MEDIAINDONESIA.ASIA, KALTARA - Hutan Kalimantan, memang merupakan salah satu hutan tropis tertua di dunia. Usia 130 juta tahun tentu menyimpan sejarah perjalanan planet ini, termasuk penghuninya. Di sini, di bawah kanopi yang rimbun dan tak terjamah, tersembunyi sebuah rahasia yang telah tertidur selama ratusan tahun.
Temuan formasi batu besar yang berdiri tegak menantang langit adalah salah satunya. Jika kita mengenal Stonehenge di Inggris, di bawah lebatnya hutan hujan tropis Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) di Kalimantan Utara juga ditemukan fromasi batu. Meski berbeda, struktur ini seolah menantang waktu, menjadi bukti bahwa sejarah manusia tetap hidup.
Temuan ini membuka jendela ke peradaban megalitikum suku Dayak Ngorek yang telah lama hilang dalam kabut sejarah. Kuburan batu, bukan hanya reruntuhan kuno. Formasi ini adalah bukti hidup bagaimana masyarakat adat Borneo hidup selaras dengan alam sejak ribuan tahun lalu, sebuah harmoni yang kini terancam oleh laju zaman.
"Saat ini kita banyak menemui kuburan batu yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang," ujar Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, Senin (23/2/2026).
Keberadaan struktur megalitik ini bukanlah sekadar artefak arkeologi semata, melainkan memiliki kedalaman nilai kultural yang terus hidup. Bagi masyarakat setempat, peninggalan tersebut merupakan warisan yang harus dijaga dan dirawat secara turun-temurun.
"Kuburan batu ini merupakan nilai penting bagi masyarakat adat yang telah hidup dari masa lampau hingga saat ini yang juga masih dipelihara oleh mereka untuk keberadaan kuburan-kuburan batu ini," sambungnya.
Kuburan batu tersebar di seantero Taman Nasional Kayan Mentarang yang membentang dari Kabupaten Nunukan hingga Kabupaten Malinau. Berbatasan dengan Malaysia, taman nasional terluas kedua di Asia Tenggara ini menjadi inisiatif konservasi lintas batas dan menjadi simbol utama 'Heart of Borneo'.
Di kawasan seperti Lalut Birai dan Long Berini, situs-situs ini kini menjadi pintu masuk ke misteri yang menarik penjelajah. Kuburan batu ini diyakini memiliki akar budaya yang sangat tua, berakar dari masa Neolitik Akhir hingga Zaman Logam Awal, sekitar 2.000 tahun yang lalu.
Namun, drama sejarah yang sesungguhnya terjadi jauh kemudian. Peneliti menemukan hal yang mengejutkan, tradisi membangun struktur megalitik ini terus berlanjut hingga masa historis yang relatif baru, bahkan hingga sekitar 400 tahun lalu atau abad ke-17.
Ini adalah anomali yang dramatis. Saat Kekaisaran Ming di Tiongkok tengah berada di puncak kejayaannya dan kapal-kapal Eropa mulai menjelajahi Nusantara, masyarakat Ngorek di pedalaman Kalimantan masih memahat batu-batu raksasa untuk menghormati leluhur mereka.
Ritual dan Spiritualitas di Tengah Hutan
Saat itu, suku Dayak Ngorek membangun struktur ini sebagai monumen pemakaman yang megah. Bentuknya beragam, dari lempengan datar hingga ceruk untuk menyimpan erong atau peti jenazah kayu yang diukir rumit.
Ritual pemakaman mereka melibatkan proses sekunder yang dramatis yakni jenazah dibiarkan membusuk atau dikeringkan terlebih dahulu sebelum tulangnya dikumpulkan, dibersihkan, dan dihormati di dalam tempat penyimpanan khusus.
