MEDIAINDONESIA.ASIA, ACEH - Endapan lumpur tebal dan mengeras di halaman Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 Pidie Jaya, Aceh menjadi saksi betapa dahsyatnya banjir bandang menerjang Bumi Japakeh pada November 2025.
Masih membekas dalam ingatan Zulfiani, guru MIN 4, ketika banjir bercampur lumpur meluncur deras dari dataran tinggi, membuat aliran sungai Meureudu meluap hingga menerjang permukiman.
Dua minggu sebelum malapetaka itu terjadi, hujan tidak henti-hentinya mengguyur wilayah yang dalam catatan sejarah merupakan lumbung logistik Kerajaan Aceh Darussalam tersebut. Puncaknya ketika malam hari, banjir datang dalam hitungan jam.
"Jam 20.00 WIB air penuh, jam 21.00 WIB air masuk perkampungan," kata Zulfiani kepada Liputan6.com, Rabu 29 April 2026.
Situasi genting belum berhenti. Puncaknya terjadi di tiga jam kemudian. Pukul 00.00 WIB, ketinggian air bertambah hingga cuma menyisakan atap bangunan sekolah lama.
Rumah Zulfiani yang berjarak 2 kilometer juga tidak luput dari sapuan banjir. Dia bersama keluarga segera mengevakuasi barang-barang berharga ke lantai dua rumah. Bertahan di sana hinggga kondisi mereda.
Sementara warga lain, mereka yang masih sempat menyadari datangnya banjir berburu dengan waktu menuju tempat aman, termasuk salah satunya di lantai dua gedung baru sekolahan. Namun tidak sedikit yang akhirnya harus bertahan di atap-atap rumah, bukan lagi dalam hitungan jam, namun hari.
"Sampai dua hari dua malam. Minumnya air hujan. Makan tidak ada," ucapnya.
Semua belum berakhir. Selama satu bulan penuh, kegiatan belajar mengajar lumpuh. Murid-murid diliburkan. Semua orang sibuk menata kembali kehidupan. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya endapan lumpur.
Zulfiani menggambarkan, ketinggian lumpur yang mengendap di MIN 4 setebal lebih dari satu meter. Itu baru endapan lumpur. Belum lagi ditambah ketinggian air banjir.
Di hari pertama mengajar, Zulfiani berjala kaki sejauh 2 kilometer. Tidak lagi menggunakan sepatu pantofel, namun sepatu bot.
Langkah demi langkah dia pijak di atas endapan lumpur. Meski situasi belum pulih, namun mau tidak mau, semua harus dimulai kembali di hari itu.
Pelajar yang masuk sekolah saat itu juga mengenakan pakaian seadanya. Baju seragam masih kotor terendam lumpur, bahkan ada juga yang hanyut terbawa banjir.
"Hari pertama sekolah, membawa peralatan seadanya untuk membersihkan lumpur. Kayu-kayu yang terbawa banjir juga berserakan," terangnya.
Seiring berjalannya waktu, satu per satu bantuan mulai masuk. Logistik tersalurkan, alat berat membuka isolasi. Perlahan juga paedagogi kembali aktif.
1. Guru Zulfiani saat mengajar di dalam kelas MIN 4 Pidie Jaya
2. Tumpukan barang-barang milik sekolah pascabanjir
3. Situasi belajar mengajar di dalam kelas
4. Kondisi MIN 4 Pidie Jaya usai diterjang banjir
Oleh : Ali
Editor : Lisa
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini





