Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Asap Datang Saat Air Surut, Napas Warga Pontianak Tercekik

Rabu, 21 Januari 2026 | 9:20:00 AM WIB Last Updated 2026-01-21T01:20:50Z

MEDIAINDONESIA.asia, KALBARSelepas bencana banjir rob berlalu, kota kembali diuji. Bukan air asin merangsek rumah, melainkan asap tipis merambat pelan, lalu menebal. Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat seolah berganti wajah. Dari air rob menuju sesak napas. Perubahan cepat, tanpa jeda napas warga.

Marini, usia 26 tahun, tinggal di Kecamatan Pontianak Tenggara. Sudah sepekan keluhan terucap lirih. Tong tempayan kosong. Air hujan habis. Cuci pakaian bergilir dua hari sekali. Kini, bencana kabut asap datang bersamaan. Malam terasa berat. Udara menusuk dada. Debu halus masuk rumah.

“Parah ini. Air hujan habis. Kabut asap buat susah bernapas. Padahal dua minggu lalu banjir rob serta hujan,” tutur Marini kepada Media, Selasa (20/1/2026).

Keluhan itu bukan tunggal. Suara serupa bergaung lintas lorong. Kota padat penduduk ini merasakan dampak ganda. Krisis air bersih bersua kabut asap. Dua bencana bergantian, tanpa transisi.

Marini menambahkan beban lain. Kebutuhan air minum melonjak. Galon bertambah dua kali lipat. Dari enam menuju dua belas. Pilihan sempit. Air minum tak bisa ditunda.

“Pemerintah setempat cuma imbauan. Anak sakit batuk akibat kabut asap ini,” tuturnya kembali mengeluh.

Bencana kabut asap menjadi tamu lama. Datang saban tahun. Pola berulang. Bedanya, ekonomi warga kian rapuh. Biaya hidup naik, daya tahan turun. Asap terasa mahal.

Di Kecamatan Pontianak Barat, Surianila usia 32 tahun menghela napas panjang. Ucapan keluar berlapis emosi.



“Tahun ke tahun begini terus. Bedanya tahun ini kondisi ekonomi lebih parah. Kabut asap kayak Lebaran. Tiap tahun ada terus. Gak ada inovasi apa itu dari pemerintah setempat,” ucap perempuan mandiri yang bekerja serabutan itu.

Ungkapan Lebaran menyindir pahit. Bencana kabut asap hadir rutin, penuh kepastian. Tanpa undangan, tanpa solusi baru. Surianila bahkan harus berutang demi berobat anak.

“Ngutang saya berobat anak, gara-gara kabut asap ini,” ucapnya yang meminta pemerintah daerah maupun pusat memperhatikan bencana ini bukan cuma proyek belaka.

Kalimat sederhana, dampak besar. Karhutla bukan sekadar isu lingkungan. Ia menjelma krisis kesehatan, ekonomi, serta martabat hidup. Kota Pontianak, penduduk terbanyak Kalimantan Barat, menjadi panggung dampak paling kian terasa.

Kiriman Tanpa Filter

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak mencatat sebaran titik panas.

Kota Pontianak tercatat rendah. Fakta itu kerap diulang pejabat. Namun bagi warga, asap tetap hadir nyata. Masuk rumah, paru-paru, dompet.

Kebakaran lahan memang sempat muncul di Kecamatan Pontianak Tenggara serta Kecamatan Pontianak Selatan.

Api cepat dipadamkan. BPBD bergerak sigap. Respons lapangan patut dicatat. Namun asap tetap menggantung.

Artinya sederhana. Asap tak mengenal batas administrasi. Arah angin membawa sisa pembakaran dari daerah sekitar. Kota menerima kiriman tanpa filter.

Geografi Kota Pontianak berperan besar. Posisi rendah, lintasan angin, serta padat hunian memperparah dampak. Walau sumber api jauh, efek terasa dekat.

Kondisi ISPU Udara Kota Pontianak

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyampaikan klaim kesiapsiagaan. Pemantauan rutin disebut berjalan sejak awal musim kemarau.

“Petugas telah turun untuk monitoring dari sebelum karhutla. Saat muncul api, petugas sudah siap untuk memadamkan,” kata dia pada Selasa (20/1/2026).

Klaim itu disertai data indeks standar pencemaran udara (ISPU). Dinas Lingkungan Hidup mencatat kategori sedang. Angka tampak aman di atas kertas. Namun realitas lapangan berbeda rasa.

Kategori sedang tetap menyulitkan kelompok rentan. Anak anak batuk. Lansia sesak. Produktivitas menurun. Biaya kesehatan naik. Masker jadi kebutuhan harian. Imbauan kembali diulang.

“Sementara waktu gunakan masker. Jika memungkinkan juga untuk beraktivitas di dalam ruangan,” kata Edi Rusdi Kamtono mengimbau.

Kalimat normatif. Aman. Tanpa risiko politik. Namun warga bertanya pelan. Sampai kapan di dalam ruangan. Sampai kapan masker menjadi solusi utama.

Koordinasi lintas daerah disebut berlangsung. Upaya pencegahan diklaim berkelanjutan. Patroli lapangan, pemadaman cepat, pengawasan pascakejadian.

Semua terdengar rapi. Semua tercatat administratif. Namun inovasi terasa absen. Teknologi modifikasi cuaca tak terdengar. Bantuan air bersih tak masif. Skema perlindungan kesehatan warga minim sorotan.

Karhutla bukan kejutan tahunan. Ia pola lama. Maka respons seharusnya melampaui imbauan. Kebijakan perlu lompatan. Bukan sekadar kesiagaan simbolik.

Kota Pontianak Kalimantan Barat siaga Karhutla. Namun warga bertanya. Siaga bagi siapa. Siaga seperti apa. Siaga sampai kapan.

Di antara kabut asap, kota ini belajar kembali. Lingkungan rusak selalu menagih. Bukan lewat pidato. Melainkan lewat paru paru rakyat kecil, wong cilik iku.

Laporan : Titin

Editor : Lisa

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update