Notification

×

Iklan

Translate

Iklan

Translate

Trump: AS Ambil Alih Pengelolaan Venezuela Setelah Maduro Ditangkap

Minggu, 04 Januari 2026 | 12:30:00 PM WIB Last Updated 2026-01-04T04:30:00Z

 

WASHINGTON DC, MEDIAINDONESIA.asia - Presiden Donald Trump pada Sabtu (3/1/2026) mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) akan menjalankan Venezuela untuk jangka waktu yang tidak ditentukan setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

"Kami akan menjalankan negara itu sampai pada saat kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana," kata Trump dalam konferensi pers dari klub Mar-a-Lago miliknya di Florida, seperti dikutip dari laporan CNN. "Kami tidak ingin terlibat dengan memasukkan orang lain, lalu berakhir pada situasi yang sama seperti yang kami alami selama bertahun-tahun sebelumnya. Jadi kami akan menjalankan negara itu."

Trump menambahkan bahwa ia memutuskan AS harus mengambil alih kendali Venezuela untuk memastikan bahwa pemimpin berikutnya benar-benar memiliki kepentingan rakyat Venezuela dalam pikirannya. Namun, ia tidak memberikan jadwal waktu mengenai berapa lama proses transisi kekuasaan tersebut akan berlangsung.

"Kami akan tetap tinggal sampai pada saat transisi yang tepat dapat berlangsung," ujarnya.

Selain itu, Trump mengatakan bahwa ia berencana memberi wewenang kepada perusahaan-perusahaan minyak AS untuk mengambil alih infrastruktur energi Venezuela. Ia menyatakan perusahaan-perusahaan itu akan menghabiskan miliaran dolar untuk proyek tersebut.

"Kami akan melibatkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar—yang terbesar di mana pun di dunia—untuk masuk ke sana, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, yaitu infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu," tutur Trump. 

Lampu Dipadamkan Saat Penangkapan Maduro

Trump memuji pihak-pihak yang terlibat dalam operasi penangkapan Maduro dan menyebutnya sebagai keberhasilan yang tidak dapat dicapai negara lain.

"Tidak ada negara di dunia yang dapat mencapai apa yang dicapai AS kemarin, atau sejujurnya, dalam waktu yang sangat singkat, seluruh kapasitas militer Venezuela dibuat tidak berdaya ketika para pria dan perempuan dari militer kami, yang bekerja bersama kami dan aparat penegak hukum, berhasil menangkap Maduro di tengah malam," kata Trump dalam sebuah konferensi pers.

Ia menyinggung kondisi gelap di ibu kota Venezuela saat operasi berlangsung.

"Keadaannya gelap, lampu-lampu Caracas sebagian besar dimatikan karena keahlian tertentu yang kami miliki," ujar Trump.

"Itu gelap dan mematikan."

Trump mengaku bahwa tidak ada personel militer AS yang tewas dan tidak ada peralatan militer AS yang hilang dalam operasi penangkapan Maduro.

Trump menggambarkannya sangat efektif dan mengatakan operasi itu melibatkan aset militer AS dalam jumlah besar.

"Jika Anda melihat apa yang saya lihat tadi malam, Anda akan sangat terkesan. Saya tidak yakin Anda akan pernah bisa melihatnya, tetapi itu adalah sesuatu yang luar biasa untuk disaksikan—tidak satu pun anggota militer AS tewas dan tidak satu pun peralatan AS hilang," ungkap Trump.

Operasi tersebut, sebut Trump, melibatkan berbagai unsur militer.

"Kami memiliki banyak helikopter, banyak pesawat, banyak sekali orang yang terlibat," tutur dia.

Bersiap untuk Serangan Kedua

Trump menjelaskan pula bahwa AS sebenarnya siap melancarkan serangan kedua ke Venezuela apabila diperlukan. Namun, ia menyatakan langkah tersebut kemungkinan tidak lagi dibutuhkan setelah militer AS berhasil menangkap Presiden Maduro dan istrinya.

"Kami siap melakukan gelombang kedua jika memang diperlukan — kami bahkan sebenarnya mengasumsikan bahwa gelombang kedua akan dibutuhkan, tetapi sekarang kemungkinan besar tidak," sebut Trump.

Ia mengatakan bahwa serangan awal berjalan sangat berhasil.

"Gelombang pertama ... sangat sukses, sehingga kami mungkin tidak perlu melakukan gelombang kedua, tetapi kami siap untuk melakukan gelombang kedua, bahkan gelombang yang jauh lebih besar," ujarnya.

Trump kembali menegaskan bahwa operasi yang dilakukan pada Sabtu dini hari itu merupakan operasi yang sangat presisi. Operasi tersebut melibatkan pasukan elite AS, Delta Force, yang disebut menarik Maduro dan istrinya keluar dari kamar tidur mereka.

Laporan : Nasir

Editor : Riska

Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA setiap bertugas selalu dilengkapi dengan KTA dan SURAT TUGAS, Jika ada yang mengaku Wartawan MEDIA INDONESIA ASIA tanpa di lengkapi dengan KTA Pers dan SURAT TUGAS segera Laporkan  Ke Pihak Berwajib atau langsung hubungi Redaksi Klik di sini

TRANDING MIA INDONESIA

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update