MEDIAINDONESIA.ASIA, ANKARA - Gayanya langsung mencuri perhatian. Tato-tato kecil berjejer di kedua lengannya.
Sementara itu, rambut hitam berponi yang membingkai wajah orientalnya kontras di tengah aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 yang menjalani pelatihan di Turki.
Dialah Bao Ngoc atau Ashley, mahasiswi asal Vietnam yang terpanggil untuk ikut berlayar menembus Jalur Gaza, membawa bantuan bagi warga Palestina dalam misi GSF 2.0.
Kepada awak media Ashley mengungkapkan alasan di balik keputusannya bergabung dalam misi kemanusiaan menembus blokade Gaza. Baginya, gerakan ini bukan sekadar aksi solidaritas, melainkan bagian dari upaya menghentikan kekerasan yang terjadi di Palestina.
"Saya percaya GSF adalah salah satu strategi untuk mendorong berakhirnya genosida yang terjadi di Gaza dan wilayah Palestina lainnya," ujar Ashley di Marmaris, Turki, pada 3 Mei 2026.
Ia menilai, pendekatan yang dilakukan GSF melalui aksi langsung dan koordinasi lintas negara mampu memberikan dampak nyata.
"Ini adalah bentuk tindakan langsung yang menurut saya efektif, terutama karena melibatkan koordinasi internasional," tambahnya.
Latar belakang sejarah Vietnam turut memengaruhi pandangannya terhadap konflik yang terjadi di Palestina. Ashley melihat adanya kesamaan pengalaman antara rakyat Vietnam dan Palestina, khususnya terkait sejarah perang dan intervensi asing.
"Sebagai orang Vietnam, kami pernah mengalami berbagai kejahatan perang oleh kekuatan besar dunia. Saya melihat ada banyak kesamaan dengan apa yang dialami rakyat Palestina," ungkapnya.
Didorong Rasa Kemanusiaan
Ashley bergabung dalam misi ini sebagai peserta umum (general participant). Ia menyatakan kesiapannya untuk berlayar menuju Gaza sebagai bagian dari misi tersebut.
"Saya akan bergabung dalam pelayaran ke Gaza untuk melawan ketidakadilan yang terjadi," katanya.
Ia memiliki harapan besar terhadap gerakan GSF, tidak hanya dalam konteks bantuan kemanusiaan, tetapi juga dalam mendorong perubahan yang lebih luas.
"Saya berharap gerakan ini bisa berkontribusi menghentikan kekerasan di Gaza dan menyalurkan bantuan kemanusiaan. Selain itu, saya ingin ada gerakan yang lebih kuat di Asia Tenggara untuk menekan pemerintah dan pihak-pihak yang memiliki hubungan dengan Israel," bebernya.
Lebih jauh, Ashley menegaskan bahwa perjuangan yang ia ikuti tidak didasarkan pada latar belakang agama tertentu, melainkan nilai kemanusiaan universal.
"Ini adalah masalah kemanusiaan, bukan agama. Siapa pun, dari latar belakang apa pun, bisa bergabung. Gerakan ini sangat beragam, kita memiliki orang dari latar belakang apapun. Keberagaman itu justru menjadi kunci gerakan ini," imbuhnya.
Kontributor : Rahmad
Editor : Andi
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini





