SEOUL, MEDIAINDONESIA.asia - Lebih dari 4.000 sekolah di Korea Selatan ditutup karena kekurangan jumlah siswa. Fakta ini diungkapkan oleh seorang anggota parlemen pada (29/12/2025), mencerminkan dampak serius dari penurunan populasi usia sekolah di negara tersebut.
Melansir The Straits Times, anggota Parlemen Jin Sun-mee dari Partai Demokrat yang berkuasa menyampaikan bahwa berdasarkan data yang diperoleh dari kementerian pendidikan, hingga saat ini total 4.008 sekolah tingkat dasar, menengah pertama, dan menengah atas telah berhenti beroperasi.
Dari jumlah tersebut, sekolah dasar mendominasi penutupan dengan total 3.674 sekolah. Sementara itu, 264 adalah sekolah menengah pertama dan 70 adalah sekolah menengah atas. Dalam lima tahun terakhir saja, sebanyak 158 sekolah ditutup dan dalam lima tahun ke depan diperkirakan akan ada tambahan 107 sekolah yang mengalami nasib serupa.
Secara wilayah, Provinsi Jeolla Utara diproyeksikan menjadi daerah dengan jumlah penutupan tertinggi, yaitu 16 sekolah. Posisi berikutnya ditempati Provinsi Jeolla Selatan dengan 15 sekolah, Provinsi Gyeonggi dengan 12 sekolah, serta Provinsi Chungcheong Selatan dengan 11 sekolah. Data ini menunjukkan bahwa penurunan jumlah siswa terjadi lebih tajam di wilayah non-metropolitan dibandingkan daerah perkotaan besar.
Berdampak pada Sistem Pendidikan
Dari total 4.008 sekolah yang telah ditutup, sebanyak 376 sekolah hingga kini belum dimanfaatkan kembali. Sebanyak 266 di antaranya telah dibiarkan kosong selama lebih dari 10 tahun, bahkan 82 sekolah tercatat terbengkalai selama lebih dari 30 tahun.
"Sejumlah besar sekolah telah ditutup dan lebih banyak lagi diperkirakan akan menyusul akibat menurunnya jumlah siswa," ujar Jin.
Ia menekankan perlunya perencanaan jangka panjang untuk mengubah sekolah-sekolah yang ditutup tersebut menjadi aset yang bermanfaat bagi komunitas lokal.
Penurunan jumlah siswa ini juga berdampak langsung pada sistem pendidikan secara keseluruhan. Kementerian Pendidikan menyatakan pada Februari lalu bahwa jumlah formasi guru untuk tahun ajaran 2025 dikurangi sebanyak 2.232 posisi. Rinciannya, jumlah guru sekolah dasar dipangkas 1.289 orang, sementara posisi guru sekolah menengah pertama berkurang 1.700.
Sebagai langkah penyesuaian sementara, otoritas pendidikan mengecilkan ukuran kelas menjadi sekitar 10–15 siswa. Akibatnya, satu angkatan yang sebelumnya hanya terdiri dari satu kelas kini dibagi menjadi beberapa kelas kecil, sehingga jumlah kelas bertambah meskipun total siswa terus menurun.
Laporan : Santoso
Editor : Andi Purba
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini

