memastikan keselamatan manusia dan kelestarian gajah Sumatera tetap terjaga.
Penanggulangan konflik manusia dan gajah membutuhkan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, mitra konservasi, dan masyarakat. Semua pihak harus bekerja sama untuk melindungi warga sekaligus menjaga kelestarian satwa liar.
Sebelumnya, siang itu, Darusman Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, baru saja menghadiri acara ulang tahun di desa tetangga.
Suasana masih hangat, tawa warga masih terdengar. Tiba-tiba sebuah panggilan telepon berbunyi. Mengubah segalanya. Di seberang sana, kabar datang: gajah liar masuk ke wilayah perkebunan desa.
Tanpa banyak berpikir, Darusman bergegas. Seperti hari-hari sebelumnya, dia memilih turun langsung. Memimpin. Mendampingi. Melindungi warganya. Rabu 31 Desember 2025 sekitar pukul 11.10 WIB itu menjadi perjalanan terakhirnya.
Kronologi Kades di Lampung Tewas Diserang dan Diinjak Gajah
Di perbatasan kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan kebun karet milik warga Desa Braja Asri, Darusman menghembuskan napas terakhir setelah diserang gajah liar yang tengah dihalau agar kembali ke habitatnya.
Kepergiannya menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi warga desa yang selama ini mengenalnya sebagai pemimpin yang tak pernah bersembunyi di balik meja.
Di rumah duka, kesedihan masih menggantung di udara. Kakak kandung almarhum, Khusnan, berkali-kali menarik napas panjang saat mencoba merangkai kata.
"Kami sebagai keluarga besar tentu sangat sedih dan terpukul. Kejadian ini benar-benar mengejutkan kami semua," ujarnya lirih, Kamis 1 Januari 2026.
Namun di balik duka, ada kegelisahan yang lebih besar. Khusnan menegaskan, konflik antara manusia dan gajah liar di Lampung Timur bukanlah cerita baru.
"Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali. Sudah berulang. Harusnya ini jadi perhatian serius pemerintah. Jangan sampai terus memakan korban jiwa," tegasnya.
Gajah liar kerap turun ke kebun warga, kebun karet, ladang, hingga lahan yang menunggu panen. Dalam situasi genting itu, warga desa sering kali hanya mengandalkan keberanian, tanpa perlengkapan atau pengetahuan memadai.
"Masyarakat jelas tidak bisa menghalau gajah sepenuhnya. Hari ini harus jadi pelajaran besar," ujarnya.
Laporan : Subari
Editor : Riska
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

