Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Diduga Akibat Puding Tak Steril, 26 Siswa di Penajam Paser Utara Keracunan

Kamis, 12 Februari 2026 | 11:45:00 AM WIB Last Updated 2026-02-12T03:45:00Z

MEDIAINDONESIA.asia, KALTIM - Keceriaan usai jam istirahat di SDN 008 Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa pada Rabu siang (11/2/2026). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penambah nutrisi justru diduga menjadi pemicu keracunan massal yang membuat puluhan siswa terkapar lemas dengan gejala mual dan muntah hebat.

Insiden bermula saat paket makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Waru tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 Wita. Awalnya, proses distribusi berjalan normal. Namun, hanya berselang singkat setelah siswa melahap menu yang disediakan, suasana sekolah seketika pecah oleh tangisan dan keluhan rasa pusing. Sejumlah anak bahkan tak sanggup menahan mual hingga muntah di area sekolah, memaksa para guru bergerak cepat mengevakuasi mereka ke Puskesmas Waru.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU, Andi Singkerru, mengonfirmasi bahwa dampak dari kejadian ini cukup luas, mencakup siswa dari jenjang pendidikan yang berbeda.

"Tadi itu pengantaran MBG jam 10 pagi dari SPPG wilayah Waru. Laporan yang masuk, ada sekitar 25 anak SD dan satu anak SMA yang terdampak," ungkap Andi.

Andi membeberkan bahwa dirinya baru mengetahui situasi darurat ini di tengah perjalanan kembali dari luar daerah. Pesan mendesak dari Sekretaris Dinas yang masuk ke ponselnya langsung mengubah arah tujuannya hari itu.

"Saya baru sempat buka HP sekitar jam satu siang, ternyata ada informasi genting dari sekretaris dinas. Tanpa pikir panjang, saya langsung putar arah menuju puskesmas untuk memastikan kondisi anak-anak kita," tambahnya.

Kondisi di Puskesmas Waru menggambarkan situasi yang emosional. Ruang perawatan dipenuhi orang tua yang tampak cemas mendampingi buah hati mereka yang terbaring pucat. Beberapa bahkan harus dirawat di lantai.

Beruntung, gerak cepat tim medis membuahkan hasil positif. Setelah menjalani observasi intensif selama beberapa jam, kondisi para siswa berangsur-angsur stabil.


"Syukurlah, penanganannya cepat. Tadi sekitar jam tiga sore lewat, semua anak sudah dipastikan kondisinya aman dan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing," pungkas Andi.

Meski kondisi siswa telah membaik, insiden ini menjadi tamparan keras bagi pelaksanaan program MBG di wilayah Waru. Pihak berwenang, termasuk kepolisian, kini tengah mendalami sisa sampel makanan untuk memastikan zat apa yang memicu reaksi mendadak pada tubuh para siswa tersebut.

Puding Jadi Biang Kerok

Teka-teki penyebab tumbangnya puluhan siswa SDN 008 Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur usai menyantap paket Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menemui titik terang. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU menemukan fakta bahwa ada makanan dari luar dapur dalam menu hari itu, yakni puding yang diambil dari pihak luar, bukan diolah sendiri oleh dapur resmi.

Kepala Disdikpora PPU, Andi Singkerru, tidak menyembunyikan kekecewaannya saat mengungkap temuan ini. Ia menyebut kecerobohan dalam menjaga sterilitas makanan menjadi pemicu utama anak-anak mengalami gejala keracunan.

"Ternyata SPPG kita ini ada yang ambil menu dari luar, itu tadi puding. Padahal aturannya jelas, kalau mau ambil dari luar itu harus yang kemasan pabrik, steril, dan ada tanggal kedaluwarsanya. Contohnya kayak susu atau air mineral yang memang tertutup rapat," kata Andi, Rabu (11/2/2026).

Celakanya, puding yang dibagikan tersebut diduga kuat tidak memenuhi standar keamanan pangan. Kondisi fisik makanan yang tidak terjamin kesterilannya disinyalir menjadi pemicu mual dan muntah yang menyerang pencernaan siswa secara mendadak.

"Begitu anak-anak konsumsi, langsung kejadian (keracunan). Ini kemungkinan besar karena kurang steril. Harusnya bahan-bahan itu diolah sendiri, dimasak sendiri di dapur SPPG, baru dibagikan," tambahnya.

Geram dengan temuan tersebut, Andi mengaku langsung mendatangi kantor SPPG wilayah Waru sesaat setelah menjenguk para siswa di puskesmas. Di hadapan Kadisdik, pengelola SPPG mengakui bahwa mereka memang membeli puding siap saji dari masyarakat untuk melengkapi menu MBG.

"Mereka sudah membenarkan. Saya sampaikan, ini evaluasi besar. Jangan main-main dengan urusan perut anak sekolah," tegasnya lagi.

Menariknya, meski seluruh siswa mengonsumsi menu yang sama, tidak semua anak tumbang. Andi menjelaskan bahwa faktor daya tahan tubuh masing-masing anak memegang peranan penting dalam insiden ini. Hal inilah yang menjelaskan mengapa di jenjang SMA hanya satu orang yang terdampak, sementara di tingkat SD mencapai 25 anak.

"Kondisi fisik anak-anak kita kan beda-beda, tidak sama daya tahannya. Semuanya makan, tapi ada yang kuat, ada yang langsung bereaksi. Apalagi anak SD, mereka lebih rentan kalau kena makanan yang tidak steril sedikit saja," tutup Andi.

Catatan Merah

Kasus ini kini menjadi catatan merah bagi Penajam Paser Utara karena bertetangga langsung dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk memperketat pengawasan terhadap pihak ketiga atau pengelola makanan agar program nasional ini tidak kembali memakan korban.

Meski demikian, pemerintah daerah menegaskan, secara prinsip program MBG sangat membantu siswa, terutama dari keluarga kurang mampu.

"Program ini sebenarnya program yang bagus yang dicanangkan pemerintah agar anak-anak bisa menikmati makanan bergizi. Banyak anak-anak kita dari golongan kurang mampu sangat terbantu," ujarnya.

Namun ia menekankan, pengelolaan makanan harus mengikuti standar keamanan dan kebersihan yang ketat.

"Menu harus sesuai standar, steril, tidak mengandung makanan berbahaya, dan diolah sesuai prosedur," katanya.

Ia bahkan mengingatkan, jika kejadian serupa terulang, bukan tidak mungkin distribusi MBG bisa dihentikan sementara.

"Kalau ini terulang, tentu berisiko besar bisa dihentikan," tegasnya.

Di internal pemerintah daerah, Disdikpora akan berkoordinasi dengan Sekretaris Daerah guna memperkuat pengawasan terhadap SPPG yang saat ini beroperasi di beberapa titik di PPU.

"Nanti di internal kami tentu berkoordinasi juga dengan Pak Sekda untuk proses pengawasan," ujarnya.

Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan. Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara mengatakan penyelidikan masih berlangsung.

"Masih dicari penyebabnya, apakah keracunan atau tidak," ujarnya singkat.

Hingga kini, hasil uji laboratorium belum diumumkan. Pemerintah daerah berharap kejadian ini menjadi evaluasi menyeluruh agar program MBG tetap berjalan dengan standar keamanan yang lebih ketat.

Laporan : Rahmat

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini



TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update