Tangerang, MEDIAINDONESIA.asia - Kritikan mungkin dianggap sebagian pemangku kebijakan, dianggap kebencian atau mengganggu proses pembangunan, namun masih ada bahkan mungkin banyak yang bijak dan menganggap bahwa kritikan adalah salah satu bentuk kepedulian atau menganggap sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan perkembangan dan kemajuan pembangunan kearah yang jauh lebih baik.
Mungkin sebagian OPD, Walikota dan anggota DPRD Kota Tangerang menganggap kritikan - kritikan yang pernah kami sampaikan dianggap benci dan menggangu perkembangan pembangunan. Bila seandainya memang beranggapan demikian, itu salah besar dan perlu diluruskan.
Mengkritisi jangan lantas dianggap oposisi dan bukan berarti kami benci. Tapi itu bentuk rasa peduli dan ingin proses pembangunan bisa bergerak kearah yang jauh lebih baik, yaitu proses pembangunan yang dirasakan secara berkeadilan. Kita seringkali menyadari, bahwa dalam proses pembangunan jarang ada yang sempurna, pasti ada saja kekurangannya. Namun jangan dijadikan alasan untuk menutupi kesalahan atau kekurangan.
Kami dari Lembaga Swadaya Masyarakat Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan ( LSM MAUNG ) DPC Kota Tangerang, menilai, seorang pemimpin yang bijaksana, tidak akan tendensi dan benci saat dikritisi. Justru sebaliknya akan mengapresiasi dan akan dijadikan evaluasi. Terlebih kritikan tersebut didasari argumentasi dan rasa tanggung jawab tinggi. Dengan adanya kritikan, jadi tidak terlena dan bisa lebih tahu kesalahan atau kekurangan yang kita miliki. Kemudian yang mengkritisi tidak bisa dituntut memberikan solusi, karena yang berwenang dan berkewajiban memberikan solusi itu adalah pemangku kebijakan tertinggi di daerah, yaitu Walikota bersama DPRD. Jadi kami tegaskan kembali, mengkritisi bukan membenci, tapi kami peduli dengan pembangunan kota kami.

