Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Iklan

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Translate

AS Kerahkan 3.500 Personel & Kapal USS Tripoli ke Timur Tengah

Minggu, 29 Maret 2026 | 5:06:00 PM WIB Last Updated 2026-03-29T09:06:47Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, WASHINGTON DC - Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 3.500 personel militer ke Timur Tengah, termasuk kapal perang amfibi USS Tripoli yang membawa sekitar 2.500 Marinir. Langkah ini diumumkan pejabat militer pada Sabtu, seiring meningkatnya intensitas konflik dengan Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa USS Tripoli telah tiba di wilayah operasinya. Kapal ini berfungsi sebagai pusat komando bagi Grup Siap Amfibi Tripoli dan Unit Ekspedisi Marinir ke-31.


Sebagai salah satu kapal perang amfibi paling canggih milik Angkatan Laut AS, USS Tripoli dirancang dengan dek luas yang mampu mengakomodasi berbagai pesawat tempur modern, termasuk jet siluman F-35, pesawat tiltrotor Osprey, serta berbagai aset udara lainnya. Kapal tersebut sebelumnya berpangkalan di Jepang sebelum diperintahkan menuju Timur Tengah hampir dua pekan lalu.

Selain Marinir, kapal ini juga membawa berbagai perlengkapan tempur, termasuk pesawat angkut, pesawat serang, dan kemampuan operasi amfibi. Sementara itu, kapal perang USS Boxer bersama dua kapal lainnya dan unit Marinir tambahan juga telah dikerahkan dari San Diego ke kawasan tersebut, dikutip dari laman CBC, Minggu (29/3/2026).

Dalam pernyataan terpisah, CENTCOM mengungkapkan bahwa sejak dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari, lebih dari 11.000 target telah diserang oleh pasukan AS.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Jumat mengatakan bahwa Washington berupaya mencapai tujuan militernya tanpa pengerahan pasukan darat. Namun, ia menegaskan bahwa Presiden Donald Trump harus tetap siap menghadapi berbagai skenario, dengan kehadiran pasukan yang memberikan fleksibilitas dalam merespons perkembangan di lapangan.

Eskalasi ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, yang melibatkan enam rudal balistik dan 29 drone. Serangan tersebut melukai sedikitnya 10 tentara AS, termasuk dua orang yang mengalami luka serius.

 Konflik yang terus meningkat ini juga berdampak luas terhadap ekonomi global. Gangguan terhadap jalur penerbangan internasional, terganggunya ekspor minyak, serta lonjakan harga energi menjadi konsekuensi langsung dari situasi tersebut. Ketegangan semakin diperparah oleh posisi strategis Iran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia.

Pada saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran turut memperluas konflik. Mereka mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke Israel, yang menurut pihak Israel berhasil dicegat. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari koordinasi dengan Iran dan Hizbullah.

Masuknya Houthi berpotensi memperburuk situasi keamanan maritim global, terutama jika mereka kembali menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Bab el-Mandeb, jalur penting bagi pelayaran menuju Terusan Suez.

Para analis memperingatkan bahwa gangguan di jalur-jalur strategis ini tidak hanya akan mendorong kenaikan harga minyak, tetapi juga mengancam stabilitas perdagangan global secara keseluruhan. Upaya negara-negara untuk mencari jalur alternatif distribusi energi pun terus dilakukan, di tengah ketidakpastian yang semakin meningkat di kawasan tersebut.

Laporan : Nasir

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

----------------------------------------------------------------------------------------------------


Untuk Streaming MEDIA INDONESIA ASIA klik gambar
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" MEDIA INDONESIA ASIA "