Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

OOTD dan Krisis Identitas: Ketika Penampilan Menentukan Harga Diri

Sabtu, 06 Desember 2025 | 10:20:00 PM WIB Last Updated 2025-12-06T14:21:01Z

 

"Apakah penampilan benar-benar mencerminkan siapa kita?"

Pertanyaan ini terasa penting di tengah budaya #OOTD yang menjadikan fashion sebagai simbol eksistensi anak muda jaman sekarang.

Di era media sosial saat ini, tampilan visual seolah menjadi ukuran utama untuk diakui. Tren OOTD (Outfit of The Day) kini membanjiri Instagram dan Tik-Tok, menampilkan deretan busana, Sepatu, dan aksesori yang disusun rapi demi satu tujuan: tampil menarik di mata public digital. Fashion kini bukan sekedar soal pakaian, tapi bagaimana seseorang ingin dipersepsikan. Di balik, warna pastel, filter cerah, dan pose estetik, tersembunyi realitas yang mengkhawatirkan, yakni identitas yang dibangun di atas penampilan semu dan konsumsi tanpa henti.

Fenomena ini menggambarkan betapa kuatnya pengaruh budaya konsumtif dalam kehidupan anak muda, terutama Generasi Z. Media sosial menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan bisa dibeli dengan membeli barang-barang baru. Algoritma bekerja seperti cermin yang menipu, terus menampilkan tren fashion terbaru dan menanamkan rasa "kurang" jika kita tidak ikut memilikinya. Akibatnya, fashion menjadi arena kompetisi simbolik: siapa yang paling trendi, siapa yang paling "aesthetic". Tidak sedikit remaja yang merasa tidak percaya diri hanya karena baju mereka tidak bermerek atau tidak sesuai tren.

Dalam situasi seperti ini, makna fashion bergeser dari sarana ekspresi diri menjadi alat pembuktian sosial. Kita membeli bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan tren. Perilaku konsumtif ini tumbuh karena adanya tekanan sosial untuk selalu tampil sempurna. Dibalik setiap unggahan #OOTD, sering kali terselip perasaan cemas: "Apakah aku cukup keren?", "Apakah mereka akan menyukai gayaku?". Fashion yang seharusnya membebaskan, sekarang justru menjadi penjara baru, yaitu penjara citra. Identitas kita terancam menjadi sekedar hasil editan dan rekomendasi algoritma

Fenomena ini bukan sekedar persoalan gaya hidup, melainkan juga persoalan psikologis. Banyak anak muda terjebak dalam fear of missing out (FOMO), ketakutan tertinggal tren dan kehilangan penerimaan sosial. Media sosial menumbuhkan budaya perbandingan tanpa henti, di mana setiap unggahan orang lain menjadi tolak ukur kebahagiaan diri. Padahal rasa cukup dan percaya diri tidak ditentukan oleh pakaian baru dan merek apa, tetapi oleh penerimaan diri yang tulus.

Industri fast fashion ikut memperkuat lingkaran ini. Setiap minggu muncul tren dan koleksi baru dengan harga yang terjangkau menyebabkan masyarakat terus menerus untuk membeli. Kita seolah didorong untuk selalu memperbarui isi lemari, meski sebagian besar pakaian hanya dipakai beberapa kali. Lebih dari itu, dampaknya juga terasa pada lingkungan. Data Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebutkan bahwa industri fashion menyumbang limbah air terbesar kedua di dunia. Dibalik tampilan estetik dan busana kekinian, tersimpan jejak polusi yang jarang disadari.

Namun, tidak semua yang terjadi pada dunia fashion berujung pada hal negatif. Di tengah derasnya arus konsumerisme, muncul pula gerakan slow fashion yang mengajak masyarakat lebih sadar terhadap dampak sosial dan lingkungan dari kebiasaan belanja berlebihan. Gerakan ini mengingatkan kita bahwa setiap pakaian punya jejak, mulai tenaga kerja yang membuatnya, bahan yang digunakan, hingga limbah yang dihasilkan. Dengan memilih untuk membeli secara bijak, kita bisa mengembalikan makna fashion sebagai ruang ekspresi yang lebih jujur dan beretika.

Krisis identitas di era digital tidak hanya terjadi karena tekanan penampilan, tetapi juga karena hilangnya refleksi diri. Banyak anak muda lebih mengenal diri meraka lewat cermin kamera daripada lewat pengalaman nyata. Meraka mengejar validasi orang tanpa benar-benar memahami siapa mereka dibalik layar. Padahal, identitas tidak dibangun dari seberapa modis kita berpakaian, tetapi dari nilai-nilai yang kita pegang dan cara kita memandang diri sendiri.

Sudah saatnya kita mengembalikan kendali atas diri kita dar tangan algoritma dan tren musiman, karena jika kita terus menerus mengikuti tren tidak akan ada habisnya. Tidak ada yang salah dalam menyukai fashion dan mengikuti tren, selama kita tidak kehilangan kesadaran diri. Menjadi stylish tidak harus berarti konsumtif, dan tampil menarik tidak harus mengorbankan keaslian. Media sosial boleh menuntut kesempurnaan visual, tapi manusia sejati tetap dinilai dari cara berpikir dan bertindak.

Fashion memang bahasa tubuh yang bisa memancarkan kepercayaan diri, tetapi jangan biarkan bahasa itu menenggelamkan suara hati. Tren akan datang dan pergi, namun jati diri seharusnya tidak ikut tergadaikan. Di balik setiap pakaian yang kita kenakan, seharusnya ada cerita, nilai, dan kesadaran, karena keindahan sejati bukanlah soal merek atau harga, melainkan tentang keberanian menjadi diri sendiri tanpa perlu pembuktian lewat penampilan.

Oleh Nadia Aura Salsabila


TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update