Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Update Korban Bencana Sumatra Minggu Pagi 7 Desember 2025: 916 Orang Meninggal, 274 Hilang

Minggu, 07 Desember 2025 | 9:48:00 AM WIB Last Updated 2025-12-07T01:48:45Z

 

JAKARTA, MEDIAINDONESIA.asia - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data korban akibat banjir dan longsor yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.

Hingga Minggu pagi (7/12/2025) pukul 08.20 WIB, tercatat 916 orang meninggal dunia dan 274 orang masih hilang. Jumlah ini berasal dari Data Dashboard Penanganan Banjir dan Longsor Sumatra BNPB.

"Update Data Per 7 Desember 2025: meninggal 916 jiwa, hilang 274 jiwa, terluka 4,2Rb jiwa," tulis BNPB, Minggu (7/12/2025).

Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat kerusakan infrastruktur. Tercatat 1.300 fasilitas umum rusak, 420 rumah ibadah, 199 fasilitas kesehatan, 234 gedung/kantor, 697 fasilitas pendidikan, dan 405 jembatan terdampak. Sementara itu, sebanyak 105.900 rumah mengalami kerusakan.

Sebelumnya, pada Sabtu (6/12/2025), BNPB mencatat jumlah korban meninggal akibat bencana di Sumatra mencapai 914 jiwa. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan sebaran korban meninggal tersebut.

Di Aceh, tercatat 359 orang meninggal dunia, meningkat 14 orang dari data sebelumnya yang mencatat 345 korban tewas.

"Kemudian Sumatra Utara 329 jiwa dan Sumatra Barat 226 jiwa," jelas Muhari dalam konferensi pers, Sabtu (6/12/2025).

Penyebab Banjir di Sumatera

Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sekitarnya sejak 24 November 2025 bukan hanya akibat curah hujan ekstrem.

Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah menyebut bencana besar ini terjadi karena interaksi tiga faktor. Pertama, kondisi atmosfer yang sangat aktif. Kedua, kerusakan lingkungan yang menurunkan daya resap tanah. Terakhir, melemahnya kapasitas tampung wilayah.

Rais Abdillah menjelaskan, wilayah Sumatera bagian utara memang sedang berada pada puncak musim hujan yang memiliki karakteristik berbeda dengan wilayah lain di Indonesia.

“Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan, karena Sumatera bagian utara memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun, dan saat ini berada pada puncaknya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/11/2025).

Pada periode tersebut, curah hujan di wilayah lebih dari 150 milimeter. Bahkan ada stasiun BMKG yang mencatat lebih dari 300 milimeter dalam satu hari. Angka itu mendekati curah hujan ekstrem yang menyebabkan banjir besar Jakarta pada 2020.

Selain puncak musim hujan, Rais mengungkap adanya fenomena atmosfer yang memperkuat hujan ekstrem. Pada 24 November, terlihat pusaran atau vortex dari Semenanjung Malaysia yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka.

“Siklon ini memang tidak sekuat siklon Samudra Hindia, tetapi cukup untuk meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas cakupan presipitasi di Sumatera bagian utara,” jelasnya.

Dia menambahkan, indikasi cold surge vortex dan sistem skala meso turut mendorong terbentuknya awan hujan besar sehingga intensitas presipitasi meningkat tajam.

Dari sisi geospasial, penurunan tutupan vegetasi, perubahan fungsi lahan, dan menurunnya kapasitas tampung lingkungan menjadi faktor yang memperburuk kondisi banjir di lapangan.

Bukan Hanya soal Hujan

Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, menegaskan bahwa besar kecilnya kerusakan akibat hujan tidak hanya ditentukan oleh intensitas curah hujan.

"Banjir bukan hanya soal hujan. Ini soal bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi," ujarnya.

Menurutnya, kawasan berhutan memiliki kemampuan infiltrasi yang tinggi. Jika area tersebut berubah menjadi permukiman, perkebunan intensif, atau lahan terbuka maka kehilangan kemampuan menyerap air.

"Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir," kata Heri.

Dia menilai peta bahaya banjir di Indonesia belum sepenuhnya akurat karena keterbatasan data geospasial dan pemodelan yang belum komprehensif. Padahal, perencanaan tata ruang berbasis risiko sangat penting untuk mencegah bencana serupa terulang.


TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update