MEDIAINDONESIA.asia, JAWA BARAT - Teriakan tetangga itu mengejutkan Atep (27) yang langsung buru-buru keluar rumah dan ia makin terkejut ketika air lumpur itu cepat mencapai rumah. Limpasan air itu seketika menyapu dari arah selatan rumah Atep. Ia melihat beberapa bal sampah plastik ukuran besar hanyut dari sebuah gudang rongsokan di Kampung Bojong Keusik itu. Kekhawatiran meluapnya air Sungai Cisunggalah pernah ia simpan jauh-jauh hari, ternyata kejadian pada Rabu malam kemarin (11/2/2026), sekitar pukul 23.00 WIB.
"Tanggul yang ada di RT 3 itu jebol," kata Atep saat mengulang cerita kepada awak Media Kamis (13/2/2026).
Diperkirakan, 297 kepala keluarga di RW 01, Desa Bojong, Kecamatan Majalayan, Kabupaten Bandung, terdampak akibat kejadian tersebut. Ketinggian air lumpur itu, kata Atep, mencapai pinggang orang dewasa. Bahkan di sebagian titik yang lebih rendah, air setinggi dada.
Pengakuan Atep, warga sempat mengajukan perbaikan tanggul sungai ke pihak desa 2024 lalu. Namun, perbaikan itu belum dilakukan. Atep yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik itu berharap Tanggul Penahan Tanah (TPT) Sungai Cisunggaluh segera diperbaiki. Kepala keluarga yang memiliki anak umur dua tahun itu cemas banjir susulan terjadi.
"Di rumah ini ada dua kepala keluarga, satu lagi keluarga kakak saya. Kakak saya itu anaknya tiga, masih umuran SD dan ada yang dua tahun juga," kata Atep.
Ketua RW setempat, yang juga bernama Atep mengatakan, air meluap sekira pukul 11.15 WIB, dan menggenang rumah warga hingga pukul 03.00 dini hari. Air sudah surut hanya menyisakan sisa lumpur pada pagi hari.
Tak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut. Beberapa warga diketahui mengalami luka, salah seorang di antaranya dilarikan ke rumah sakit akobat tertimpa bangunan roboh.
"Ada 7 rumah yang rusak," kata dia.
Bukan Tanggul Jebol
Sementara, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum membantah tanggul atau tembok penahan tanah (TPT) sungai jebol, dalam insiden banjir lumpur di Bojong Keusik, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Tembok yang jebol dan terseret banjir merupakan bangunan milik warga yang bersentuhan langsung dengan bibir sungai.
"Bukan TPT sungai yang jebol, tapi rumah yang ada di bibir sungai," jelas Penata Pelaksana SDA BBWS Citarum Asep Rohiman kepada Liputan6.com, Bandung, Kamis (12/2/2026).
Asep melanjutkan, kebanyakan rumah di daerah aliran sungai (DAS) Cisunggalah menyentuh bibir sungai tanpa jarak sempadan. Berpotensi memicu penyempitan sungai. Menurutnya, kapasitas sungai selebar 8 meter tersebut sudah tidak sepadan dengan debit air apalagi saat meningkat seiring hujan lebat.
Semestinya, bangunan-bangunan tidak langsung menyentuh bibir sungai, berjarak minimal 3-7 meter dari garis sempadan sungai sebagai batas perlindungan guna mencegah kerusakan sungai dan bencana.
"Begitu air limpas itu akan relatif lebih aman karena bangunan itu tidak menyentuh bibir sungai. Jadi ini yang jebol itu bentengnya, bukan TPT. Saya enggak tahu ini sudah di-TPT atau belum," kata Asep.
Sungai Cisunggalah di Desa Bojong, termasuk kategori ordo-4 dalam struktur hirarkis percabangaan alur sungai menuju Sungai Citarum. Setelah Cisunggalah, air akan mengalir ke Sungai Cibodas, lalu Citarik, sebelum kemudian masuk alur Citarum.
Di samping banyak bangunan yang menyentuh langsung bibir sungai, adanya sedimentasi dan penyempitan DAS, masalah lain yang bisa memicu luapan Sungai Cisunggalah yakni jembatan-jembatan rendah berada di bawah parapet sungai.
Jembatan yang seperti itu malah menahan aliran sungai ketika debit air naik. Bakal semakin buruk apabila aliran sungai itu membawa sampah. Material-material hanyutan akan tersangkut, menyumbat bagian rongga bawah jembatan.
"Jembatan-jembatan di bawah parapet itu bisa menahan laju air yang mengalir," jelas Asep.
Banjir Terparah
Setidaknya telah terjadi tiga kali limpasan air Sungai Cisunggalah selama dua tahun terakhir. Kejadian malam kemarin, diakui sebagai yang paling parah.
Ketinggian air yang masuk ke permukiman disebut lebih dari satu meter, bahkan di beberapa rumah yang berada lebih rendah, ketinggian air mencapai dada orang dewasa.
Menurut Asep, salah satu upaya krusial penanganan jangka panjang adalah memundurkan seluruh bangunan yang berada di DAS Cisunggalah, agar tersedia jarak minimal antara sungai dan bangunan. Namun ini diakui berpotensi memicu masalah sosial yang pelik.
"Memang pelik, pasti pelik karena berurusan dengan lahan," terangnya.
Penanganan sementara ini, berfokus pada menutup titik limpasan dengan menumpuk geobag isian pasir, dilakukan atas koordinasi dengan aparat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Sementara, Kepala BPBD Kabupaten Bandung, Diki mengatakan, saat ini petugas di lapangan masih fokus pada pembersihan sisa lumpur, puing-puing dan sampah yang masuk ke rumah warga maupun yang menutup akses jalan.
Satu alat berat dikerahkan guna mempercepat penanganan. Catatan BPBD, ada 12 rumah yang terdampak, lima di antaranya masuk kategori rusak berat, dan tujuh sisanya rusak ringan.
"Sekarang masih proses tanggap darurat, kita masih terus berkoordinasi untuk selanjutnya sementara ini pembersihan lumpur serta pembenahan rumah yang terdampak," pungkasnya.
Laporan : Suryana
Editor : Lisa
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

