MEDIAINDONESIA.asia, JAKARTA - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menegaskan sektor transportasi menjadi salah satu penentu utama keberhasilan pencapaian target penurunan emisi nasional.
Tingginya kontribusi sektor ini terhadap emisi gas rumah kaca membuat upaya transformasi menuju sistem transportasi rendah emisi dinilai tidak bisa ditunda, sekaligus membutuhkan keterlibatan aktif berbagai pihak, termasuk generasi muda.
Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLH Haruki Agustina menyebut, pengembangan kepemimpinan mahasiswa di bidang transportasi berkelanjutan merupakan langkah strategis untuk mendorong aksi mitigasi perubahan iklim yang lebih konkret dan berkelanjutan.
Dengan dukungan pengetahuan dan jejaring yang memadai, generasi muda diharapkan mampu melahirkan gagasan inovatif dan solusi aplikatif yang dapat diterapkan di berbagai sektor transportasi.
"Sektor transportasi merupakan salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca. Karena itu, diperlukan pemimpin-pemimpin muda yang mampu menghadirkan gagasan, inovasi, dan aksi nyata untuk mendorong transformasi menuju transportasi rendah emisi," ujar Haruki, melansir Antara, Selasa (20/1/2026).
Komitmen Indonesia dalam menurunkan emisi telah tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC) yang menjadi peta jalan pembangunan rendah karbon.
Upaya tersebut dinilai penting untuk memastikan transisi menuju transportasi rendah emisi berjalan konsisten dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian target penurunan emisi Indonesia.
Transportasi Berkelanjutan Jadi Penentu Target Emisi
Dalam kerangka pencapaian target penurunan emisi, sektor transportasi dipandang sebagai subsektor strategis yang menuntut perubahan mendasar pada pola mobilitas masyarakat.
Transformasi tersebut mencakup peralihan ke angkutan umum massal, integrasi antarmoda, percepatan elektrifikasi kendaraan, serta penguatan moda berjalan kaki dan bersepeda sebagai bagian dari mobilitas rendah karbon.
Kondisi tersebut semakin mendesak setelah kajian Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat kenaikan suhu permukaan bumi hingga 1,45 derajat Celsius sepanjang 1970–2023.
Mahasiswa Didorong Hadirkan Aksi Nyata
Pengembangan kepemimpinan mahasiswa di bidang transportasi berkelanjutan menjadi langkah strategis dalam mendorong aksi mitigasi perubahan iklim yang lebih konkret dan berkelanjutan.
“Khusus bagi kalangan mahasiswa diharapkan mampu menjembatani visi kebijakan nasional dengan implementasi di tingkat lokal melalui riset, kampanye, dan inovasi transportasi berkelanjutan,” cetusnya.
Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui Program Future Leaders in Sustainable Transport (FIRST) yang diikuti 30 mahasiswa dari berbagai daerah, mulai dari Jabodetabek, Medan, Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Makassar.
Program yang didukung kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris ini menjadi ruang pembentukan kapasitas kepemimpinan generasi muda di sektor transportasi rendah emisi.
Selama program berlangsung, para peserta mendapatkan pendampingan intensif terkait teknologi dan inovasi digital, kebijakan dan regulasi, serta pendekatan sosial-budaya dari instruktur profesional, baik dari lembaga pemerintah maupun swasta multinasional.
Haruki berharap para peserta mampu menjadi agent of change yang memperkuat upaya mitigasi iklim di sektor transportasi sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan kota yang lebih layak huni, sehat, dan berkeadilan di masa depan.
Angka itu hanya terpaut 0,05 derajat Celsius dari ambang batas peningkatan suhu global 1,5 derajat Celsius yang disepakati negara-negara dunia, termasuk Indonesia, dalam Paris Agreement 2015.
Laporan : Mirna
Editor : Andi Purba
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

