Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Wajah Baru Gerbang Gedung Sate yang Tuai Sorotan

Sabtu, 22 November 2025 | 4:00:00 PM WIB Last Updated 2025-11-22T08:00:00Z

Bandung, MEDIAINDONESIA.asia - Gerbang baru Gedung Sate memicu perbincangan panjang, mulai dari pemerintah yang menyebutnya sebagai penguatan identitas budaya, warga yang menilai renovasi tidak mendesak, hingga ahli cagar budaya yang melihatnya sebagai bentuk adaptasi arsitektur yang sah.

Pintu masuk ikonik kantor Gubernur Jawa Barat itu kini tampil dengan nuansa baru gapura bergaya budaya Sunda berbahan terakota menggantikan bentuk lama yang selama puluhan tahun melekat di ingatan publik.

Sejak beberapa pekan terakhir, wajah kawasan Gedung Sate tampak berubah. Pilar-pilar bata terakota disusun, detail arsitektur Sunda mulai terlihat. Menurut pemerintah, langkah ini bukan sekadar hiasan.

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Jawa Barat, Mas Adi Komar, menegaskan bahwa revitalisasi dilakukan untuk memperkuat karakter visual gedung pemerintahan.

Di sisi lain, beberapa warga mempertanyakan urgensi proyek ini. Kurniawan, warga Kabupaten Bandung, mengatakan perubahan visual Gedung Sate justru menghilangkan ciri khas lama.

"Sayang, kalau sudah gitu ya sudah gitu saja. Itu sudah jadi ikon, sayang kalau diubah," ujarnya.

Menurutnya, perubahan benteng justru menimbulkan pertanyaan soal konsistensi estetika kawasan pemerintahan. Ia khawatir perombakan semacam ini akan terus terjadi setiap kali pejabat berganti.

"Karena kalau gitu (bentuk lama), nanti ganti gubernur ganti lagi. Ini kan gayanya KDM dari Purwakarta, kan bawanya, kalau gubernurnya ganti lagi, nanti ganti lagi," kata pria berusia 42 tahun itu.

Menurutnya, masih banyak kebutuhan lain yang jauh lebih mendesak di Jawa Barat. "Enggak ada urgen, aneh urgennya. Banyak yang lebih penting di Jawa Barat, itu juga pakai anggaran. Kalau sebelumnya belum dipagar lalu dipagar itu jelas, kan ini sudah dipagar," tambahnya.

Keluhan serupa datang dari Mulyana, warga Sindangkerta, yang merasa anggaran semestinya diprioritaskan untuk infrastruktur dasar. "Gedung Sate itu bangunannya sudah bagus. Kalau diubah gitu sayang anggarannya," ujarnya.

Sebagai pengemudi ojek online, ia menyaksikan langsung berbagai persoalan jalan dan lampu penerangan yang belum tertangani.

"Sepanjang jalan dari Cimahi sampai Sindangkerta banyak PJU padam. Lalu di Sindangkerta sendiri masih ditemui banyak jalan rusak," tuturnya.

Ia mempertanyakan prioritas pemerintah yang memilih merombak benteng gedung pemerintahan dibanding memperbaiki kebutuhan dasar masyarakat. "Kenapa enggak ke sana dulu (jalan rusak dan PJU), kenapa harus benteng dulu?" ucap Mulyana.

Di tengah proses pembangunannya, warga maupun netizen di sosial media yang melihat bentuk baru gerbang Gedung Sate menjadi terbelah. Ada yang mendukung karena bentuk gerbang itu merepresentasikan kearifan lokal, tapi tak sedikit yang merasa heran karena sentuhannya berbeda dengan gaya bangunan kolonial.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi pun turut buka suara soal perdebatan netizen di dunia maya. Ia memastikan, pembangunan ulang pagar Gedung Sate menjadi Gapura Candi Bentar sudah dilakukan dengan proses perencanaan bersama arsitektur yanf handal.

"Jangan ngikutin netizen. Kita ngikutin arsitek, gitu loh. Kalau ngikutin netizen, enggak akan selesai-selesai, nanti ada banyak versinya," kata Dedi Mulyadi dikutip Jumat (21/11/2025).

Dedi Mulyadi mengaku pembangunan Gapura Candi Bentar bukan datang secara sembarangan. Secara pribadi, pihaknya mengaku telah mematangkan konsep gapura itu untuk menyempurnakan tata ruang-ruang gedung bersejarah.

"Tapi banyak netizen juga yang memuji, kok. Enggak ada masalah. Kita ikutin arsitek yang ahli di bidang penataan ruang, terutama untuk membangun, menata, menyempurnakan ruang2 gedung yang bersejarah," pungkasnya.

Kontributor Berita : Suryana

Editor : Riska



TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update