Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Tantangan Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baku di Era Digital

Minggu, 28 Desember 2025 | 2:00:00 PM WIB Last Updated 2026-01-07T08:45:13Z

 

Oleh Rosmiati

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam pola komunikasi masyarakat Indonesia. Kehadiran media sosial, aplikasi pesan instan, platform berbagi video, dan ruang diskusi daring menjadikan komunikasi berlangsung secara cepat, ringkas, dan masif. Setiap individu dapat menjadi produsen sekaligus konsumen informasi. Dalam konteks ini, Bahasa Indonesia menjadi alat utama komunikasi, namun penggunaannya sering kali tidak memperhatikan kaidah kebahasaan yang baku. Fenomena ini memunculkan tantangan serius bagi keberlangsungan penggunaan Bahasa Indonesia yang sesuai dengan struktur dan aturan yang telah ditetapkan.

 Menurut saya salah satu tantangan paling nyata adalah kecenderungan penggunaan bahasa tidak baku dalam komunikasi digital sehari-hari. Pengguna media sosial lebih memilih bentuk bahasa yang singkat dan praktis, seperti penggunaan singkatan, akronim tidak resmi, serta penghilangan unsur gramatikal tertentu. Kata berimbuhan sering disederhanakan tanpa memperhatikan konteks, misalnya penggunaan kata "nulis", "ngirim", atau "ambilin" dalam situasi yang seharusnya menuntut bahasa baku. Dari sudut pandang morfologi, hal ini menunjukkan pengabaian terhadap proses pembentukan kata yang benar dalam Bahasa Indonesia.

Selain masalah morfologi, tantangan juga muncul pada tataran sintaksis. Struktur kalimat dalam komunikasi digital sering kali tidak lengkap dan tidak efektif. Banyak kalimat yang tidak memiliki subjek atau predikat yang jelas, sehingga menimbulkan ambiguitas makna. Misalnya, dalam komentar media sosial sering ditemukan kalimat seperti "Udah dikirim" tanpa kejelasan subjek. Meskipun dapat dipahami secara kontekstual, pola kalimat seperti ini jika terus digunakan akan memengaruhi kebiasaan berbahasa, termasuk dalam penulisan akademik.

Pengaruh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi tantangan berikutnya yang tidak kalah penting. Era digital mempercepat arus globalisasi bahasa melalui konten internasional yang mudah diakses. Istilah-istilah asing seperti "meeting", "deadline", "feedback", dan "content" sering digunakan tanpa upaya mencari padanan bahasa Indonesia. Bahkan, dalam banyak kasus, istilah tersebut dipadukan dengan struktur kalimat Bahasa Indonesia secara tidak tepat. Fenomena campur kode ini jika tidak dikendalikan dapat mengikis kosakata baku Bahasa Indonesia dan melemahkan jati diri bahasa nasional.

Dari aspek semantik, penggunaan bahasa tidak baku dan campur kode juga berpotensi menimbulkan pergeseran makna. Kata-kata yang digunakan secara tidak tepat dapat mengalami penyempitan atau perluasan makna yang tidak sesuai dengan makna aslinya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi, terutama dalam konteks formal seperti pendidikan, pemerintahan, dan dunia kerja.

Meskipun demikian, era digital sejatinya juga membuka peluang besar bagi pengembangan dan pembinaan Bahasa Indonesia yang baku. Berbagai platform digital dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi kebahasaan. Konten berupa artikel, video pembelajaran, infografis, dan kelas daring tentang ejaan, tata kalimat, serta pilihan kata yang tepat dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Lembaga pendidikan dan pendidik memiliki peran strategis dalam memanfaatkan teknologi ini untuk menanamkan kesadaran berbahasa sejak dini.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar di ruang digital. Dalam konteks mata kuliah Struktur Bahasa Indonesia, mahasiswa diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tentang fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik dalam setiap bentuk komunikasi tertulis. Sikap konsisten dalam menggunakan bahasa baku tidak hanya mencerminkan kecakapan akademik, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap pelestarian bahasa nasional.

Pada akhirnya, tantangan penggunaan Bahasa Indonesia yang baku di era digital tidak dapat dihindari, tetapi dapat dikelola dengan kesadaran dan komitmen bersama. Diperlukan sinergi antara individu, lembaga pendidikan, dan pemerintah untuk terus mengampanyekan penggunaan bahasa yang sesuai kaidah. Dengan demikian, Bahasa Indonesia tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bahasa persatuan bangsa.

Penggunaan Bahasa Indonesia yang baku di era digital menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kebiasaan berbahasa tidak formal hingga pengaruh bahasa asing. Meskipun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi melalui peningkatan kesadaran dan pemahaman terhadap struktur Bahasa Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, Bahasa Indonesia yang baku tetap dapat dipertahankan dan dikembangkan di tengah arus digitalisasi.

Kreator : ROSMIATI

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini


TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update