MEDIAINDONESIA.asia, JAWA BARAT - Situ Rawa Kalong pernah diproyeksikan sebagai wajah baru ruang publik dan pengendali banjir di Kota Depok. Dengan anggaran sekitar Rp 21 miliar pada era Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, kawasan situ ini direvitalisasi agar menjadi resapan air, ruang olahraga, dan pusat aktivitas warga.
Namun, setelah proyek rampung, kondisi di lapangan tak sepenuhnya sejalan dengan rencana awal. Situ ini justru menyisakan tanda tanya tentang arah pembangunan dan nasib warga di sekitarnya. Situ itu kini berdiri di antara harapan yang pernah besar dan kenyataan yang berjalan terseok.
Saat tim Liputan6.com menyambangi Situ Rawa Kalong pada Sabtu (31/1/2026), situ yang terletak di wilayah Curug , Cimanggis, Kita Depok ini memiliki luas 8,25 hektar. Kondisi kawasan tersebut tampak memprihatinkan. Sampah berserakan di sepanjang jalur jogging, sejumlah fasilitas terlihat rusak terbengkalai, dan toilet umum yang seharusnya dapat digunakan pengunjung justru terkunci rapat.
Proyek yang diharapkan menjadi solusi ekologis di tengah menyusutnya ruang resapan air akibat masifnya pembangunan, justru saat ini kawasan air situ kembali dipenuhi limbah sampah. Secara kasat mata, air Situ Rawa Kalong terlihat tenang. Namun di balik permukaannya, ada persoalan yang tak selalu tampak.
Irdan seorang petugas Operasional dan Pemeliharaan Pekerjaan Umum menjelaskan, kualitas air tidak bisa hanya dinilai dari visual semata.
“Kalau cuman lihat visual sepertinya baik baik aja, tapi kadang kala ada buih keruh yg terkadang terasa gatal kalau tidak segera cuci tangan, setelah terkena tangan saat mengangkatan sampah di air,” ujar Irdan Mimin, menggambarkan kondisi air Situ Rawa Kalong dari sudut pandang orang yang setiap hari bersentuhan langsung dengannya.
“Untuk hasil akurat dari air kita perlu selalu cek pH rutin secara berkala untuk tau lebih lanjut seperti yang Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lakukan dulu,” sambungnya, sembari menambahkan bahwa air yang terlihat baik-baik saja tetap bisa menimbulkan iritasi.
Situ ini masih menjalankan fungsi utamanya sebagai resapan air dan pengendali banjir. Namun fungsi ekologis itu berjalan dengan keterbatasan besar, terutama dalam perawatan dan pengawasan jangka panjang.
Fasilitas Ada, Perawatan Tertatih
Revitalisasi Situ Rawa Kalong menghadirkan jogging track, toilet umum, jembatan apung, hingga ruang publik untuk warga. Namun usia fasilitas itu tak selalu sebanding dengan perawatan yang tersedia.
“Untuk fasilitas kembali lagi ke anggaran, contoh nya toilet,” ujar Irdan.
Dia menyebut, petugas kebersihan mengandalkan kotak sukarela untuk membeli sabun dan peralatan bersih-bersih. Bahkan, jembatan apung yang menjadi ikon situ kini tak lagi berfungsi.
“Untuk jembatan apung memang bisa dibilang (terbengkalai) belum ada tindakan dari DSDA Jabar,” katanya, menegaskan keterbatasan kewenangan karena aset tersebut milik pemerintah provinsi.
Masalah teknis lain pun muncul. Akses kendaraan untuk perawatan nyaris tak ada.
“Sangat di sayangkan fasilitas tangga turun area depan situ itu tidak dapat di lalui kendaraan (truk misalnya) untuk keperluan maintenance,” ujar Irdan dengan nada kecewa.
Liputan : Suryana
Editor : Riska
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

