MEDIAINDONESIA.ASIA, JATENG - Keluarga besar Ali Munawar mengungkapkan bahwa sebelum ditemukan meninggal dunia di kawasan glamping Posong, Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, keluarga tersebut memang telah merencanakan liburan bersama saat momen Idul Adha 1447 Hijriah.
Ali Munawar bersama istri dan dua anaknya diketahui memilih kawasan wisata alam Posong karena tertarik dengan keindahan alam pegunungan di lokasi tersebut.
Kakak kandung Ali Munawar, Arkhanudin, mengatakan rencana perjalanan itu sudah disiapkan sejak Selasa, 26 Mei 2026. Menurutnya, tidak ada firasat apa pun sebelum keluarga itu berangkat berlibur.
"Jadi adik saya Pak Ali itu memang suka keindahan alam gunung dan melihat tumbuhan. Kebetulan habis nyerahkan hewan kurban di atas namakan ibu Ali Munawar, kemudian pergi ke Temanggung dan sudah niat menjalankan Shalat Ied Idul Adha di atas negeri khayangan," kata Arkhanudin saat ditemui di rumah duka Dusun Bendosari, Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jumat (29/5).
Dikenal Gemar Wisata Bersama Keluarga
Arkhanudin mengatakan adiknya memang memiliki kebiasaan bepergian bersama keluarga saat libur Iduladha usai menyerahkan hewan kurban kepada warga.
Meski tidak sempat memberi tahu tujuan pasti perjalanan mereka, Arkhanudin yakin keluarga Ali pergi dalam suasana bahagia.
"Tidak bilang ke mana, cuma mau pergi jalan-jalan. Tapi saya yakin adik saya bersama keluarga itu pergi hatinya dalam keadaan bahagia," ujarnya.
Ia mengaku sempat mencoba menghubungi Ali pada Selasa malam sekitar pukul 23.00 WIB, namun panggilan telepon tidak direspons. Keesokan paginya usai Salat Id, ia kembali mencoba menghubungi, tetapi tetap tidak ada jawaban.
"Saya coba telpon Pak Ali malam, nadanya berdering tapi tidak respons. Paginya jam 09.00 juga tidak respons, dugaannya malam sudah tidak ada," ujarnya.
Keluarga kemudian mendapat kabar dari Polres Temanggung bahwa Ali Munawar beserta keluarganya ditemukan meninggal dunia di area glamping Desa Tlahab, kawasan wisata Posong.
Menurut Arkhanudin, pihak kepolisian meminta izin untuk melakukan autopsi guna memastikan penyebab kematian.
"Sebetulnya saya anggap keluarga Pak Ali meninggal suatu musibah. Tapi pihak polisi meminta untuk autopsi dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian. Saya akhirnya mengizinkan dengan diautopsi anak yang umur 16 tahun," ujarnya.
Dari informasi yang diterima keluarga, polisi menduga korban meninggal akibat keracunan. Dugaan itu muncul setelah ditemukan kompor gas portabel, tabung gas, serta muntahan korban di dalam tenda.
"Informasinya memang meninggal karena keracunan, tapi ini antara keracunan CO gas atau keracunan makanan karena sianida, itu yang bisa kami sampaikan seperti informasi yang didapatkan," jelasnya.
Keluarga Tunggu Hasil Autopsi
Arkhanudin mengatakan Ali Munawar memang memiliki kebiasaan memasak barbeque bersama keluarga sebagai bentuk kebersamaan. Ali juga disebut memiliki kemampuan memasak barbeque karena pernah bekerja di Korea Selatan.
Meski keluarga berusaha tabah menerima musibah tersebut, mereka masih menunggu hasil pemeriksaan resmi dari rumah sakit terkait penyebab pasti kematian.
"Ya masih menunggu hasilnya, meski kami tabah dan ikhlas menerima kejadian ini sebagai musibah, tapi yang jelas penyebabnya apa, ini juga masih kami tunggu, apakah betul keracunan atau ada hal-hal lain yang menyebabkan satu keluarga ini meninggal dunia," tegasnya.
Ia juga memastikan seluruh barang berharga milik korban masih lengkap dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh para korban.
"Ponsel, kamera, perhiasan, dan mobil semua masih ada," ungkapnya.
Laporan : Wati
Editor : Lisa





