Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Terungkap, 31 Persen Orang Indonesia Pilih Curhat ke AI Saat Sedih

Minggu, 04 Januari 2026 | 3:30:00 PM WIB Last Updated 2026-01-04T07:30:00Z

 

JAKARTA, MEDIAINDONESIA.asia - Siapa menyangka kecerdasan buatan (AI) yang pada umumnya dipakai untuk membantu produktivitas sehari-hari, kini malah menjadi tempat curhat atau curahan hati.

Entah saat sedang merasa sedih, cemas, atau butuh seseorang yang mendengarkan keluh kesah, nyatanya sebagian besar orang Indonesia lebih memilih curhat dengan AI ketimbang dengan teman atau keluarga.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Kaspersky yang dilakukan pada November 2025. Mengutip laporan tersebut, Minggu (4/1/2026), 31 persen responden di Indonesia mengaku berinteraksi dengan AI ketika sedang tidak bahagia.


Angka ini terhitung lebih tinggi dibanding rata-rata global berada di 29 persen. Disebutkan, fenomena ini paling terasa di kalangan Generasi Z (Gen Z) dan milenial.

Ada 35 persen responden usia muda memilih AI sebagai tempat curhat saat emosi sedang tidak stabil. Sebaliknya, hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas melakukan hal serupa.

Selama ini AI lebih dikenal sebagai alat bantu praktis. Survei sama juga mengungkap, 74 persen responden global berencana memakai AI secara intensif selama musim liburan 2025 hingga awal 2026.

Data mencatat, sebanyak 56 persen pengguna memakai AI untuk mencari resep makanan. Selanjutnya, sekitar 54 persen pakai teknologi ini untuk mecari restoran dan akomodasi.

Karena masih tema liburan akhir tahun, 50 persen pengguna juga memakai AI untuk mendapatkan ide hadiah dan dekorasi, dan 50 persen lainnya untuk membuat rencana waktu luang saat liburan tiba.

Risiko di Balik Curhat ke AI

Di sisi lain, Kaspersky mengingatkan percakapan emosional tetap merupakan data. Sebagian besar chatbot dimiliki perusahaan komersial, dan masing-masing memiliki kebijakan pengumpulan informasi sendiri.

Vladislav Tushkanov, Manager Group di Kaspersky AI Technology Research Center, mengingatkan pengguna untuk tetap waspada.

"Seiring dengan pesatnya perkembangan model LLM, potensi mereka untuk terlibat dalam dialog bermakna dengan pengguna juga meningkat," kata Vladislav.

"Penting untuk diingat mereka belajar memberikan jawaban dari data, sebagian besar bersumber dari Internet, artinya mereka rentan untuk mengulang kesalahan dan bias dari teks digunakan untuk pelatihan," 

Ia menambahkan, pengguna perlu bersikap kritis saat menerima saran dari AI dan menghindari berbagi informasi secara berlebihan.

Laporan : Andi

Editor : Riska

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini


TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update