Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Iklan

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Translate

Kelompok HAM Peringatkan Lonjakan Kekerasan Pemukim Israel di Tepi Barat

Senin, 16 Maret 2026 | 10:05:00 AM WIB Last Updated 2026-03-16T02:05:07Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, TAHERAN - Kelompok hak asasi manusia dan para pengamat internasional memperingatkan lonjakan terbaru kekerasan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina dan properti mereka, ketika perhatian diplomatik dan media teralihkan oleh perang melawan Iran. Sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, para pemukim telah menewaskan lima warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.

“Di bawah bayang-bayang perang, kerja sama antara militer dan milisi pemukim Israel semakin memperdalam pembersihan etnis di Tepi barat,” tulis kelompok hak asasi Israel B’Tselem di media sosial pada 6 Maret, menjelang laporan yang dirilis Senin tentang pembunuhan beberapa warga Palestina.

“Segera setelah serangan Israel–Amerika terhadap Iran dimulai, Israel memberlakukan pembatasan pergerakan secara luas terhadap warga Palestina di Tepi Barat,” dikutip dari laman DW Indonesia, Senin (16/3/2026).

Menurut B’Tselem, para pemukim sengaja menggembalakan ternak di ladang yang ditanami warga Palestina, merusak tanaman dan persediaan makanan, mencuri ternak, serta merusak panel surya dan tangki air.


Setelah penembakan terbaru pada hari Minggu, European External Action Service (EEAS) dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa “tingkat kekerasan di Tepi Barat tidak dapat diterima.” EEAS juga mendesak otoritas Israel untuk “segera mengambil tindakan efektif guna mencegah serangan lebih lanjut terhadap warga Palestina dan memastikan adanya pertanggungjawaban.”

Serangan Pemukim Palestina Meningkat

Selama 10 hari pertama perang terhadap Iran, kelompok hak asasi Israel Yesh Din mendokumentasikan 109 insiden kekerasan terpisah oleh pemukim terhadap warga Palestina di 62 komunitas, termasuk penembakan, penyerangan fisik, perusakan properti, dan ancaman.

Pada 2 Maret, dua hari setelah perang dimulai, dua saudara Palestina tewas ketika mereka mencoba mencegah pemukim Israel merusak kebun zaitun di Qaryut, sebuah desa kecil di Tepi Barat utara.

Mohammed Taha Muammar ditembak mati bersama Fahim Taha Muammar.

Media The Times of Israel melaporkan bahwa tersangka penembak merupakan anggota pasukan pertahanan wilayah IDF yang dikenal dengan akronim Ibrani Hagmar. Unit ini biasanya terdiri dari pemukim yang bertugas sebagai tentara cadangan.

Keamanan dan Stabilitas

Pada 7 Maret, seorang pemukim menembak dan membunuh Amir Muhammad Shanaran (28) serta melukai kritis saudaranya Khaled di Wadi A-Rakhim, wilayah South Hebron Hills. Sebuah video yang beredar dari B’Tselem menunjukkan seorang pemukim bersenjata yang tampak mengenakan seragam militer di lokasi kejadian.

Kelompok hak asasi Palestina dan Israel telah mendokumentasikan kerja sama erat antara pemukim dan militer Israel, dengan tentara sering kali gagal menegakkan hukum yang dirancang untuk melindungi warga Palestina dari kekerasan pemukim. Sebagian kekerasan juga dilakukan oleh tentara cadangan yang berasal dari permukiman Israel dan ditempatkan di Tepi Barat. Unit-unit tersebut serta unit penjaga privat dalam beberapa bulan terakhir diketahui beroperasi secara terbuka melawan warga Palestina.

Serangan mematikan ketiga terjadi pada Minggu dini hari di Abu Falah, sebuah desa dekat Ramallah. Penduduk desa mengatakan mereka mencoba menghentikan sekelompok warga Israel bertopeng yang merusak pohon zaitun di ladang sekitar desa.

Puluhan pemukim bersenjata kemudian menyerbu desa dan menewaskan Thaer Faruq Hamayel serta Fara Jawdat Hamayel, yang keduanya ditembak di kepala, menurut layanan penyelamat Palestina.

Pasukan Israel tiba kemudian dan menembakkan gas air mata ke desa tersebut, menurut saksi mata. Seorang warga lain meninggal setelah mengalami serangan jantung yang kemungkinan dipicu oleh inhalasi gas, lapor Kementerian Kesehatan Palestina di Ramallah.

Komandan Komando Pusat IDF yang bertanggung jawab atas Tepi Barat, Avi Bluth, menyebut insiden itu “tidak dapat diterima.” Dalam pernyataannya ia mengatakan:

“Tidak akan ada toleransi bagi warga sipil yang mengambil hukum ke tangan mereka sendiri. Tindakan ini berbahaya, tidak mewakili rakyat Yahudi maupun Negara Israel, dan mengalihkan kita dari misi mempertahankan populasi serta menggagalkan terorisme, sekaligus merusak keamanan dan stabilitas di wilayah tersebut.”

Hingga saat ini belum diketahui apakah ada pelaku yang telah ditahan.

Sumber : DW Indonesia

Editor : Riska

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini


----------------------------------------------------------------------------------------------------


Untuk Streaming MEDIA INDONESIA ASIA klik gambar
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" MEDIA INDONESIA ASIA "