Notification

×

PSE

Iklan 1

Berita hari ini, Informasi Untuk Masa Depan

PDAM

Iklan

Translate

iklan kosong

Iklan tiga gambar

Ucapan Kaltara

Iklan1

.........

Translate

Hidup Mandiri di Usia Muda: Tantangan dan Kesehatan Mental Generasi Sandwich

Senin, 25 Mei 2026 | 12:35:00 PM WIB Last Updated 2026-05-25T10:58:21Z

 

MEDIAINDONESIA.ASIA, TANGERANG - Banyak orang menganggap hidup mandiri di usia muda sebagai sesuatu yang membanggakan. Bisa mencari uang sendiri, tidak bergantung pada orang tua, dan terlihat lebih “dewasa” sering kali dipandang sebagai tanda keberhasilan. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Di balik kemandirian, ada banyak hal yang harus ditanggung sendirian, mulai dari kelelahan fisik, tekanan pikiran, hingga rasa sepi yang terkadang sulit diceritakan kepada siapa pun.

Kondisi ini menjadi semakin berat ketika seseorang berada dalam posisi generasi sandwich, yaitu individu yang harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri sekaligus membantu keluarga (Putri, 2021). Saat ini, tidak sedikit mahasiswa yang sudah berada di posisi tersebut, termasuk penulis sendiri.

Penulis tumbuh di keluarga broken home, kehilangan sosok ibu, dan tidak lagi merasakan peran ayah secara utuh. Dalam kondisi tersebut, penulis harus merantau ke kota orang untuk bekerja sambil kuliah, sekaligus membiayai adik yang masih duduk di bangku SMP. Dari luar mungkin terlihat kuat, tetapi di balik itu semua terdapat proses yang tidak mudah, terutama bagi kesehatan mental.

Generasi Sandwich di Usia Muda

Generasi sandwich biasanya identik dengan orang yang sudah mapan atau telah lama bekerja. Namun, saat ini banyak anak muda, bahkan mahasiswa, yang sudah merasakan posisi tersebut.

Menjalani dua peran sekaligus sebagai mahasiswa dan pencari nafkah tentu bukan hal mudah. Di satu sisi harus memikirkan tugas dan biaya kuliah, sementara di sisi lain harus bekerja agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi. Belum lagi tanggung jawab terhadap keluarga dan berbagai tagihan yang harus dibayar.

Tekanan yang dirasakan bukan hanya soal rasa lelah, tetapi juga ketakutan tidak mampu memenuhi kebutuhan finansial, kekhawatiran terhadap masa depan, serta tuntutan untuk selalu terlihat kuat. Menurut Kim dan Choi (2020), kondisi seperti ini dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami stres dan kelelahan mental.

Latar Belakang Keluarga dan Pengaruhnya

Tumbuh di keluarga broken home memberikan pengaruh besar terhadap cara seseorang memandang hidup. Kehilangan ibu, yang sering kali menjadi tempat pulang dan bercerita, membuat seseorang harus belajar dewasa lebih cepat. Perasaan tidak memiliki tempat bergantung dan harus menghadapi banyak hal sendirian menjadi tantangan tersendiri.

Hubungan dengan ayah yang tidak lagi berperan secara utuh juga dapat memperkuat rasa kesepian. Hal-hal seperti ini sering kali tidak terlihat dari luar, tetapi memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental seseorang (Amato, 2018). Terkadang, masalahnya bukan karena tidak kuat, melainkan karena terlalu lama memaksa diri untuk tetap kuat.


Hidup Merantau dan Rutinitas yang Padat

Merantau ke Tangerang awalnya terasa seperti langkah besar menuju kemandirian. Namun, setelah dijalani, tantangannya ternyata juga tidak kecil. Aktivitas sehari-hari diisi dengan bekerja pada pagi hingga sore hari, kemudian dilanjutkan kuliah pada malam hari.

Waktu istirahat pun sering kali tidak benar-benar digunakan untuk beristirahat. Pikiran tentang kondisi keuangan, keluarga, dan masa depan terus datang tanpa henti. Menurut OECD (2021), kurangnya waktu istirahat dapat berdampak langsung pada kesehatan mental, seperti mudah lelah, sulit fokus, dan emosi yang tidak stabil.

Tanggung Jawab terhadap Adik dan Tekanan Finansial

Salah satu tantangan terbesar adalah tanggung jawab membiayai adik. Di satu sisi, hal tersebut menjadi alasan untuk terus semangat menjalani hidup. Namun, di sisi lain, tanggung jawab itu juga menjadi sumber tekanan.

Ada ketakutan tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, gagal menjadi penopang keluarga, atau tidak memiliki pilihan selain terus bertahan. Menurut Lusardi (2019), masalah finansial merupakan salah satu penyebab utama stres di kalangan anak muda.

Meski demikian, di balik semua tekanan tersebut, perlahan terbentuk rasa tanggung jawab, kemandirian, dan kemampuan untuk bertahan menghadapi keadaan.

Kesehatan Mental yang Sering Terlupakan

Di tengah kesibukan menjalani pekerjaan dan kuliah, kesehatan mental sering kali menjadi hal terakhir yang dipikirkan. Selama pekerjaan berjalan dan kebutuhan terpenuhi, kondisi mental dianggap baik-baik saja. Padahal, kelelahan mental merupakan hal yang nyata.

Kelelahan tersebut dapat muncul dalam bentuk overthinking, merasa kosong, kehilangan semangat, atau tiba-tiba ingin menangis tanpa alasan yang jelas. Menurut WHO (2022), kesehatan mental bukan hanya tentang tidak adanya gangguan mental, tetapi juga tentang kemampuan seseorang dalam mengelola tekanan hidup sehari-hari.

Cara Bertahan secara Realistis

Bertahan dalam kondisi seperti ini bukan berarti harus selalu terlihat kuat. Justru penting untuk mengetahui kapan harus berhenti sejenak dan memberi ruang bagi diri sendiri.

Beberapa hal sederhana yang dapat membantu antara lain:

·         memberi waktu untuk diri sendiri meskipun hanya sebentar,

·         bercerita kepada orang yang dipercaya,

·          tidak terlalu keras terhadap diri sendiri,

·         serta mengingat kembali tujuan awal mengapa semua perjuangan ini dijalani.

Menurut Neff (2018), self-compassion atau kemampuan untuk berbaik hati kepada diri sendiri sangat penting agar seseorang tidak terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.

Penutup

Hidup mandiri di usia muda, terutama sebagai bagian dari generasi sandwich, bukanlah perjalanan yang mudah. Ada banyak tekanan yang harus dihadapi, mulai dari masalah ekonomi, keluarga, hingga kesehatan mental.

Pengalaman tumbuh di keluarga broken home, kehilangan ibu, dan harus bertanggung jawab terhadap adik membuat perjalanan hidup terasa lebih berat. Namun, di sisi lain, semua pengalaman tersebut juga membentuk pribadi yang lebih mandiri, tangguh, dan bertanggung jawab.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa menjadi kuat bukan berarti harus selalu terlihat baik-baik saja. Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan memenuhi tanggung jawab hidup. Perjuangan ini mungkin berat, tetapi bukan berarti sia-sia.

Penulis : Anisa Pebrianti 

Editor : Tim Redaksi

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

----------------------------------------------------------------------------------------------------

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" " PT. MEDIA PERS INDONESIA " "