Kolintang bukan sekadar alat musik perkusi sederhana yang terbuat dari kayu. Ia adalah jiwa dan identitas masyarakat Minahasa yang kaya akan nilai budaya. Sayangnya, keberadaannya kini mulai terpinggirkan oleh gempuran industri musik modern yang masif. Banyak generasi muda yang bahkan tidak lagi mengenali suara khasnya yang merdu. Fenomena pengabaian ini sungguh sangat memprihatinkan bagi kita sebagai bangsa yang besar. Menurut saya, upaya pelestarian Kolintang adalah sebuah kewajiban yang mutlak dilakukan. Kita tidak boleh membiarkan warisan leluhur ini hilang lenyap begitu saja. Identitas bangsa Indonesia sesungguhnya tersimpan dalam setiap pukulan bilah kayunya. Oleh karena itu, kesadaran kolektif kita harus mulai dibangun sekarang juga.
Keunikan utama Kolintang
sebenarnya terletak pada cara memainkannya yang bersifat ansambel. Alat musik
ini mutlak membutuhkan kerja sama tim yang sangat solid. Tidak ada satu pemain
pun yang bisa mendominasi melodi secara egois. Hal ini secara tidak langsung
mengajarkan kita tentang filosofi hidup gotong royong. Semangat 'Mapalus' atau
saling membantu sangat terasa kental di dalam permainannya. Di era yang semakin
individualis ini, nilai kebersamaan tersebut semakin langka. Bermain Kolintang
melatih kita untuk menekan ego pribadi demi terciptanya harmoni. Kita dipaksa
untuk mendengarkan permainan orang lain dengan saksama dan rasa hormat. Inilah
bentuk pendidikan karakter yang sesungguhnya bagi mentalitas generasi penerus
bangsa.
Tantangan terbesar yang kita hadapi saat ini adalah minimnya minat remaja. Mereka cenderung lebih mengidolakan musik pop barat atau demam genre K-Pop. Musik tradisional sering kali dianggap kuno, kaku, dan membosankan oleh mereka. Anggapan keliru seperti ini jelas sangat berbahaya bagi kelangsungan budaya lokal. Jika pemuda berhenti memainkannya, lantas siapa yang akan meneruskannya di masa depan? Mencari pengrajin kayu berkualitas untuk membuat alatnya pun kini semakin sulit. Kita sedang menghadapi krisis regenerasi seniman dan pengrajin yang sangat nyata. Sekolah-sekolah umum pun jarang menjadikan ini sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang utama. Akibatnya, jarak emosional antara pemuda dan Kolintang semakin hari semakin melebar.
Menurut pendapat saya, inovasi kreatif adalah kunci utama bagi keberlanjutan Kolintang. Kolintang tidak boleh kaku dan harus berani beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menggabungkannya dengan instrumen alat musik modern adalah sebuah ide yang brilian. Kolaborasi dengan genre jazz atau pop pasti akan menarik perhatian publik. Mungkin kaum puritan tidak akan setuju dengan ide pencampuran genre ini. Namun, kita harus berpikir realistis demi bertahan hidup di industri hiburan. Inovasi dapat menjembatani kesenjangan selera musik antara orang tua dan anak muda. Platform digital harus dimanfaatkan maksimal untuk menyebarkan karya-karya baru yang segar. Biarkan kreativitas mengalir bebas agar Kolintang tetap relevan di kehidupan hari ini.
Peran aktif pemerintah juga tidak bisa dipandang sebelah mata dalam hal ini. Upaya mendaftarkan Kolintang ke UNESCO sebagai warisan dunia patut kita apresiasi tinggi. Pengakuan internasional semacam itu akan meningkatkan rasa bangga kita sebagai bangsa. Namun, urusan administrasi dan birokrasi saja tentu belumlah cukup untuk melestarikannya. Festival musik rutin harus lebih sering diadakan di berbagai daerah di Indonesia. Bantuan dana operasional bagi sanggar seni lokal sangatlah dibutuhkan saat ini. Kita harus menjaga aset ini agar negara lain tidak mengklaimnya sepihak. Dukungan negara memberikan legitimasi yang kuat bagi eksistensi alat musik ini. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan aksi masyarakat adalah pondasi yang krusial.
Sebagai penutup, nasib Kolintang sesungguhnya ada di tangan kita semua saat ini. Kita tidak bisa hanya menjadi penonton yang pasif melihat budaya kita mati. Mulailah dengan mendengarkan dan menghargai karya-karya para musisi Kolintang lokal kita. Perkenalkan keindahan suaranya kepada anak-anak dan adik kita sejak usia dini. Jangan biarkan kayu-kayu bersejarah itu hanya diam membisu di pojok museum. Paduan tradisi luhur dan modernitas akan mampu menyelamatkan masa depannya nanti. Mari kita bergerak bersama-sama untuk menjaga warisan leluhur yang berharga ini. Kebanggaan akan budaya sendiri adalah cermin dari kemajuan peradaban suatu bangsa. Biarkan alunan merdu Kolintang terus menggema abadi hingga ke anak cucu.
Kreator : SRI SULASTRI
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini

.png)