WASHINGTON DC, MEDIAINDONESIA.asia - Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) telah berhasil melancarkan serangan militer berskala besar terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya.
"AS telah berhasil melaksanakan sebuah operasi serangan berskala besar terhadap Venezuela. Dalam operasi tersebut, pemimpin Venezuela, Presiden Nicolas Maduro, bersama istrinya, berhasil ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS. Rincian lebih lanjut akan disampaikan kemudian. Konferensi pers akan diadakan hari ini pukul 11.00 di Mar-a-Lago," tulis Trump di platform Truth Social.
Sebelumnya, Associated Press melaporkan terjadi setidaknya tujuh ledakan di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1/2025) pukul 02.00 waktu setempat. Pemerintah Venezuela menyebut AS melancarkan serangan terhadap instalasi militer dan sipil mereka.
"Dengan ini kami sampaikan komunike resmi dari Pemerintah Bolivarian Venezuela terkait agresi militer serius yang baru-baru ini dilakukan oleh Pemerintah AS terhadap wilayah dan rakyat Venezuela," bunyi pernyataan tertulis Kedutaan Besar (Kedubes) Venezuela di Jakarta, yang diterima MEDIA.
"Serangan yang tidak dapat dibenarkan ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional serta ancaman nyata bagi perdamaian dan stabilitas di Amerika Latin dan kawasan Karibia. Tindakan tersebut adalah bentuk penyerangan terhadap kedaulatan kami dan upaya untuk merebut sumber daya strategis serta melemahkan kemerdekaan bangsa kami."
Kedubes Venezuela menambahkan, "Kami menyerukan kepada seluruh gerakan sosial dan politik untuk bersatu dalam mengecam agresi imperialis ini. Mobilisasi dan solidaritas sangat dibutuhkan pada saat yang krusial ini untuk mempertahankan tanah air, martabat bangsa, serta hak kami untuk menentukan nasib sendiri. Bersama-sama, kita akan melawan dan mengatasi tantangan ini."
"Sang Tiran Telah Tumbang"
Sebagai bagian dari langkah hukum tersebut, otoritas AS secara terkoordinasi membuka dakwaan terhadap 14 pejabat dan individu yang memiliki hubungan dengan pemerintah Venezuela. Pemerintah AS juga menawarkan hadiah total sebesar USD 55 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro dan empat orang lainnya.
Menurut Jaksa Agung AS saat itu, William Barr, langkah tersebut dimaksudkan untuk menyasar seluruh pilar utama yang menopang apa yang ia sebut sebagai "rezim Venezuela yang korup". Pilar-pilar itu meliputi lembaga peradilan yang berada di bawah dominasi Maduro serta angkatan bersenjata yang memiliki pengaruh besar.
Salah satu dakwaan yang diajukan jaksa di New York menuduh Presiden Maduro dan pemimpin Partai Sosialis Venezuela, Diosdado Cabello—yang juga menjabat sebagai ketua majelis konstituante yang berperan mengesahkan kebijakan pemerintah—telah bersekongkol dengan kelompok pemberontak Kolombia serta sejumlah anggota militer. Dakwaan tersebut menyebutkan bahwa mereka bekerja sama untuk membanjiri AS dengan kokain dan menggunakan perdagangan narkoba sebagai sebuah senjata melawan AS.
Sementara itu, pasca pengumuman Trump, Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau menyatakan bahwa aksi militer dan penahanan Maduro menandai fajar baru bagi Venezuela, seraya mengatakan bahwa "sang tiran telah tumbang."
Landau menyampaikan pernyataan tersebut melalui unggahan di platform X beberapa jam setelah serangan berlangsung.
Atasannya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, turut memperkuat sikap tersebut dengan membagikan ulang sebuah unggahan dari bulan Juli yang menyatakan bahwa Maduro "BUKAN Presiden Venezuela dan rezimnya BUKAN pemerintah yang sah."
Laporan : Nasir
Editor : Pramono
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini






