Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Selamat datang di Portal Mediaindonesia.asia, Berita hari ini, Informasi Untuk Masa Depan

Iklan

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Translate

Bau Sampah Ganggu Belajar, Siswa SMAN 2 Cikarang Barat Minta Perhatian Serius KDM

Rabu, 22 April 2026 | 8:33:00 AM WIB Last Updated 2026-04-22T00:33:36Z

BEKASI, MIA – Tumpukan sampah di kawasan perumahan elit Metland Cibitung, tepatnya di Desa Telaga Murni, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, kembali menjadi sorotan publik. Pasalnya, tempat penampungan sampah sementara (TPSS) yang berada tidak jauh di belakang gedung sekolah SMA Negeri 2 Cikarang Barat menimbulkan bau menyengat dan mengganggu proses belajar mengajar para siswa, Selasa (21/4/2026).

Keberadaan TPSS yang berdekatan dengan lingkungan sekolah dinilai tidak ideal. Selain berpotensi mencemari udara dan lingkungan, tumpukan sampah yang terus menggunung menimbulkan ketidaknyamanan bagi siswa yang setiap hari beraktivitas di area tersebut. Bau busuk yang menyebar hingga ke ruang kelas membuat konsentrasi belajar terganggu, bahkan menimbulkan keluhan kesehatan ringan seperti pusing dan mual.

Salah seorang siswi kelas IX bernama Putri mengungkapkan keresahannya terkait kondisi tersebut. Ia menilai lokasi pembuangan sampah di belakang sekolah sangat tidak tepat dan berharap ada perhatian serius dari pemerintah setempat.

“Bau sampahnya sangat mengganggu proses belajar, baunya menyengat sampai kita pusing. Kurang tepat kalau sampah dibuang di sekitar lingkungan sekolah. Kalau bisa dipindahkan, karena sampahnya terus menumpuk,” ujarnya.

Ia juga berharap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dapat turun tangan meninjau langsung kondisi yang dirasakan para siswa, agar persoalan ini segera mendapatkan solusi nyata.

Menanggapi persoalan tersebut, perwakilan Humas Metland Cibitung melalui pesan WhatsApp kepada Mediaindonesia.asia menjelaskan bahwa pengangkutan sampah dari TPSS Metland Cibitung menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng telah dilakukan berdasarkan kerja sama dengan UPTD 3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi.


Menurutnya, dalam kesepakatan tersebut, pengangkutan sampah dilakukan minimal 26 rit dalam satu bulan dan jumlahnya dapat ditambah apabila terjadi penumpukan.

“Berdasarkan kesepakatan dan kerja sama Metland Cibitung dengan pihak UPTD 3 DLH Kabupaten Bekasi, pengangkutan dilakukan sebanyak 26 rit dalam sebulan oleh pihak UPTD,” jelas wakil humas kepada Mediaindonesia.asia dalam pesan singkat.

Namun, pernyataan tersebut justru memunculkan tanda tanya besar. Jika pengangkutan sampah telah dilakukan secara rutin sesuai kesepakatan, mengapa kondisi di lapangan masih menunjukkan tumpukan sampah yang belum tertangani secara optimal?

Dari pantauan di lokasi, terlihat hanya satu unit bak penampungan sampah yang disediakan di area TPSS. Kondisi ini dinilai tidak sebanding dengan volume sampah yang terus bertambah setiap hari. Keterbatasan fasilitas penampungan tersebut menimbulkan kesan bahwa pengelolaan sampah belum direncanakan secara matang dan belum mampu mengimbangi kebutuhan kawasan yang terus berkembang.

Situasi ini juga kembali mengingatkan publik pada komitmen konsep zero waste atau pengelolaan limbah terpadu yang sempat digaungkan oleh pihak pengelola Metland Cibitung bersama Pemerintah Kabupaten Bekasi pada tahun 2022. Hingga kini, implementasi konsep tersebut masih dipertanyakan, terutama ketika persoalan mendasar seperti kapasitas penampungan dan frekuensi pengangkutan sampah masih menjadi kendala di lapangan.

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi tumbuhnya generasi masa depan, bukan tempat di mana siswa harus menahan bau menyengat demi mengikuti pelajaran. Ketika keluhan terus muncul namun penanganan belum menunjukkan perubahan signifikan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan belajar, tetapi juga kualitas kesehatan lingkungan pendidikan.

Kini, pemerintah daerah, pengelola kawasan, serta instansi terkait diharapkan dapat segera mengambil langkah konkret dan terukur. Penanganan yang cepat, transparan, dan berkelanjutan menjadi kunci agar persoalan sampah di lingkungan pendidikan tidak terus berlarut dan berdampak pada kesehatan serta masa depan para siswa. 

Liputan : Ode

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

----------------------------------------------------------------------------------------------------

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" " PT. MEDIA PERS INDONESIA " "