MEDIAINDONESIA.ASIA, JAKARTA - El Nino kembali mengancam. Indonesia, sebagai negara kepulauan di wilayah tropis, termasuk yang paling rentan menghadapi perubahan pola iklim akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik.
El Nino bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah beberapa kali mengingatkan bahwa kondisi ini dapat memicu penurunan curah hujan secara signifikan di sejumlah wilayah Indonesia. Dampak El Nino tidak hanya suhu yang semakin panas, tapi juga keterbatasan air bersih dan ketahanan pangan.
El Nino diperkirakan membawa musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Bahkan, sejumlah wilayah berpotensi mengalami kekeringan ekstrem yang berdampak langsung pada sektor pertanian.
Di Lampung, kekeringan mulai terasa. Sawah yang mengandalkan hujan kini berubah menjadi kering dan dipenuhi retakan tanah akibat minimnya pasokan air sejak pertengahan Mei 2026. Sejumlah tanaman padi berusia sekira 25 hari bahkan mulai mati.
Selain kekeringan, ancaman lain yang tidak kalah serius adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Saat musim kemarau berlangsung lebih lama dan kelembapan udara menurun, potensi munculnya titik api menjadi lebih tinggi, terutama di kawasan rawan seperti Sumatera dan Kalimantan.
"Ketika tinggi muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, BMKG segera melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan tanah agar tidak mudah terbakar," kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dikutip dari Antara, Kamis (2/7/2026).
Dampak El Nino juga merembet ke sektor ekonomi. Ketika produksi pertanian menurun akibat kekeringan, harga bahan pangan cenderung naik dan memicu tekanan inflasi. Beberapa komoditas seperti beras, cabai, hingga sayuran menjadi lebih rentan mengalami fluktuasi harga karena pasokan terganggu.
Sektor energi dan ketersediaan air juga ikut terdampak. Penurunan debit air di waduk dan sungai dapat mengganggu pasokan listrik dari pembangkit tenaga air. Di sisi lain, masyarakat di daerah tertentu juga harus menghadapi keterbatasan air bersih, terutama jika musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
Menteri PU Bentuk Satgas
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyiapkan langkah antisipatif untuk menghadapi potensi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026–2027. Salah satu langkah utama yang disiapkan adalah pembentukan satuan tugas (satgas) khusus untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mengantisipasi risiko kekeringan.
Dia menjelaskan, pembentukan satgas diperlukan karena penanganan dampak El Nino melibatkan banyak unit kerja di lingkungan Kementerian PU, mulai dari Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA), Direktorat Jenderal Cipta Karya, hingga unit lain yang berkaitan dengan pengelolaan air.
"Karena di sini sudah ada lintas direktorat jenderal (Ditjen), ada Ditjen Sumber Daya Air (SDA), Cipta Karya dan seterusnya, makanya saya merasa perlu ada satgas khusus. El Nino ini memang harus kita antisipasi dari awal," katanya.
Menurut Dody, langkah mitigasi perlu dilakukan sejak dini agar dampak kekeringan tidak mengganggu kebutuhan air masyarakat maupun sektor pertanian yang menjadi penopang ketahanan pangan nasional.
Sebagai bagian dari upaya antisipasi, Kementerian PU telah menjalankan program pengeboran air dalam di sejumlah daerah yang rawan kekeringan sejak awal tahun. Program ini menyasar berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), serta daerah lain yang berpotensi terdampak El Nino seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain memperkuat sumber air baku, Kementerian PU juga meminta Ditjen SDA memperluas pembangunan infrastruktur distribusi air, termasuk jaringan irigasi tersier untuk lahan pertanian.
"Cuma yang sekarang saya minta tambahan kepada rekan-rekan Ditjen SDA agar selain melakukan pengeboran air dalam, khusus untuk air yang diperuntukkan untuk irigasi sawah maupun kebun itu saya mewajibkan juga membuat jaringan irigasi tersier," kata Dody.
Dia menekankan, jaringan irigasi tersier penting untuk memastikan air dapat menjangkau lahan pertanian hingga area paling jauh secara lebih efektif dan efisien, sekaligus mengurangi pemborosan penggunaan air.
"Karena irigasi tersier itu agar air yang mengalir itu bisa mengairi sawah-sawahnya sampai yang terjauh itu bisa tercapai dengan cara yang lebih efektif dan efisien, serta ada penghematan penggunaan air yang bisa kita peruntukkan untuk generasi muda kita ke depan," ujarnya.
Laporan : Mintra
Editor : Riska
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini





