Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Anak SD di Era Gawai: Antara YouTube dan Nilai Pancasila

Selasa, 20 Januari 2026 | 12:25:00 PM WIB Last Updated 2026-01-20T04:25:24Z

 

Oleh Idris

MEDIAINDONESIA.asia - Di era digital saat ini, dunia anak-anak mengalami perubahan yang sangat cepat dan signifikan. Jika dulu anak-anak Sekolah Dasar (SD) akrab dengan permainan tradisional, buku cerita, dan hafalan Pancasila di kelas, kini perhatian mereka banyak tersedot ke layar gawai. YouTube menjadi salah satu platform paling populer di kalangan anak-anak, menyajikan beragam konten hiburan yang menarik, instan, dan mudah diakses. Pertanyaannya kemudian muncul: di tengah gempuran konten digital tersebut, masihkah Pancasila “nge-hits” di kalangan anak SD, atau justru kalah pamor dibandingkan YouTube?

YouTube: Dunia Baru yang Sangat Menggoda

Tidak dapat dimungkiri, YouTube menawarkan daya tarik yang luar biasa bagi anak-anak. Video animasi, game, vlog anak-anak, hingga konten lucu dan musik anak tersedia tanpa batas. Anak SD tidak perlu berpikir keras untuk menikmati konten tersebut—cukup klik, tonton, dan terhibur. Algoritma YouTube bahkan secara otomatis merekomendasikan video yang sesuai dengan minat mereka, membuat anak betah berlama-lama di depan layar.

Bagi anak-anak, YouTube bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang belajar informal. Banyak konten edukatif seperti video berhitung, membaca, eksperimen sains sederhana, hingga cerita bergambar. Namun, masalah muncul ketika konsumsi konten tidak dibarengi pendampingan orang tua dan guru. Nilai-nilai yang diserap anak bisa jadi tidak selalu sejalan dengan budaya dan karakter bangsa Indonesia.

Pancasila: Nilai Luhur yang Terasa “Kuno”?

Di sisi lain, Pancasila sering kali dipersepsikan anak-anak sebagai sesuatu yang formal, hafalan, dan membosankan. Pengajaran Pancasila di sekolah masih kerap berfokus pada menghafal lima sila tanpa mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari anak. Akibatnya, Pancasila terasa jauh dari dunia mereka yang penuh warna, suara, dan visual menarik ala YouTube.

Padahal, nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, toleransi, keadilan, dan kemanusiaan sangat relevan untuk membentuk karakter anak sejak dini. Sayangnya, cara penyampaiannya sering kalah menarik dibandingkan konten digital. Pancasila tidak kalah penting, tetapi kalah “populer” karena kalah kemasan.

Benarkah Pancasila Kalah dari YouTube?

Jika popularitas diukur dari seberapa sering disebut dan diperhatikan anak, maka YouTube jelas lebih “nge-hits”. Namun, popularitas tidak selalu berarti pengaruh positif. YouTube adalah alat; dampaknya bergantung pada bagaimana ia digunakan. Pancasila, sebaliknya, adalah fondasi nilai yang membentuk cara berpikir dan bersikap anak dalam jangka panjang.

Masalah sesungguhnya bukanlah Pancasila versus YouTube, melainkan bagaimana Pancasila dapat hadir di dalam dunia YouTube itu sendiri. Anak-anak tidak hidup di dua dunia yang terpisah—dunia nilai dan dunia digital—melainkan di satu dunia yang saling terhubung.

Mengemas Pancasila agar Relevan dan Menarik

Agar Pancasila kembali “nge-hits” di kalangan anak SD, pendekatan pengajarannya perlu beradaptasi dengan zaman. Nilai-nilai Pancasila dapat dikemas dalam bentuk video animasi, cerita pendek, lagu anak, atau konten kreatif di YouTube yang ramah anak. Dengan demikian, anak tidak merasa sedang “diajar”, tetapi diajak menikmati dan meneladani.

Peran guru dan orang tua sangat krusial. Guru dapat mengaitkan sila-sila Pancasila dengan pengalaman sehari-hari anak, seperti berbagi dengan teman, menghormati perbedaan, atau bergiliran saat bermain. Orang tua pun perlu mendampingi anak saat menonton YouTube, sekaligus mengarahkan pada konten yang mengandung nilai positif.

Kesimpulan

YouTube memang lebih “nge-hits” di kalangan anak SD jika dilihat dari segi popularitas dan intensitas penggunaan. Namun, Pancasila tetap menjadi pondasi penting yang tidak tergantikan dalam pembentukan karakter anak bangsa. Alih-alih mempertentangkan keduanya, yang dibutuhkan adalah upaya kreatif untuk menjembatani Pancasila dengan dunia digital anak.

Jika nilai-nilai Pancasila mampu hadir secara menarik di platform yang digemari anak seperti YouTube, maka Pancasila tidak hanya akan “nge-hits”, tetapi juga hidup dan bermakna dalam keseharian mereka. Tantangannya ada pada kita semua: pendidik, orang tua, dan masyarakat, untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi berjalan seiring dengan penguatan karakter bangsa.

Kreator : IDRIS

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update