Notification

×

PSE

PDAM

Iklan 1

Iklan

Translate

PSE

Ucapan Kaltara

Iklan1

Iklan

Translate

Ketua DPRD NTB Ngaku Diteror Terkait Kasus Dana Siluman

Jumat, 17 April 2026 | 10:38:00 AM WIB Last Updated 2026-04-17T02:40:37Z

MEDIAINDONESIA.ASIA, NTB - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTB, Baiq Isvie Rupaeda mengaku kerap mendapat ancaman dan teror perihal dana siluman berjumlah Rp59,8 miliar.

Hal itu diungkapkan Isvie saat diperiksa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Mataram, Kamis 16 April 2026. Dia mengatakan, sejak kasus dugaan korupsi ini mencuat, dia sering mendapat ancaman dan teror dari orang yang tak dikenal.

"Saya sering dapat ancaman. Sedangkan saya tidak tau apa-apa soal pembagian uang ini," kata Isvie di hadapan Hakim Dewi Santini.

Dalam persidangan tersebut, Isvie yang juga politisi partai Golkar ini mengatakan bahwa ia mengetahui ada pergeseran uang dari salah seorang anggota DPRD, Partai Nasdem, Lalu Arif Rahman Hakim.

Yang mana, kata dia, sesaat setelah salah seorang terdakwa yaitu Indra Jaya Usman (IJU) menyerahkan uang sejumlah Rp200 juta, lalu Arif pergi ke kediaman Isvie untuk mengembalikan uang tersebut.

"Lalu Arif bilang ke saya kalau dia dikasi uang oleh IJU. Dan dia bilang akan kembalikan uang itu, tetapi nomornya IJU tidak aktif atau tidak bisa dihubungi," kata Isvie.

Dari situlah Isvie mengaku mengetahui tentang adanya pergeseran uang ke dari program desa berdaya. Sementara terkait belasan anggota dewan yang menerima uang, Isvie mengaku mendapat informasi itu dari media.

"Saya tahu dari media bahwa belasan anggota dewan mengembalikan uang ke kejaksaan," kata Isvie.

Dihubungi terpisah, Isvie mengaku mengalami tekanan psikologis berupa teror mental yang diduga diterimanya melalui perangkat telepon seluler.

Isvie menyebut bentuk teror tersebut bukan ancaman fisik, melainkan gangguan yang menyerang secara mental. Ia bahkan mengaku sempat mematikan ponselnya sebagai respons atas gangguan yang diterima.

“Ya dari hape, makanya saya matikan,” ujarnya singkat.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa bentuk teror yang dialaminya berupa manipulasi visual terhadap wajahnya yang diubah menjadi berbagai bentuk. Praktik ini diduga menyerupai teknologi rekayasa digital atau deepfake yang belakangan marak digunakan untuk menyerang individu secara personal.

Meski demikian, Isvie tidak merinci siapa pelaku di balik teror tersebut. Ia juga memastikan tidak ada ancaman fisik maupun indikasi pemerasan yang menyertainya.


Terkait motif, Isvie mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab dirinya menjadi sasaran. Namun, ia menduga hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan isu “dana siluman” yang sempat ramai diperbincangkan sebelumnya.

“Ya saya tidak tahu, mungkin terkait dana siluman. Saat ramai-ramai dulu,” ungkapnya.

Kronologi Kasus

Kasus dugaan korupsi dana 'siluman' di lingkungan DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) terus bergulir dan kini memasuki tahap persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Mataram.

Dalam proses hukum yang berjalan, fakta-fakta baru mulai terungkap, termasuk dugaan praktik pembagian uang kepada anggota dewan di luar mekanisme resmi anggaran daerah.

Perkara ini bermula dari penyelidikan terkait penyimpangan dana Pokok Pikiran (Pokir) DPRD yang bersumber dari APBD. Penyidik menemukan adanya indikasi aliran dana tidak sah yang diduga diterima sejumlah anggota dewan. Bahkan, sebagian di antaranya telah mengembalikan uang yang diterima kepada penyidik.

Dalam dakwaan jaksa, tiga terdakwa yakni Hamdan Kasim, Indra Jaya Usman, dan Muhammad Nashib Ikroman diduga berperan dalam mendistribusikan uang miliaran rupiah kepada anggota DPRD.

Uang tersebut disebut-sebut sebagai bagian dari program pemerintah, namun tidak memiliki dasar yang sah dalam sistem penganggaran.

Selain itu, terungkap pula adanya dugaan skema pengalihan anggaran melalui program tertentu seperti Desa Berdaya, yang diduga dijadikan jalur untuk menyalurkan dana kepada pihak legislatif.

Dalam persidangan, jaksa menghadirkan sejumlah saksi dari kalangan pejabat pemerintah daerah maupun anggota DPRD untuk mengurai alur distribusi dana tersebut.

Laporan : Budi

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini


----------------------------------------------------------------------------------------------------

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update
close
" " MEDIA INDONESIA ASIA " "