Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

2 Siswa SD Terpapar Radikalisme: Berawal Game Online Lalu Gabung WA Diajarkan Cara Bunuh

Senin, 05 Januari 2026 | 11:52:00 PM WIB Last Updated 2026-01-05T15:52:41Z

 

KALTENG, MEDIAINDONESIA.asia - Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, mengungkapkan adanya temuan mengejutkan mengenai dua pelajar sekolah dasar (SD) di wilayahnya diduga terpapar ideologi kekerasan ekstrem. Kondisi itu terungkap setelah pihaknya menerima informasi dari Densus 88 Antiteror

Pola perekrutan dilakukan secara bertahap melalui melalui platform permainan daring yaitu Roblox. Setelah itu, para korban diarahkan masuk ke grup WhatsApp untuk menerima doktrin lanjutan.

"Di dalam grup WhatsApp itu diajarkan bagaimana cara membunuh, bagaimana membenci orang lain termasuk doktrin radikalisme agama,” katanya, Senin (5/1/2025).

Irawat mengimbau masyarakat dan orang tua untuk lebih waspada terhadap aktivitas digital anak-anak. Selain itu, faktor perundungan juga sering dimanfaatkan untuk memperkuat doktrin kebencian di kalangan anak-anak.

Dia meminta penanganan anak-anak yang diduga terpapar ideologi kekerasan ekstrem dilakukan secara persuasif. Penanganan tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan dini terhadap penyebaran paham ekstremisme di kalangan anak dan remaja. 

“Anak-anak itu sekarang dalam pengawasan PPA Polwan dan juga P2P3KB. Masih bisa dibina dan dikontrol,” ungkap Irawati.

Sementara itu, Widiya Kumala, selaku Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengatakan, meskipun platform digital telah memiliki sistem keamanan namun perlindungan terhadap anak masih jauh dari kata sempurna. 

Menurutnya platform seperti Roblox memang memiliki fitur verifikasi usia, kontrol orang tua, hingga pembatasan komunikasi. Namun, dalam realitanya prinsip Best Interest of the Child (Kepentingan Terbaik bagi Anak) belum sepenuhnya terpenuhi.

"Secara teknis, fondasinya sudah ada. Namun, risiko paparan konten berbahaya tetap mengintai karena sistem verifikasi dan moderasi konten masih bisa diakali," ujar Widiya.

Masalah Psikis Hingga Ancaman Ideologi

Wanita yang kerap disapa Yaya ini juga mengungkapkan, berbagai pola pelanggaran kerap ditemukan pada game berbasis interaksi sosial. Dampaknya tidak main-main, mulai dari masalah psikis hingga ancaman ideologi. 

Maka dari itu, ia mengingatkan para orang tua untuk membangun bonding dan komunikasi yang berkualitas kepada anak-anak serta mengubah paradigma bahwa game online tidak hanya sekedar hiburan.

"Jangan biarkan teknologi berjalan sendiri. Dengarkan cerita mereka, ajarkan sisi positif dan negatif dunia digital. Diam dan abai adalah bentuk kerentanan baru yang membahayakan masa depan anak-anak kita," pungkasnya.

Perlu diketahui, sebelumnya Densus 88 Antiteror Polri mencatat ada 68 anak yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem seperti Neo-Nazi dan white supremacy. Jumlah tersebut tersebar di 18 provinsi di Indonesia.

Laporan : Andi

Editor : Pramono

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini


TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update