MEDIAINDONESIA.ASIA, MADRID - Pemerintah Spanyol melalui Menteri Pertahanan (Menhan) Margarita Robles Fernandez menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga tentara Indonesia yang sedang melaksanakan tugas di Lebanon di bawah bendera PBB (UNIFIL).
Keseriusan Pemerintah Spanyol ditunjukkan dengan cara menyampaikan ungkapan duka cita ini secara langsung kepada Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) di Madrid Muhammad Najib di KBRI Madrid.
"Dalam kesempatan berharga ini Menhan Margarita Robles juga menyampaikan bahwa posisi Indonesia dan Spanyol selalu sama, terus berjuang untuk menciptakan dan menjaga perdamaian dunia di bawah bendera PBB dengan prinsip multilateralisme. Karena itu ia berharap Spanyol dan Indonesia terus bergandeng tangan untuk menciptakan dunia yang damai," ungkap KBRI Madrid dalam pernyataannya via media sosial.
Selain menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas ucapan duka cita yang diberikan Pemerintah Spanyol, Dubes Muhammad Najib juga menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dan rakyat Spanyol atas perjuangan rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaannya, yang ditunjukkan bukan saja dari pengakuan Spanyol atas Negara Palestina, namun juga berjuang untuk mengajak negara Eropa lain untuk ikut serta.
"Terkait dengan perkembangan terakhir di Lebanon Selatan, Menhan Margarita Robles menyampaikan tidak dapat menerima serangan Israel terhadap pasukan penjaga perdamaian yang merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional serta tidak dapat menerima invasi terhadap wilayah kedaulatan Lebanon. Beliau menekankan Israel harus menghormati hukum internasional dan menghormati teritori negara Lebanon," sebut KBRI Madrid.
"Menhan Spanyol juga menggarisbawahi bahwa kolaborasi erat antara pasukan Indonesia dan pasukan Spanyol di bawah bendera UNIFIL dalam upaya menjaga perdamaian di Lebanon perlu terus dilanjutkan. Hal ini menjadi modal penting bagi kolaborasi antara dua negara dan dua bangsa."
Temuan Awal Investigasi PBB
Juru bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric beberapa hari lalu telah menyampaikan temuan awal investigasi atas insiden 29 dan 30 Maret yang menewaskan tiga personel Indonesia dalam misi UNIFIL.
"Terkait insiden 29 Maret, berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk analisis lokasi dampak dan khususnya fragmen proyektil yang ditemukan di posisi PBB 7-1, proyektil tersebut adalah peluru utama tank kaliber 120 mm, yang ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur, menuju Ett Taibe. Perlu diingat bahwa, untuk mengurangi risiko terhadap personel PBB, UNIFIL kembali telah memberikan koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada Pasukan Pertahanan Israel pada 6 Maret dan 22 Maret," demikian pernyataan Dujarric, yang dibagikan Pusat Informasi PBB di Indonesia, Rabu.
"Terkait insiden 30 Maret, berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk analisis lokasi ledakan, kendaraan yang terdampak, serta perangkat peledak rakitan (IED) kedua yang ditemukan di dekat lokasi pada hari yang sama, ledakan tersebut disebabkan oleh IED yang diaktifkan oleh korban (tripwire). Investigasi menilai bahwa, mengingat lokasi kejadian, karakteristik ledakan, serta konteks saat ini, IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah."
Dujjaric menambahkan, "Perlu saya tegaskan kembali bahwa ini merupakan temuan awal, berdasarkan bukti fisik awal. Proses investigasi penuh oleh PBB masih berlangsung, termasuk prosedur yang diperlukan serta keterlibatan dengan para pihak terkait untuk memahami konteks dan keadaan secara menyeluruh di tengah situasi permusuhan yang masih berlangsung."
Dewan Penyelidikan akan dibentuk untuk kedua kasus tersebut, sesuai dengan prosedur yang berlaku di PBB.
"Kami kembali menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga para penjaga perdamaian yang gugur dan kepada Pemerintah Indonesia. Kami juga berharap seluruh pihak turut mendoakan pemulihan penuh bagi semua yang terluka dalam insiden ini maupun insiden lainnya," tutur Dujarric.
"Insiden-insiden ini tidak dapat diterima. Kami telah meminta kepada pihak-pihak terkait agar kasus-kasus ini diselidiki dan diproses secara hukum oleh otoritas nasional untuk membawa para pelaku ke pengadilan dan memastikan pertanggungjawaban pidana atas kejahatan terhadap penjaga perdamaian."
Dujjaric menegaskan, "Serangan terhadap penjaga perdamaian PBB dapat merupakan kejahatan perang berdasarkan hukum internasional. Semua pihak harus mematuhi kewajiban mereka untuk menjamin keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian setiap saat. Kekebalan fasilitas PBB harus dihormati."
Temuan awal ini, menurut Dujarric, telah disampaikan kepada Pemerintah Indonesia, Israel, dan Lebanon.
Adapun personel Indonesia yang gugur pada 29 Maret adalah Kopral (Anm) Farizal Rhomadon, sementara Mayor (Anm) Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu (Anm) Muhammad Nur Ichwan gugur pada 30 Maret.
Laporan : Nasir
Editor : Riska
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini




