Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

MENGHIRUP UDARA "TAJRID" DI BUMI SEKUMPUL: SAAT LOGIKA DUNIA REHAT SEJENAK

Minggu, 28 Desember 2025 | 12:32:00 AM WIB Last Updated 2025-12-28T00:18:35Z

 

Suasana Jemaah Haul Guru Sekumpul Martapura

SEKUMPUL, KALSEL. MEDIAINDONESIA.asia - Dalam khazanah Tasawwuf, khususnya dalam kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha'illah, kita mengenal dua maqam (kedudukan) manusia di hadapan Allah: Maqam Asbab (Kasbi) dan Maqam Tajrid.

Biasanya, kita hidup di maqam Asbab. Kita bekerja, berdagang, dan berusaha mati-matian seolah hasil bergantung pada keringat sendiri, meski hati tetap berusaha berpaut pada Allah. Namun, ada saatnya Allah "menarik" hamba-Nya ke maqam Tajrid—sebuah kondisi di mana keterikatan pada sarana duniawi dilepaskan, dan fokus murni tertuju pada pengabdian serta ketaatan.

Beberapa hari ini, suasana itulah yang dirasakan saat di Sekumpul. Seolah-olah, seluruh kawasan ini sedang dipindahkan secara kolektif dari maqam asbab menuju maqam tajrid. 

Keajaiban Khidmah yang Melampaui Logika

Keberkahan Abah Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani) benar-benar nyata. Meski beliau telah lama berpulang, "magnet" ruhani beliau masih mampu menggerakkan ribuan tangan untuk melakukan kebaikan tanpa pamrih.

Lihatlah di sekeliling kita:

Logika ekonomi seolah berhenti: Orang-orang berebut menggratiskan bensin, sesuatu yang di hari biasa kita hitung tiap liternya.

Lelah yang menjadi lillah: Ada yang sukarela memijat jamaah yang kelelahan, memberikan raga mereka untuk melayani tamu yang tak mereka kenal.

Jamuan tak bertepi: Makanan melimpah ruah, pintu-pintu rumah terbuka lebar menjamu para jama'ah dengan penuh hormat.

Karomah yang Menyatukan Ummat

Inilah bukti bahwa beliau adalah Wasilah (jalan) kebaikan yang tak terputus. Beliau menjadi jalan bagi orang banyak untuk menjemput rezeki batiniah, menjadi jembatan silaturahmi antar-umat yang mungkin setahun sekali baru bisa bertemu dalam frekuensi iman yang sama.

Di Sekumpul, kita belajar bahwa hidup tidak melulu soal "mendapat", tapi soal "memberi". Kita merasakan betapa nikmatnya menjadi hamba yang tajrid—yang tidak khawatir akan hari esok karena yakin bahwa Sang Pemilik Rezeki sedang menjamu kita melalui tangan sesama.

Keberkahan ini adalah warisan cinta. Sebuah pengingat bahwa ketika seorang hamba sudah "selesai" dengan dirinya dan hanya fokus kepada Allah seperti Abah Guru, maka Allah-lah yang akan menggerakkan seluruh alam untuk mencintai dan meneruskan jejak kebaikannya.

Mudah-mudahan kita semua yang hadir, baik secara fisik maupun batin, mendapatkan tetesan keberkahan dari maqam tajrid ini, dan pulang membawa hati yang lebih bersih, Amin ya robbal alamin.

Kontributor  Berita : Mansyur

Editor : Riska

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update