Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Nyaris Punah, Seniman Kudus Lestarikan Caping Kalo Lewat Seni Tari

Senin, 09 Februari 2026 | 8:46:00 PM WIB Last Updated 2026-02-09T12:46:54Z

MEDIAINDONESIA.asia, JAWA TENGAHKerajinan caping kalo atau penutup kepala tradisional khas Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kini nyaris punah. Pemakaian topi besar tradisional yang dikenakan untuk perempuan ini jumlahnya bisa dihitung jari.

Prihatin dengan kondisi tersebut, sejumlah seniman berupaya 'nguri-nguri' atau melestarikan salah satu kearifan lokal khas Kudus ini.

Upaya kongkret yang dilakukan sejumlah seniman Kota Kretek, sebutan lain Kota Kudus, dengan menuangkanya dalam maha karya Tari Caping Kalo.

Dari sudut pandang kaca mata sejumlah seniman Kudus, mereka melihat bahwa caping kalo bukanlah sekadar properti visual biasa. Namun keberadaanya sarat makna filosofis.

"Anyaman bambu yang rapat dan halus melambangkan kehidupan masyarakat yang rukun dan guyub, " ujar koreografer tari caping kalo, Kinanti Sekar Rahina kepada wartawan, Minggu (8/2/2026).



Sedangkan kerangka bambu yang kokoh, lanjut Kinanti, merepresentasikan jiwa perempuan di kaki Pegunungan Muria Kudus yang kuat dan tabah.

"Selain itu, kehidupan perempuan Muria setia menjaga nurani serta tradisi, baik dalam peran sebagai individu, ibu rumah tangga maupun pekerja, " ucap Kinanti.

Terinspirasi kehidupan perempuan Muria dan caping kalo, Kinanti pun menuangkan idenya ke dalam karya seni tari caping kalo.

Tarian khas Kudus dipersembahkan Kinanti di hadapan publik melalui pagelaran tari caping kalo, di ballroom sebuah hotel di Kudus.

Dalam pagelaran malam itu, sejumlah penari wanita tampak anggun dan gemulai menarikan tari caping kalo.

“Ini (tari caping kalo) adalah karya tari tunggal yang merepresentasikan perempuan Muria yang luwes, pantes dan teguh memegang nilai kehidupan,” ungkap Kinanti.

Caping kalo yang dikenakan di kepala seperti halnya manusia yang menempatkan Tuhan di atas segalanya, tempat bersandar atas kegelisahan dan pengharapan.

Caping kalo sendiri merupakan penutup kepala tradisional berbentuk lingkaran yang terbuat dari anyaman bambu halus dan daun rembuyan.

Dahulu, caping kalo digunakan para petani pegunungan Muria sebagai pelindung dari terik matahari. Kini caping kalo telah berkembang, menjadi ikon budaya dan pelengkap busana adat perempuan Kudus.

Terinspirasi Caping Kalo

Lahirnya tari caping kalo merupakan karya kedua Kinanti Sekar Rahina. Sebelumnya, ia telah menciptakan dua karya tari yang juga terinspirasi dari caping kalo.

Karya sebelumnya bernama tari lajur caping kalo yang diluncurkan pada 7 Oktober 2022. Meski kerap dianggap sebagai sekuel, keduanya berdiri sendiri dengan konsep dan kekuatan artistik yang berbeda.

Tari lajur caping kalo fokus menuangkan proses filosofis pembuatan caping kalo. Meliputi pemilihan bambu yang tidak asal tebang, proses menganyam helai demi helai, hingga terbentuknya caping.

Proses pembuatan caping kalo tersebut, memuat nilai ketelatenan, kebersamaan, rasa syukur serta persatuan yang kuat dalam masyarakat Kudus.

Proses penciptaan karya tari caping kalo melibatkan komposer musik Hamdani. untuk syair dan lagu ditulis sekaligus dinyanyikan oleh Romo Lukas Heri Purnawan MSF.

Menariknya, penulisan lirik dan proses rekaman dilakukan di Buenos Aires, Argentina, di sela-sela tugas pastoral Romo Lukas.

“Hidup di tengah budaya Argentina menjadi tantangan tersendiri untuk menghadirkan nuansa Jawa yang kuat dalam syair dan musik tarian ini,” ujar Romo Lukas, yang akrab disapa Romo Ipeng.

Romo Ipeng pun berharap syair dan nyanyian itu, mampu memperkuat pemahaman penonton terhadap makna caping kalo.

Laporan : Wati

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update