Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Kronologi Kades di Lampung Tewas Diserang dan Diinjak Gajah

Kamis, 01 Januari 2026 | 5:30:00 PM WIB Last Updated 2026-01-01T09:30:00Z

 

LAMPUNG, MEDIAINDONESIA.asia - Siang itu, Darusman Kepala Desa Braja Asri, Kecamatan Way JeparaLampung Timur, baru saja menghadiri acara ulang tahun di desa tetangga. Suasana masih hangat, tawa warga masih terdengar. Tiba-tiba sebuah panggilan telepon berbunyi. Mengubah segalanya. Di seberang sana, kabar datang: gajah liar masuk ke wilayah perkebunan desa.

Tanpa banyak berpikir, Darusman bergegas. Seperti hari-hari sebelumnya, dia memilih turun langsung. Memimpin. Mendampingi. Melindungi warganya. Rabu (31/12/2025) sekitar pukul 11.10 WIB itu menjadi perjalanan terakhirnya.

Di perbatasan kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dengan kebun karet milik warga Desa Braja Asri, Darusman menghembuskan napas terakhir setelah diserang gajah liar yang tengah dihalau agar kembali ke habitatnya.

Kepergiannya menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi warga desa yang selama ini mengenalnya sebagai pemimpin yang tak pernah bersembunyi di balik meja.

Di rumah duka, kesedihan masih menggantung di udara. Kakak kandung almarhum, Khusnan, berkali-kali menarik napas panjang saat mencoba merangkai kata.

“Kami sebagai keluarga besar tentu sangat sedih dan terpukul. Kejadian ini benar-benar mengejutkan kami semua,” ujarnya lirih, Kamis (1/1/2026). 


Namun di balik duka, ada kegelisahan yang lebih besar. Khusnan menegaskan, konflik antara manusia dan gajah liar di Lampung Timur bukanlah cerita baru.

“Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali. Sudah berulang. Harusnya ini jadi perhatian serius pemerintah. Jangan sampai terus memakan korban jiwa,” tegasnya. 

Gajah liar kerap turun ke kebun warga, kebun karet, ladang, hingga lahan yang menunggu panen. Dalam situasi genting itu, warga desa sering kali hanya mengandalkan keberanian, tanpa perlengkapan atau pengetahuan memadai. 

“Masyarakat jelas tidak bisa menghalau gajah sepenuhnya. Hari ini harus jadi pelajaran besar,” ujarnya.

Obrolan Terakhir dan Firasat Buruk

Beberapa hari sebelum tragedi, Darusman masih tampak ceria. Minggu lalu, ia sempat mampir ke rumah sang kakak di Pasir Sakti, setelah mengantar keponakannya ke Bakauheni.

“Kami foto bareng. Dia cerita ingin pulang ke Tasikmalaya, kampung orang tua kami,” kenang Khusnan.

Namun, firasat buruk datang sehari sebelum kejadian. Dia mendengar adiknya sedang kurang sehat. Dia berniat bertemu, tapi tak sempat. 

“Kemarin, saat saya antar istri ke dokter, saya dapat telepon, Adik saya diserang dan diinjak gajah,” tuturnya, suara bergetar.

Darusman sempat dilarikan dengan ambulans menuju RS Jenderal Ahmad Yani, Kota Metro. Namun takdir berkata lain. Dia menghembuskan napas terakhir di perjalanan. 

Jenazahnya dimakamkan di Desa Braja Sakti, kampung halaman keluarga, Rabu sore (31/12). Tangis keluarga dan warga pecah, mengiringi kepergian seorang kepala desa yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan.

Bupati Kehilangan Sosok Orang Baik

Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, datang langsung ke rumah duka. 

“Kami merasa kehilangan yang sangat dalam. Pak Kades orang baik, totalitas dalam pengabdian dan selalu mengayomi warga,” ujarnya. 

Menurut Ela, keberanian Darusman adalah cermin dedikasi seorang pemimpin desa. Namun tragedi ini juga menjadi peringatan keras.

“Keberanian harus dibarengi sistem yang aman. Ini pelajaran penting bagi kita semua,” katanya. 

Pemkab Lampung Timur, lanjut Ela, akan memperkuat koordinasi dengan Balai TNWK dan Kementerian Kehutanan. Salah satu langkah mendesak adalah meluncurkan Satgas Khusus Mitigasi Konflik Satwa Liar.

“Satgas ini harus segera kita launching agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah daerah telah membangun tanggul sepanjang 1,3 kilometer di Desa Braja Asri untuk mencegah gajah masuk ke permukiman dan kebun warga.

Namun Ela juga mengingatkan masyarakat agar tidak terlibat langsung jika belum memiliki kesiapan.

“Yang belum siap, mohon menyingkir. Jangan sampai ikut interaksi langsung,” imbaunya.

Ke depan, ia akan menggandeng WCS dan berbagai pihak untuk pelatihan dan pemberdayaan warga. 

“Ini bukan kejadian biasa. Ketika manusia dan gajah berhadapan, semua harus terkoordinasi. Jangan sampai keberanian berubah menjadi kehilangan,” tandasnya.

Laporan : Subari

Editor : Riska

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini


TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update