Ini mencerminkan kepercayaan animisme yang sangat kuat, di mana roh leluhur dianggap tetap aktif dan hadir dalam menjaga keseimbangan alam. Tradisi ini bukan hanya simbolis, tapi juga memperkuat ikatan sosial komunitas yang harus gotong royong memindahkan batu-batu seberat berton-ton.
Penelitian awal abad ke-20, seperti yang didokumentasikan dalam buku klasik “The Pagan Tribes of Borneo” oleh Charles Hose dan William McDougall, menggambarkan bagaimana suku-suku Dayak di pedalaman mengintegrasikan batu-batu ini ke dalam kehidupan mereka. Buku ini menyoroti bagaimana megalith menjadi penjaga spiritual yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Satu hal yang menambah dimensi dramatis pada temuan ini adalah adanya fragmen keramik dan guci utuh, atau yang oleh warga lokal disebut sebagai tempayan atau tajau, di sekitar situs batu.
Guci-guci ini berasal dari Tiongkok, membuktikan bahwa masyarakat pedalaman Kalimantan tidak sepenuhnya terisolasi. Melalui jalur sungai dan jalan-jalan setapak purba yang menantang jeram, mereka menukarkan hasil hutan terbaik seperti sarang burung walet, damar dan emas, dengan benda-benda dari dunia luar. Keramik dari masa Dinasti Sung dan Ming inilah yang menjadi wadah terakhir bagi tulang-belulang leluhur, sebuah pertemuan tak terduga antara budaya lokal dan komoditas global.
Harmoni Budaya dan Konservasi: Pesan dari Masa Lalu
Di TNKM, situs-situs ini kini berdiri di tengah keanekaragaman hayati yang luar biasa, membuktikan harmoni budaya dan alam yang telah terbentuk setidaknya sejak 400 tahun silam. Kawasan seluas 1,2 juta hektar ini bukan hanya paru-paru dunia, tapi juga rumah bagi peninggalan arkeologi yang tak ternilai.
Balai TNKM telah mengembangkan situs Kuburan Batu Long Berini sebagai objek wisata sejarah, menawarkan pengalaman unik bagi pengunjung. Namun, pengembangan ini dilakukan dengan hati-hati, melibatkan masyarakat adat sekitar untuk menjaga kesakralan situs. Situs ini menunjukkan harmonisasi budaya dan alam yang masih terjaga baik.
"Masyarakat adat yang sudah lama ada di dalam kawasan juga sangat mendukung kegiatan budaya maupun konservasi ini," ujar Seno.
Pelestarian menjadi kunci, terutama di era ancaman seperti penebangan liar dan perubahan iklim. Balai TNKM berkomitmen melalui pendampingan dan pembinaan kelompok masyarakat di kawasan penyangga. Ini memastikan kearifan lokal tetap hidup, sambil mendukung destinasi wisata yang berkelanjutan.
"Bukti-bukti yang sudah ditunjukkan berupa kuburan batu ini menunjukkan bahwa dari zaman dahulu masyarakat adat itu berkolaborasi atau berkomitmen di dalam menjaga kelestarian alam yang saat ini masih cukup terjaga dengan baik,” kata Seno.
Apresiasi setinggi-tingginya tentu diberikan kepada masyarakat adat yang terus menjaga adat budaya dan konservasi alam di TNKM. Upaya ini bukan hanya melindungi batu-batu kuno, tapi juga mempertahankan identitas Dayak di tengah arus modernisasi.
“Untuk itu kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat adat yang masih menjaga adat budaya dan juga konservasi pelestarian alam yang ada di Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang,” ujarnya.
Temuan megalith ini bukan akhir cerita, melainkan awal dari upaya bersama untuk masa depan. Di era di mana hutan Borneo semakin menyusut, batu-batu sakral ini mengingatkan kita pada pelajaran leluhur, bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan. TNKM bukan sekadar taman nasional, ia adalah cerita hidup yang terus berkembang, di mana setiap batu menyimpan rahasia untuk generasi selanjutnya.
Liputan : Anam
Editor : Riska
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini




