Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Iklan

Menuju Bulan Suci Ramadhan 1447 H

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Menuju Bulan Suci Ramadhan 1447 H

Translate

Unik! Akulturasi Tionghoa-Bali dalam Ritual Tolak Bala Imlek 2577 di Kuta

Selasa, 17 Februari 2026 | 9:13:00 AM WIB Last Updated 2026-02-17T01:13:01Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, BALIRitual tolak bala menjadi wujud akulturasi budaya Tionghoa-Bali menjelang Tahun Baru Imlek 2577. Ratusan orang di Kuta Bali menggelar ritual tersebut untuk menetralisir hal-hal negatif.

“Ini untuk memberikan penghormatan kepada makhluk-makhluk yang tidak terlahir di alam bahagia, kami yakini liong dan barongsai bisa menetralisir hal-hal negatif,” kata Penanggung Jawab Pengurus Vihara Dharmayana Kuta Adi Dharmaja Kusuma, Senin (16/2/2026).

Adi Dharmaja menjelaskan, ritual tolak bala dilakukan dengan parade iringan lima barongsai dan dua liong, sekitar 400 orang warga etnis Tionghoa Kuta berjalan perlahan sambil membawa perlengkapan upacara.

Wujud akulturasi budaya tercermin dari rangkaian ritual, di mana para peserta menggunakan pakaian adat Bali, membawa tedung atau payung dan lelontek atau umbul-umbul yang identik dengan upacara umat Hindu Bali, tak luput juga canang atau sesajen yang berisi bunga untuk dihaturkan.


“Sarana prasarana umat yang melaksanakan persembahyangan pasti setidaknya membawa canang sari, begitu juga gebogan nanti kita akan lihat buah dan bunga yang dirangkai, ada penjor, ada atribut-atribut lainnya,” ujarnya.

Akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dan Bali sendiri diyakini sudah berlangsung ribuan tahun lamanya, mulai dari hadirnya Vihara Dharmayana Kuta tahun 1700.

Adapun yang dipuja utama di wihara tersebut adalah Yang Mulia Toa Kongco Tan Hu Cin Jin yang didampingi oleh dua mahapatih Hindu yaitu Ida Bagus Tiying Kayu dan I Gusti Ngurah Tubu.

“Jadinya akulturasi ini sudah sangat lama karena kita menghormati yang namanya mahapatih bhagawanta dari Bali,” ucapnya.

Prosesi tolak bala sendiri berlangsung pada waktu sore sehari jelang Tahun Baru Imlek 2577 dan tahun ini merupakan kali ke-18 ritual rutin dilakukan.

Para peserta parade berjalan dari Vihara Dharmayana Kuta menuju selatan ke persimpangan Jalan Blambangan-Kalianget.

Rombongan selanjutnya berbelok ke barat dan berhenti sejenak untuk menampilkan atraksi barongsai dan liong.

Menurut Adi Dharmaja, atraksi-atraksi dilakukan sebagai bentuk menetralisir hal-hal negatif di sekitar, biasanya warga Tionghoa umum mengadakan atraksi barongsai dan liong ketika mulai membuka usaha dengan tujuan yang sama.

Ratusan peserta kemudian melanjutkan parade ke pertigaan Jalan Raya Kuta di depan Pura Desa Adat Kuta, kemudian prosesi diakhiri dengan rombongan kembali bergerak menuju Vihara Dharmayana Kuta.

Salah satu wisatawan mancanegara (wisman) asal Italia bernama Nicola terlihat antusias menyaksikan ritual tolak bala.

Kepada media ia mengatakan pertunjukan ini terasa berbeda dengan penampilan barongsai yang ditampilkan di pusat-pusat perbelanjaan.

Menurut dia, pertunjukan oleh warga etnis Tionghoa di Kuta ini persis dengan yang ia saksikan ketika berada di Tiongkok dan Hongkong dulu.

“Saya pernah tinggal di Tiongkok dan Hongkong selama bertahun-tahun dan ini satu-satunya tempat di mana saya melihat sesuatu yang sangat mirip dengan Tiongkok, di Bali biasanya saya melihat barongsai di mal ini pertama lihat di depan kuil dan benar-benar berbeda,” ujarnya.

Liputan : Budi

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update