Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Tambang Batu Bara di Berau Lebih Rendah dari Sungai, Awas Bencana di Depan Mata

Kamis, 22 Januari 2026 | 8:32:00 AM WIB Last Updated 2026-01-22T00:42:21Z

MEDIAINDONESIA.asia, KALTIM  - Sebuah video singkat yang direkam dari balik jendela pesawat mendadak viral di media sosial. Dalam rekaman itu, terlihat lubang tambang batu bara menganga lebar, nyaris berdampingan dengan aliran sungai berwarna kecokelatan. Banyak warganet terkejut sebab kedalaman tambang tampak lebih rendah dibanding permukaan sungai di sekitarnya.

Video tersebut diambil saat pesawat melintas di wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, tepatnya di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Kelay. Viralitas video itu memicu pertanyaan serius yakni seberapa aman jarak antara tambang terbuka dan sungai yang menjadi urat nadi kehidupan warga Berau?

Setelah video tersebut beredar luas, upaya penelusuran dilakukan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan. Investigasi dilakukan oleh Jaringan Penulis Alam (JPA), forum jurnalis lintas media yang fokus pada isu lingkungan dan tata kelola sumber daya alam, pada pekan kedua Januari 2025 lalu.



"Berdasarkan pengamatan, terutama dari foto udara yang diambil, jarak antara sungai dan lubang tambang tidak sampai 100 meter.

Jarak kritis ini memunculkan tanda tanya besar soal keselamatan lingkungan dan warga di hilir sungai. Investigasi visual juga menunjukkan adanya jalur operasional kendaraan berat yang melintas tepat di punggungan tanggul.

Truk-truk besar pengangkut material tambang diduga rutin melintas di area yang seharusnya menjadi benteng terakhir antara lubang tambang dan sungai. Getaran berulang dan beban berat kendaraan di atas tanggul tersebut dinilai meningkatkan risiko ketidakstabilan struktur tanah. Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan hulu, tekanan air sungai bisa menjadi faktor pemicu kegagalan tanggul dalam waktu singkat.

Kedekatan ekstrem antara tambang dan sungai menciptakan risiko ganda. Di satu sisi, air sungai berpotensi mengintrusi area tambang dan menenggelamkan pit terbuka. Di sisi lain, jika tanggul runtuh, material tambang, termasuk tanah dan batu bara, dapat langsung mencemari Sungai Kelay.

"Dampaknya bukan sekadar pencemaran. Sungai Kelay merupakan jalur transportasi utama, sumber air baku, serta penopang ekosistem dan kehidupan masyarakat serta kampung-kampung di sepanjang alirannya. Runtuhnya tanggul bisa menyebabkan pendangkalan sungai, perubahan aliran air, hingga banjir besar yang berulang," tambah Anjas.

Temuan investigasi ini mengingatkan kembali pada tragedi jebolnya tanggul tambang sebuah perusahaan batu bara di Kecamatan Sambaliung pada Mei 2021. Lokasinya pun tak jauh dari lokasi investigasi ini. Saat itu, luapan Sungai Kelay menghancurkan tanggul perusahaan dan merendam pit tambang aktif.

Akibat kejadian tersebut, akses darat menuju Kampung Bena Baru terputus total. Warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi karena derasnya aliran air yang datang secara mendadak. Tidak ada sistem peringatan dini yang memberi alarm kepada masyarakat sebelum bencana terjadi.

Melihat kondisi terkini dari foto udara hasil investigasi ini, potensi kejadian serupa, bahkan dengan skala yang lebih besar, dinilai sangat mungkin terulang.

"Kedalaman lubang tambang yang terlihat dalam dokumentasi terbaru memperkuat kekhawatiran tersebut," kata Anjas.

Bencana Nyata di Depan Mata

Dinamika ancaman ini mendapat sorotan keras dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Kalimantan Timur. Dinamisator JATAM Kaltim, Mustari Sihombing, menegaskan bahwa persoalan tambang di Berau telah melampaui isu pencemaran biasa.

"Potret lubang tambang yang lebih dalam dari aliran Sungai Kelai bukan lagi sekadar peringatan, tapi ancaman nyata. Ini mengingatkan kita pada bencana-bencana besar yang pernah terjadi di wilayah lain di Indonesia," ujar Mustari.

Menurut data JATAM Kaltim, Kabupaten Berau merupakan salah satu wilayah dengan kepadatan izin tambang batu bara tertinggi di Kalimantan Timur. Tercatat ada 94 konsesi tambang, dengan tujuh di antaranya berada di wilayah hulu dan tengah DAS Kelai.

Aktivitas tersebut telah mengubah bentang alam secara masif. Hutan dibabat, tanah dikeruk hingga puluhan meter, dan lubang-lubang tambang dibiarkan menganga tanpa pemulihan yang memadai.

JATAM menilai, ketika lubang tambang berada lebih dalam dari badan sungai, maka risiko ekologis meningkat tajam. Perubahan aliran air tanah, potensi longsor, hingga jebolnya struktur tanah saat hujan lebat menjadi ancaman nyata.

Lubang-lubang tambang juga berfungsi layaknya perangkap bencana. Air hujan dari kawasan hulu yang kehilangan tutupan hutan akan langsung mengalir membawa lumpur, sedimen, dan limbah tambang ke Sungai Kelai. Akibatnya, pendangkalan semakin parah dan banjir berulang menjadi ancaman tahunan.

JATAM juga mencatat data yang sama, banjir besar yang melanda Berau pada Mei 2021 merupakan titik awal bencana ekologis berskala besar. Di penghujung 2025, kondisi serupa kembali terjadi, memperkuat dugaan bahwa kerusakan lingkungan telah melampaui daya dukung alam.

Ironisnya, menurut JATAM Kaltim, kondisi ini masih kerap dianggap sebagai bencana alam semata. Pernyataan sejumlah pejabat yang menyebut banjir sebagai kejadian 'biasa' dinilai menutup mata terhadap akar persoalan.

"Atas kondisi ini, kami mendesak dilakukan audit lingkungan secara menyeluruh terhadap seluruh perusahaan tambang di Berau. Selama audit berlangsung, aktivitas tambang harus dibekukan, penegakan hukum dilakukan secara terbuka, dan kerusakan lingkungan segera dipulihkan," tegas Mustari.

JATAM mengingatkan, jika negara terus membiarkan lubang tambang lebih dalam dari sungai, maka yang sedang digali bukan hanya tanah Berau, tetapi juga masa depan dan keselamatan masyarakatnya.

Laporan : Rahmat

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update