Notification

×

PSE

Iklan 1

Berita hari ini, Informasi Untuk Masa Depan

PDAM

Iklan

Translate

iklan kosong

Iklan tiga gambar

Ucapan Kaltara

Iklan1

.........

Translate

Toleransi Idul Adha: Alasan Warga Kudus Kurban Kerbau Bukan Sapi

Rabu, 27 Mei 2026 | 10:32:00 AM WIB Last Updated 2026-05-27T02:32:24Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, KUDUS - Di Indonesia, hewan kurban yang disembelih saat momen Idul Adha umumnya sapi, kambing, atau domba. Namun berbeda di Kabupaten Kudus. Masyarakat tidak menyembelih sapi sebagai wujud toleransi, dan menggantikannya dengan kerbau. Salah satu kearifan lokal masyarakat Kabupaten Kudus itu masih bertahan hingga saat ini.

Sejarah di balik penyembelihan kerbau oleh masyarakat di Kudus merujuk pada sikap Sunan Kudus, salah satu Wali Songo. Hal itu untuk menghormati penduduk Kudus yang kala itu mayoritas masih beragama Hindu.

Sunan Kudus yang bernama asli Ja’far Shadiq datang ke Kudus pada abad ke-16. Saat itu, Hindu masih banyak dianut masyarakat Kudus. Bagi umat Hindu, sapi adalah hewan suci.

Meskipun pada akhirnya banyak masyarakat Hindu di Kudus beralih memeluk Islam, namun tradisi sikap toleransi yang diwariskan Sunan Kudus masih membumi dan dilakukan warga Kota Kretek saat ini.

Memang pada dasarnya, tidak ada larangan bagi masyarakat muslim di Kudus yang hendak berkurban dengan sapi. Meski tidak terlalu banyak, warga di sejumlah wilayah di Kudus juga menyembelih sapi saat Idu Adha.

Pengurus Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), Denny Nur Hakim mengatakan, tradisi penyembelih kerbau sebagai hewan kurban merupakan salah satu ajaran Sunan Kudus dalam syiar Islam kala itu.

"Berkurban dengan menyembelih kerbau, karena masyarakat Kudus sampai saat ini masih memegang teguh ajaran Sunan Kudus yakni tidak menyembelih sapi," ujar Denny Nur Hakim saat ditemui Liputan6.com, di kawasan Masjid dan Menara Kudus, Selasa (26/5/2026).

Pada masa Sunan Kudus, kata Denny, mayoritas penduduk di tanah Jawa khususnya di Kabupaten Kudus, banyak yang memeluk agama Hindu.

Bagi ummat Hindu, sapi adalah hewan yang disakralkan. Nah untuk menjaga nilai toleransi tersebut, Sunan Kudus mengganti penyembelihan sapi dengan kerbau.

"Masyarakat di Kudus hingga saat ini masih berpegang teguh pada tradisi menyembelih kerbau. Selain itu, kambing atau domba juga digunakan sebagai hewan kurban," terang Denny.

Sejumlah desa di Kudus sudah mulai muncul fenomena menyembelih sapi saat kurban. Tentu saja hal ini sah-sah saja, sebab sebagai bagian dari warga Kudus, perlunya saling menghormati dan toleransi.

Hingga kini, nilai nilai toleransi tersebut masih dipegang kuat oleh masyarakat Kudus. Tak mengherankan, jika setiap menjelang Idul Adha, permintaan kerbau meningkat drastis di wilayah setempat.

Salah satu pembeli, H. Suparjo mengaku memilih kerbau untuk berkurban. Alasannya, karena sudah menjadi tradisi turun temurun di Kudus.

"Berkurban dengan kerbau menjadi bagian dari upaya menjaga ajaran dan warisan budaya religius dari Sunan Kudus, " terang Suparjo, salah satu warga Kudus.

Sementara itu, pedagang kerbau di pasar hewan Kudus, Kasrum, mengaku penjualan kerbau meningkat tajam dalam dua minggu terakhir menjelang Hari Raya Kurban.

Bahkan selama rentang waktu tersebut, Kasrum mampu menjual hingga seratus ekor kerbau untuk kebutuhan Kurban.

Permintaan yang sangat tinggi, tentu saja mendongkrak harga kerbau di Kudus. Harga kerbau pun mengalami kenaikan, antara satu juta hingga satu setengah juta rupiah per ekor dibanding hari biasa.

"Saat ini, harga satu ekor kerbau berkisar antara 23 hingga 30 juta rupiah, tergantung ukuran dan kondisi hewan," terang Kasrum.

Tradisi memilih kerbau sebagai hewan qurban, menjadi salah satu kekhasan masyarakat Kudus yang masih bertahan di tengah modernisasi.

Selain menjadi bagian dari ibadah, tradisi ini juga menjadi pengingat akan nilai toleransi dan kearifan lokal yang diajarkan sunan Kudus kepada masyarakat.

 


Sejarah Kurban Kerbau di Kudus

Sejarah penyembelihan kerbau saat Idu Adha oleh masyarakat Kudus, merujuk pada sikap Sunan Kudus, salah satu Wali Songo, untuk menghormati penduduk Kudus yang mayoritas beragama Hindu.

Sunan Kudus yang bernama asli Ja’far Shadiq, datang ke Kudus pada abad ke-16. Saat itu, agama Hindu masih banyak dianut masyarakat setempat. Bagi umat Hindu sendiri, sapi adalah hewan suci.

Karena sikap menghormati yang dilakukan Sunan Kudus itulah, banyak masyarakat menaruh simpati. Hingga akhirnya secara perlahan, masyarakat tertarik mendengarkan dakwahnya tentang syiar Islam.

Sikap toleransi yang dipegang Sunan Kudus, sebagai media membangun hubungan baik dengan sesama manusia.

Meskipun pada akhirnya masyarakat Hindu di Kudus beralih memeluk Islam, namun tradisi sikap toleransi yang diajarkan Sunan Kudus masih melekat hingga sekarang.

Salah satunya adalah mengganti hewan kurban sapi dengan kerbau, saat perayaan Hari Raya Idul Adha. Namun pada dasarnya, tidak ada larangan bagi masyarakat Muslim di Kudus yang hendak berkurban dengan sapi.

Tak hanya itu, tradisi penyembelihan kerbau, juga melekat dalam sajian kuliner khas Kota Kudus. Di antaranya seperti soto kerbau, nasi pindang kerbau dan sate daging kerbau yang menjadi makanan favorit masyarakat setempat.

Sejumlah desa di Kudus sudah mulai muncul fenomena menyembelih sapi saat kurban. Hal ini syah-syah saja, sebagai bagian dari warga Kudus, kita perlu saling menghormati dan toleransi.

Laporan : Wati

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

----------------------------------------------------------------------------------------------------

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" " PT. MEDIA PERS INDONESIA " "