Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Kondisi Siswa SMA 2 Kudus Korban Keracunan MBG Membaik, 21 Anak Masih Rawat Inap

Minggu, 01 Februari 2026 | 10:14:00 AM WIB Last Updated 2026-02-01T02:14:10Z

MEDIAINDONESIA.asia, JAWA TENGAH - Kondisi para siswa SMA 2 Kudus yang sebelumnya menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit karena dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai membaik. Sebagian sudah diperbolehkan pulang.

"Pada 29 Januari 2026 tercatat 47 siswa yang rawat inap, sedangkan hari ini berkurang menjadi tinggal 21 anak," ujar Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Nuryanto di Kudus. Minggu (1/2/2026.

Awalnya, siswa SMA 2 Negeri Kudus yang menjalani perawatan medis dan harus dirujuk ke rumah sakit sebanyak 131 siswa. Kemudian ada yang harus menjalani rawat inap usai mengalami mual, muntah, dan kepala pusing hebat setelah menyantap menu MBG. Mereka kemudian ditangani di sejumlah rumah sakit seperti RSUD Loekmono Hadi Kudus, RS Mardi Rahayu, RS Kartika, RS Kumala Siwi, RS Islam, RS Aisyiyah, dan RS Sarkies Aisyiyah.

Sementara 31 siswa yang saat ini masih menjalani rawat inap tersebar di sejumlah rumah sakit, yakni di RSUD dr Loekmono Hadi, RSI, RS Mardi Rahayu, RS SArkies, RS Aisyiyah, RS KUmala Siwi, RS Kartika Husada, dan RS Nurussyifa.



Ketika seratusan siswa diduga keracunan pada Kamis (29/1), Pemkab Kudus bersama TNI/Polri bergerak cepat melakukan penanganan dengan mengerahkan semua armada ambulans menuju SMA 2 Negeri Kudus untuk membantu pengiriman ke rumah sakit terdekat.

 Sebelumnya, pada Kamis (29/1/2026) lalu tampak belasan unit armada ambulans hilir mudik di halaman sekolah setempat. Ambulans tersebut keluar masuk ke sekolah menuju rumah sakit, merujuk para siswa yang keracunan.

Selain tenaga medis dan tenaga kesehatan dibuat sibuk, kejadian itu juga membuat para orang tua yang anaknya bersekolah di SMA setempat juga kebingungan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Mustiko Wibowo menambahkan, tanda-tanda gangguan kesehatan sebenarnya sudah muncul sebelum para siswa tiba di sekolah.

Menurut Mustiko, sebagian pelajar mengeluhkan pusing dan diare sejak Rabu (28/1/2026) malam. Namun mereka tetap berangkat ke sekolah seperti biasanya.

“Keluhan awal (siswa SMA 2 Kudus) sudah dirasakan saat mereke berada di rumah," tutur Mustiko saat ditemui di SMA 2 Kudus.

Mustiko menyebut, dugaan sementara gangguan kesehatan massal ini mengarah pada menu MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya. Sebab dampaknya baru dirasakan siswa pada keesokan harinya.

Kondisi semakin memburuk saat para siswa berada di lingkungan sekolah. Mereka mulai terserang mual, muntah, hingga diare berat.

Mirisnya lagi, nakes dan guru sekolah setempat menemukan dua siswa yang sempat pingsan dan segera dievakuasi ke rumah sakit.

Hingga pukul 14.00 WIB hari ini, proses evakuasi masih terus berlangsung. Pihak Dinas Kesehatan setempat melaporkan jumlah siswa yang mendapatkan perawatan terus bertambah menjadi 70 orang.Dari informasi yang dihimpun Liputan6.com, pihak SMA 2 Kudus sebenarnya sudah menjalin kerja sama dengan SPPG Yayasan Srikandi Glantengan. Selama beberapa bulan mendapat distribusi MBG dari SPPG tersebut, tak pernah ada keluhan dari pelajar dan guru. Tak Ada masalah soal kualitas menu MBG.

"Selama beberapa bulan menerima MBG dari SPPG Glantengan baik baik saja. Dan siswa pun merasa puas dengan kualitas dan layanan SPPG Glantengan, " ujar salah seorang pegawai SMA 2 Kudus yang enggan disebutkan identitasnya, Jumat (30/1/2026).

Namun sejak 8 Desember 2025, pihak SMA 2 Kudus diduga dipaksa untuk berpindah ke SPPG baru yakni SPPG Purwosari. Lokasi dapur gizi SPPG Purwosari ini, berada di kawasan pabrik pengolahan kapas milik PT Perkebunan Nusantara IX.

Dalam proses perpindahan SPPG Yayasan Srikandi Glantengan ke SPPG Purwosari ini, beredar kabar adanya ‘tekanan’ dari sejumlah pihak.

Pegawai SMA itu menceritakan, sejak awal mereka kurang yakin dengan pelayanan di SPPG Purwosari. Dia Masih ingat betul, bersamaan masa libur siswa usai ujian semester, pihak sekolah didatangi salah seorang anggota DPRD Kudus bersama aparat.

Mereka menemui kepala sekolah dan sejumlah guru. Dalam pertemuan itu, anggota DPRD tersebut meminta pihak sekolah beralih kerja sama dengan SPPG Purwosari. Namun, dia tidak menyebutkan sosok anggota DPRD yang datang ke sekolah saat itu.

"Anggota dewan itu tampak arogan dan mengancam pihak sekolah jika tak mau beralih mendapatkan distribusi MBG di SPPG Purwosari, " ungkapnya kepada Liputan6.com.

Tak ingin situasi memanas, pihak guru SMA 2 Kudus akhirnya menyanggupi untuk berpindah ke SPPG Purwosari.

"Bahkan anggota dewan itu sempat menekan kepala sekolah jika tak mau beralih ke SPPG Purwosari, akan dimutasi ke kabupaten lain, " ucapnya sambil meminta namanya tak disebutkan.

Hingga akhirnya sejak tanggal 8 Desember 2025, pihak SPPG Yayasan Srikandi Glantengan mengakhiri kontrak kerjasama distribusi MBG ke sekolah setempat.

Laporan : Wati

Editor : Riska

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update