MEDIAINDONESIA.ASIA, JATENG - Malaria masih sulit dikendalikan di Indonesia karena erat kaitannya dengan kondisi lingkungan. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Wisnu Nurcahyo menilai bahwa kondisi lingkungan di beberapa wilayah Indonesia mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles sebagai vektor penular penyakit.
"Nyamuk sangat bergantung pada faktor lingkungan. Artinya, nyamuk dapat hidup dan berkembang biak dengan baik kalau lingkungannya mendukung. Itu yang menjadikan malaria di berbagai daerah di Indonesia sulit dikendalikan," ujar Wisnu seperti dikutip dari laman resmi pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Di wilayah timur khususnya Papua, kondisi geografis seperti curah hujan tinggi, topografi pegunungan, serta banyaknya genangan air jernih sangat ideal untuk perkembangbiakan vektor malaria. Kondisi ini menyebabkan sekitar 95 persen kasus malaria nasional masih terkonsentrasi di wilayah tersebut.
Dia, menambahkan, kondisi serupa juga ditemukan di daerah lain seperti Kalimantan, Sumatera, hingga kawasan Pegunungan Menoreh di Kulon Progo yang masih memiliki kasus malaria endemis.
"Jika kondisi geografis mendukung, otomatis dengan mudah vektor malaria dapat berkembangbiak," tambahnya.
Inilah yang menyebabkan kasus malaria di Indonesia masih menjadi tantangan besar, terutama karena penyakit ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan medis, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, kondisi geografis, serta interaksi antara manusia, hewan, dan ekosistem.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kasus malaria di Indonesia pada 2025 tercatat sebanyak 706.297 kasus. Kasus ini mengalami peningkatan sebanyak 30 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 543.965 kasus.
Hal ini tentunya memerlukan penanganan dan dukungan berbagai pihak dalam mendukung target eliminasi malaria di tahun 2030 mendatang.
Kembalinya Malaria Knowlesi
Wisnu, menambahkan, malaria di Indonesia tidak sepenuhnya berasal dari penularan antarmanusia. Dari perspektif kesehatan hewan, terdapat ancaman malaria zoonotik yang berasal dari satwa liar, khususnya primata seperti monyet ekor panjang dan orangutan.
Salah satu jenis malaria yang perlu diwaspadai adalah Plasmodium knowlesi, parasit yang secara alami hidup pada primata dan dapat ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles.
"Pada manusia, Plasmodium knowlesi ini sangat patogen. Dalam satu sampai dua hari bisa menyebabkan demam tinggi, dan kalau tidak segera diobati bisa menyebabkan kematian," katanya.
Dalam aspek pengobatan, ia menjelaskan bahwa pemerintah selama ini menyediakan obat-obatan antimalaria secara gratis bagi masyarakat di wilayah endemis.
Akan tetapi, efektivitas pengobatan menghadapi tantangan serius karena sejumlah obat lama, seperti obat Kina yang sudah tidak lagi efektif akibat resistensi parasit.
Kondisi ini memaksa tenaga kesehatan menggunakan obat generasi baru yang harganya lebih mahal dan membutuhkan distribusi yang lebih kompleks.
Butuh Pendekatan One Health
Selain ketersediaan obat, distribusi obat dan tenaga kesehatan di wilayah endemis malaria masih terkendala oleh sulitnya akses dan faktor keamanan.
Akibatnya, masyarakat di wilayah terpencil kerap menghadapi keterlambatan diagnosis dan pengobatan, padahal malaria dapat berkembang menjadi kondisi berat dalam waktu singkat apabila tidak segera ditangani.
Oleh sebab itu, ia menekankan bahwa keberhasilan pengendalian malaria tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga pada kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
"Edukasi terhadap masyarakat berperan sangat penting dalam pencegahan malaria, khususnya untuk pengendalian nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan," ujarnya.
Target eliminasi malaria di tahun 2030 menurutnya bisa digapai, asalkan melalui penerapan pendekatan One Health secara konsisten.
Menurutnya, pengendalian malaria tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan manusia, melainkan harus melibatkan kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan yang bekerja secara terintegrasi dalam melakukan deteksi, pengobatan, pengendalian vektor, serta menjaga kelestarian lingkungan.
"Kita harus bekerja sama, berkolaborasi, saling berkoordinasi. Jangan sampai kesehatan manusia jalan sendiri, kesehatan hewan jalan sendiri, dan lingkungan jalan sendiri. One Health jangan hanya berakhir pada slogan saja," pungkasnya.
Laporan : Wati
Editor : Lisa
Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini





