Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Iklan

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Translate

Pergerakan Tanah di Sukabumi: 25 Bangunan Rusak, BPBD Bangun Tenda

Minggu, 01 Maret 2026 | 12:40:00 PM WIB Last Updated 2026-03-01T04:40:59Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, SUKABUMI - Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Kabupaten Sukabumi melakukan langkah cepat untuk memitigasi dampak bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung.

Sejak sabtu 28 Februari 2026, personel BPBD telah mendirikan sejumlah tenda darurat guna menjamin keselamatan warga yang rumahnya terancam.

"Hari ini tim melakukan pemasangan tenda untuk pengungsian warga yang terdampak bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe. Sebanyak 6 unit tenda jenis family sudah terpasang di lokasi," kata Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, Minggu (1/3/2026).

Selain enam unit yang sudah berdiri di lokasi bencana, BPBD juga menyiapkan stok cadangan di pusat desa guna mengantisipasi jika terjadi lonjakan jumlah pengungsi sewaktu-waktu.

"Kami juga menyiagakan 4 unit tenda tambahan di Kantor Desa Bantargadung. Ini dilakukan guna mengantisipasi jika tenda yang sudah terpasang saat ini masih dirasa kurang bagi jumlah pengungsi," tambah Daeng.


Hingga saat ini, intensitas pergerakan tanah yang terus meluas memaksa warga meninggalkan kediaman mereka. 

Sebagian warga kini mulai menempati tenda resmi, sementara lainnya memilih mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat atau menyewa hunian sementara di area yang lebih stabil.

Aksi tanggap darurat di lapangan dikawal langsung oleh personel BPBD yang terdiri dari Beki Supriatna, Rengga Manggala, dan Saepuloh. 

Koordinasi teknis juga diperkuat oleh Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Bantargadung, Sihabudin, untuk memastikan distribusi bantuan berjalan lancar. 

25 Bangunan Termasuk Ponpes Rusak

Sebelumnya, kondisi bencana pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan semakin mengkhawatirkan. Eskalasi kerusakan terus meluas menyusul guyuran hujan deras yang melanda wilayah tersebut selama hampir sepekan terakhir.

Berdasarkan tinjauan terbaru Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Bantargadung pada Jumat (27/2/2026), fenomena alam yang terpantau sejak Minggu (22/2) ini telah berdampak masif di lingkungan RT 005, RW 007.

Sebanyak 25 unit bangunan dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari retakan ringan hingga kerusakan struktur yang fatal.

P2BK Bantargadung, Sihabudin, menjelaskan bahwa stabilitas tanah di lokasi tersebut terus menurun akibat tingginya serapan air hujan.

"Bencana ini akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam waktu lama. Kondisi tanah menjadi labil karena jenuh air. Retakan pada dinding dan lantai rumah warga terus bertambah dan masih kami pantau secara berkala," jelas Sihabudin, Sabtu (28/2/2026).

Dari total bangunan yang terdampak, lima di antaranya masuk dalam kategori rusak berat. Kerusakan parah ini menimpa rumah tinggal milik keluarga Diding S, Linda Farida, Muhamad Buhori, dan Ade Elly Saputra.

Selain rumah warga, satu unit gedung Pondok Pesantren (Ponpes) milik Muhamad Abdul Muizzul Falah yang dihuni sekitar 20 jiwa juga mengalami kerusakan struktur yang sangat membahayakan.

Kondisi ini memaksa sejumlah warga untuk segera mengungsi demi menghindari ancaman bangunan roboh.

"Akibat kerusakan berat tersebut, empat kepala keluarga terpaksa mengungsi ke rumah sanak saudara terdekat demi keamanan jiwa. Sementara penghuni pondok pesantren berada dalam pengawasan dan kewaspadaan ketat," tambah dia.

Selain itu, tercatat enam unit rumah mengalami rusak sedang dan 14 unit lainnya mengalami rusak ringan.

Terus Siaga

Pihak P2BK bersama perangkat desa, kecamatan, Koramil, hingga Polsek setempat terus bersiaga melakukan pemantauan kontinu untuk mengantisipasi pergerakan tanah susulan, terutama jika hujan kembali turun dengan deras.

Pihak otoritas pun meminta warga untuk tidak mengabaikan tanda-tanda alam yang muncul di sekitar tempat tinggal mereka.

"Kami mengimbau warga agar tetap waspada. Jika retakan semakin melebar atau terdengar suara pergerakan tanah, segera keluar rumah dan laporkan kepada aparat setempat. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas," tegasnya.

Saat ini, warga dan petugas sangat menantikan kajian teknis dari pihak berwenang untuk memastikan tingkat kerawanan lahan.

Liputan : Suryana

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini


----------------------------------------------------------------------------------------------------

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update