MEDIAINDONESIA.ASIA, TANGERANG - Banyak
orang menganggap hidup mandiri di usia muda sebagai sesuatu yang membanggakan.
Bisa mencari uang sendiri, tidak bergantung pada orang tua, dan terlihat lebih
“dewasa” sering kali dipandang sebagai tanda keberhasilan. Namun, kenyataannya
tidak sesederhana itu. Di balik kemandirian, ada banyak hal yang harus
ditanggung sendirian, mulai dari kelelahan fisik, tekanan pikiran, hingga rasa
sepi yang terkadang sulit diceritakan kepada siapa pun.
Kondisi
ini menjadi semakin berat ketika seseorang berada dalam posisi generasi
sandwich, yaitu individu yang harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri
sekaligus membantu keluarga (Putri, 2021). Saat ini, tidak sedikit mahasiswa
yang sudah berada di posisi tersebut, termasuk penulis sendiri.
Penulis
tumbuh di keluarga broken home, kehilangan sosok ibu, dan tidak lagi
merasakan peran ayah secara utuh. Dalam kondisi tersebut, penulis harus
merantau ke kota orang untuk bekerja sambil kuliah, sekaligus membiayai adik
yang masih duduk di bangku SMP. Dari luar mungkin terlihat kuat, tetapi di
balik itu semua terdapat proses yang tidak mudah, terutama bagi kesehatan
mental.
Generasi
Sandwich di Usia Muda
Generasi
sandwich biasanya identik dengan orang yang sudah mapan atau telah lama
bekerja. Namun, saat ini banyak anak muda, bahkan mahasiswa, yang sudah
merasakan posisi tersebut.
Menjalani
dua peran sekaligus sebagai mahasiswa dan pencari nafkah tentu bukan hal mudah.
Di satu sisi harus memikirkan tugas dan biaya kuliah, sementara di sisi lain
harus bekerja agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi. Belum lagi tanggung jawab
terhadap keluarga dan berbagai tagihan yang harus dibayar.
Tekanan yang dirasakan bukan hanya soal rasa lelah, tetapi juga ketakutan tidak mampu memenuhi kebutuhan finansial, kekhawatiran terhadap masa depan, serta tuntutan untuk selalu terlihat kuat. Menurut Kim dan Choi (2020), kondisi seperti ini dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami stres dan kelelahan mental.
Latar
Belakang Keluarga dan Pengaruhnya
Tumbuh
di keluarga broken home memberikan pengaruh besar terhadap cara
seseorang memandang hidup. Kehilangan ibu, yang sering kali menjadi tempat
pulang dan bercerita, membuat seseorang harus belajar dewasa lebih cepat. Perasaan
tidak memiliki tempat bergantung dan harus menghadapi banyak hal sendirian
menjadi tantangan tersendiri.
Hubungan
dengan ayah yang tidak lagi berperan secara utuh juga dapat memperkuat rasa
kesepian. Hal-hal seperti ini sering kali tidak terlihat dari luar, tetapi
memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental seseorang (Amato, 2018).
Terkadang, masalahnya bukan karena tidak kuat, melainkan karena terlalu lama
memaksa diri untuk tetap kuat.
Hidup
Merantau dan Rutinitas yang Padat
Merantau
ke Tangerang awalnya terasa seperti langkah besar menuju kemandirian. Namun,
setelah dijalani, tantangannya ternyata juga tidak kecil. Aktivitas sehari-hari
diisi dengan bekerja pada pagi hingga sore hari, kemudian dilanjutkan kuliah
pada malam hari.
Waktu
istirahat pun sering kali tidak benar-benar digunakan untuk beristirahat.
Pikiran tentang kondisi keuangan, keluarga, dan masa depan terus datang tanpa
henti. Menurut OECD (2021), kurangnya waktu istirahat dapat berdampak langsung
pada kesehatan mental, seperti mudah lelah, sulit fokus, dan emosi yang tidak
stabil.
Tanggung
Jawab terhadap Adik dan Tekanan Finansial
Salah
satu tantangan terbesar adalah tanggung jawab membiayai adik. Di satu sisi, hal
tersebut menjadi alasan untuk terus semangat menjalani hidup. Namun, di sisi
lain, tanggung jawab itu juga menjadi sumber tekanan.
Ada
ketakutan tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, gagal menjadi penopang
keluarga, atau tidak memiliki pilihan selain terus bertahan. Menurut Lusardi
(2019), masalah finansial merupakan salah satu penyebab utama stres di kalangan
anak muda.
Meski demikian, di balik semua tekanan tersebut, perlahan terbentuk rasa tanggung jawab, kemandirian, dan kemampuan untuk bertahan menghadapi keadaan.
Kesehatan
Mental yang Sering Terlupakan
Di
tengah kesibukan menjalani pekerjaan dan kuliah, kesehatan mental sering kali
menjadi hal terakhir yang dipikirkan. Selama pekerjaan berjalan dan kebutuhan
terpenuhi, kondisi mental dianggap baik-baik saja. Padahal, kelelahan mental
merupakan hal yang nyata.
Kelelahan
tersebut dapat muncul dalam bentuk overthinking, merasa kosong,
kehilangan semangat, atau tiba-tiba ingin menangis tanpa alasan yang jelas.
Menurut WHO (2022), kesehatan mental bukan hanya tentang tidak adanya gangguan
mental, tetapi juga tentang kemampuan seseorang dalam mengelola tekanan hidup
sehari-hari.
Cara
Bertahan secara Realistis
Bertahan
dalam kondisi seperti ini bukan berarti harus selalu terlihat kuat. Justru
penting untuk mengetahui kapan harus berhenti sejenak dan memberi ruang bagi diri
sendiri.
Beberapa
hal sederhana yang dapat membantu antara lain:
·
memberi waktu untuk
diri sendiri meskipun hanya sebentar,
·
bercerita kepada orang
yang dipercaya,
·
tidak terlalu keras terhadap diri sendiri,
·
serta mengingat kembali
tujuan awal mengapa semua perjuangan ini dijalani.
Menurut
Neff (2018), self-compassion atau kemampuan untuk berbaik hati kepada
diri sendiri sangat penting agar seseorang tidak terus-menerus menyalahkan
dirinya sendiri.
Penutup
Hidup
mandiri di usia muda, terutama sebagai bagian dari generasi sandwich, bukanlah
perjalanan yang mudah. Ada banyak tekanan yang harus dihadapi, mulai dari
masalah ekonomi, keluarga, hingga kesehatan mental.
Pengalaman
tumbuh di keluarga broken home, kehilangan ibu, dan harus bertanggung
jawab terhadap adik membuat perjalanan hidup terasa lebih berat. Namun, di sisi
lain, semua pengalaman tersebut juga membentuk pribadi yang lebih mandiri,
tangguh, dan bertanggung jawab.
Hal
yang perlu diingat adalah bahwa menjadi kuat bukan berarti harus selalu terlihat
baik-baik saja. Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan memenuhi
tanggung jawab hidup. Perjuangan ini mungkin berat, tetapi bukan berarti
sia-sia.
Penulis : Anisa Pebrianti
Editor : Tim Redaksi
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

.png)



